Kamis, 22 April 2021 | 03:47
COMMUNITY

Temuan Baru dari Jejak Denisovan di Asia Tenggara

Temuan Baru dari Jejak Denisovan di Asia Tenggara
Replika tengkorak Homo Erectus dari Jawa. (Ikons/Trustees of Natural History Museum)

ASKARA - Dalam menelusuri perkawinan silang antara manusia modern dengan manusia purba yang telah ditemukan catatan fosilnya, para peneliti akhirnya menemukan jejak DNA dari Denisovan pada sebagian masyarakat di Asia Tenggara.

Manusia purba di Asia Tenggara yang telah diketahui melalui catatan fosil adalah Homo Erectus (Pulau Jawa), Homo Floresiensis (dikenal sebagai hobbit di Pulau Flores) dan Homo Luzonensis (ditemukan di Filipina). Berdasarkan analisis genetik yang komprehensif, para peneliti tidak menemukan perkawinan silang antara manusia modern dengan ketiga manusia purba tersebut.

Pengamatan dilakukan dengan memeriksa genom lebih dari 400 manusia modern saat ini. Dengan berfokus pada pendeteksian dari sidik jari yang menunjukkan perkawinan silang dari ketiga spesies yang telah diketahui dan manusia modern yang tiba di kepulauan Asia Tenggara sekitar 50-60 ribu tahun yang lalu.

Asia Tenggara merupakan salah satu wilayah dengan catatan fosil terkaya (setidaknya dari 1,6 juta tahun) yang mendokumentasikan evolusi manusia di dunia. Homo floresiensis dan Homo luzonensis diketahui bertahan sampai sekitar 50-60 ribu tahun yang lalu. Sementara Homo erectus bertahan sampai sekitar 108 ribu tahun yang lalu. Dari rentetan waktu tersebut, ada kemungkinan terjadi pertemuan dengan kedatangan populasi manusia modern.

Penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal Nature Ecology and Evolution. Hasil penelitian tidak menunjukkan bukti kawin silang. Namun demikian, tim tersebut dapat mengkonfirmasi hasil sebelumnya yang menunjukkan tingkat keturunan Denisovan yang tinggi di wilayah tersebut.

"Berbeda dengan sepupu kita yang lain, Neanderthal, yang memiliki catatan fosil yang luas di Eropa, Denisovan hanya diketahui dari catatan DNA. Satu-satunya Bukti fisik keberadaan Denisovan adalah tulang jari dan beberapa fragmen lain yang ditemukan di sebuah gua di Siberia dan, baru-baru ini, sepotong rahang yang ditemukan di Dataran Tinggi Tibet," kata penulis utama Dr. João Teixeira dari ARC Research Associate University of Adelaide.

"Kami tahu dari catatan genetik kami sendiri bahwa Denisovan tercampur dengan manusia modern yang keluar dari Afrika 50-60 ribu tahun lalu baik di Asia, dan saat manusia modern berpindah melalui kepulauan Asia Tenggara dalam perjalanan menuju Australia," jelasnya.

Tingkat DNA Denisovan dalam populasi kontemporer menunjukkan bahwa perkawinan silang yang signifikan antara manusia modern yang datang dari Afrika dan Denisovan terjadi di pulau Asia Tenggara.

"Misteri itu kemudian tetap ada, mengapa kita tidak menemukan fosil mereka bersama dengan manusia purba lainnya di kawasan itu? Apakah kita perlu memeriksa kembali catatan fosil yang telah ada untuk mempertimbangkan kemungkinan lain?" kata Dr. João Teixeira. 

"Sementara fosil yang telah diketahui dari Homo erectus, Homo Floresiensis dan Homo Luzonensis mungkin tampak berada di tempat dan waktu yang tepat untuk mewakili Denisovan selatan yang misterius, nenek moyang mereka adalah kemungkinan besar berada di Pulau Asia Tenggara setidaknya 700 ribu tahun yang lalu," kata rekan penulis Chris Stringer dari Natural History Museum di London.

"Artinya garis keturunan mereka terlalu kuno untuk mewakili Denisovan yang, dari DNA mereka, lebih dekat hubungannya dengan Neanderthal dan manusia modern. Penelitian ini juga menjelaskan pola kelangsungan hidup ‘megafaunal’ yang bertepatan dengan wilayah pendudukan manusia pramodern yang diketahui di bagian dunia ini. Hewan besar yang bertahan hari ini di wilayah tersebut termasuk komodo dragon, babirusa, tamaraw dan anoa," papar rekan penulis Prof. Kris Helgen, Kepala Ilmuwan dan Direktur Lembaga Penelitian Museum Australia.

"Ini mengisyaratkan bahwa paparan jangka panjang terhadap tekanan perburuan oleh manusia purba mungkin telah memfasilitasi kelangsungan hidup spesies megafauna dalam kontak berikutnya dengan manusia modern. Berbagai wilayah yang tidak terdokumentasi dihuni sebelum manusia modern, seperti Australia dan New Guinea, mengalami kepunahan total hewan daratan yang lebih besar dari manusia, selama 50 ribu tahun terakhir. Penelitian ini menguatkan penelitian sebelumnya bahwa Denisovan berada di pulau Asia Tenggara, dan bahwa manusia modern tidak kawin silang dengan kelompok manusia yang lebih berbeda di wilayah tersebut," kata Dr. Teixeira.

"Ini membuka dua kemungkinan yang sama menarik: salah satu penemuan besar akan terjadi atau kita perlu mengevaluasi kembali berbagai catatan fosil di pulau Asia Tenggara saat ini," tutup Dr. Teixeira, seperti dikutip Ikons.

Komentar