Selasa, 28 September 2021 | 11:53
TRAVELLING

Stand Up Paddle Board dalam Pariwisata

Stand Up Paddle Board dalam Pariwisata
Stand Up Paddle Board di Bungus Padang, Sumatra Barat (Dok Askara)

ASKARA - Sekelompok pendaki yang tinggal di Jakarta dari berbagai komunitas, sebagian dari Elpala, Korpala, hingga Mapala UI. Karena pembatasan terkait pandemi Covid-19, mereka beralih pada kegiatan dayung-mendayung dengan SUP (Stand Up Paddle) Board untuk mengurangi berkerumun dalam berolahraga. Dari gunung pindah ke pantai dan lautan. 

Selain para pendaki di atas, Komunitas Perempuan Menari juga tidak mau ketinggalan untuk ikut mendayung sambil bernyanyi. Banyak lagu-lagu nasional, lagu pemilu juga lagu senam SKJ zaman dulu, mereka nyanyikan di atas board yang dinaiki. Seru juga kalau bertemu mereka di air nanti. 

Stand Up Paddle diinisiasi pertengahan tahun 2015 di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Kabarnya berawal dari belajar sebuah olahraga baru bersama para Surfer. Setelah mulai terbiasa sembari menikmati dan menjelajahi pantai dan laut Indonesia, akhirnya pada tanggal 21 November 2015 didirikanlah Stand Up Paddle Indonesia dan menjadi sebuah Komunitas bernama SUP.ID.

Sudah zamannya semua virtual, challange (tantangan) juga virtual. Tantangan terbuka untuk beberapa olahraga, mulai dari bersepeda, lari, yang sudah lebih dulu ada. Stand Up Paddle juga membuatnya. 

Challenge atau tantangan dengan tenggat waktu, sesekali memang dibutuhkan, dengan begitu seseorang akan berusaha memampatkan kemampuan, juga keahlian, berjuang untuk menyelesaikan dan menjadi yang terbaik di antara teman. Tetap dengan jiwa sportif penuh kegembiraan. 

Kebebasan memilih jarak tempuh yang ditawarkan, bisa dikumpulkan secara kumulatif dalam sebulan. Melalui progress dilaporkan secara mandiri pada website yang telah ditentukan fengan lampiran bukti maps dan selembar foto saat kegiatan. 

Pendaftaran memang berbayar untuk mengikutinya, tidak terlalu mahal juga. Biasanya antara seratus hingga dua ratus ribu rupiah, peserta terdaftar bisa mendapatkan selembar sertifikat juga medali di akhir sesi, tentunya bila bisa menyelesaikan sebelum batas waktu yang telah ditentukan. 

Secara logika, uang yang dibayarkan adalah sebagai pengganti pembelian lembar berlogo dan medali itu sendiri, apakah ini tantangan yang sia-sia atau tidak berarti? 

Tentu tidak, bila kita bisa melihat dari sudut yang lebih luas, ada banyak manfaat. Pertama, untuk pribadi menjadi suatu motivasi seseorang untuk berolahraga secara rutin tanpa disengaja dengan berusaha menyelesaikan panjang kilometer yang telah dipilihnya, selain itu memberikan penghargaan pada diri sendiri atas pencapaian yang dilakukan. Kedua memperkenalkan keindahan Indonesia kepada dunia sebagai bagian pariwisata. 

Indonesia, sebagai negara yang memiliki laut terbesar kedua di dunia, kekayaan alamnya luar biasa dan tak ternilai harganya. Melestarikan adalah kewajiban seluruh warganya, agar menjadi asset modal pariwisata. 

Banyak cara untuk berbuat kebaikan  bagi negeri yang indah dan kaya ini, dengan mengembangkan olahraga menjadi suatu prestasi, maka asset yang kita miliki menjadi lebih berarti, dan duniapun akan mengetahui. Sembari berolahraga turut memperkenalkan keindahan pantai dan lautan yang aman lewat olahraga air ini. 

Hutan, gunung, pantai, laut, karst, gua, semua ada di negeri tercinta kita ini. Semoga kita bisa menjaganya sepenuh hati, lestarilah bumi pertiwi untuk anak cucu nanti. 

Komentar