Perketat Penjagaan Perbatasan RI-PNG, Lantamal X Jayapura Libatkan 3 KRI
ASKARA - Perbatasan antara Republik Indonesia (RI) dengan Papua Nugini (PNG) marak dengan aktivitas ilegal. Mulai dari melintas tanpa dokumen maupun penyelundupan.
Komandan Lantamal X Jayapura, Laksamana Pertama TNI Yeheskiel Katiandagho mengatakan, merujuk Tugas Pokok TNI yakni UU TNI No 34/2004 pihaknya melakukan pengamanan di wilayah perbatasan dalam hal ini RI-PNG.
Yeheskiel mengatakan, pihaknya juga menggelar pos pengamanan yang dilenglapi dengan alutsista, baik dari sisi Patroli Keamanan Laut (Patkamla) maupun lainnya.
Para pelintas batas negara itu, kata Yeheskiel, sangat pintar dalam melakukan tindakan kejahatan.
"Maka kami melakukan penjagaan, kami melakukan patroli di laut. Kita bersinergi juga dengan wilayah yang ada di darat maupun yang ada di udara, jadi kita saling memberikan informasi," kata Yeheskiel, dalam wawancara dengan RRI dikutip, Minggu (11/4).
Dijelaskan, selain TNI AL, juga dilakukan pantauan udara yang dilakukan TNI AU yang dinamakan Patroli Udara Maritim.
"Jadi ada unsur pesawat yang digelar armada 3, kemudian melakukan patroli maritim di atas bersama dengan unsur udara dari TNI AU," katanya.
Yeheskiel mengungkapkan, pintu perbatasan RI-PNG telah ditutup sejak Januari 2020 lalu lantaran pandemi Covid-19, sehingga pemerintah kedua negara saling menghargai terkait penanganan Covid-19.
"Nah, kami trimatra yang ada di sini, baik TNI AD, AL dan AU masing-masing diberi tanggung jawab dalam percepatan penanganan Covid-19 dan masing-masing juga ditunjuk sebagai komandan satuan tugas, baik yang ada di darat, di laut maupun di udara," jelasnya.
Yeheskiel mengakui banyak jalan tikus yang dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab dari kedua negara. Sementara, pemantauan di laut kadang menemui kendala lantaran luasnya.
"Kebetulan laut ini kan Samudra Pasifik, begitu luas medan terbuka dan memanfaatkan keadaan geografi, keadaan cuaca yang kurang baik justru mereka (penyelundup,red) berani juga," terang dia.
Sehingga, mengacu kepada letak geografis itu, penjagaan dan pengamanan tidak hanya dilakukan pihak Imigrasi melainkan juga TNI AL.
"Kami yang berada di lapangan juga melakukan penjagaan, sehingga kita bersinergi dengan semua stakeholder yang ada di sini," ucapnya.
Yeheskiel menjelaskan, para pelintas batas ilegal banyak yang melakukan tindakan kejahatan berupa penyelundupan, baik komoditi maupun narkoba.
"Ini yang sering terjadi, penyelundupan komoditi yaitu pinang karena Papua banyak mengonsumsi Pinang dan menjadi idola. Tidak hanya itu, narkoba dalam bentuk ganja dari negara sebelah ini katanya enak, kita perangi juga itu," jelas dia.
Dengan demikian, tambah Yeheskiel, pihaknya bersama stakeholder intensif melakukan patroli dengan melibatkan Kapal Republik Indonesia (KRI).
"Kemarin kami sudah kedatangan KRI Tarakan mereka juga melakukan patroli selain KRI yang kami miliki. Kami punya 3 KRI, yakni KRI Matabongsang, KRI Albacora dengan KRI Tabihu. Kami memanfaatkan itu, sekaligus kami juga patroli dengan Patkamla dan lainnya," ungkapnya.
Sementara, pelintas batas atau penyelundup yang tertangkap diproses sesuai hukum yang berlaku.
"Kalau manusia kita serahkan ke Imigrasi, kemudian barangnya kita serahkan kepada Bea Cukai maupun Balai Karantina. Tidak cukup itu juga manusianya ini kita serahkan kepada Imigrasi dan diberikan edukasi," tandasnya.

Komentar