Selasa, 02 Maret 2021 | 11:01
TRAVELLING

Terpantau CCTV, Debit Air Danau Segara Gunung Rinjani Meningkat

Terpantau CCTV, Debit Air Danau Segara Gunung Rinjani Meningkat
Danau Segara Anak (Dok Instagram)

ASKARA - Penggunaan teknologi memberikan keuntungan dan kemudahan setiap kegiatan yang dilakukan. Salah satunya yaitu penggunaan teknologi Camera Closed-Circuit Television (CCTV) di kawasan Gunung Rinjani. 

Pemasangan CCTV di berbagai titik di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani itu, dapat memperlihatkan secara langsung (realtime) situasi dan kondisi yang ada di dalam kawasan. 

Balai Taman Nasional Gunung Rinjani menyiapkan CCTV untuk memonitor sekitar 70 persen area yang masuk tujuh gunung tertinggi di Indonesia. Sehingga pengawasan terhadap pengunjung bisa dilakukan dengan mudah.

Patroli secara virtual menggunakan CCTV juga lebih mudah dilakukan sebagai media untuk memantau pendakian ilegal di TN Gunung Rinjani di masa penutupan jalur pendakian.

Berdasar pantauan CCTV di titik pendakian Danau Segara Anak, terpantau terjadi peningkatan debit aliran air terjun yang berasal dari luapan air Danau Segara Anak di Rinjani dibandingkan dengan debit air terjun sebelumnya yang terekam pada minggu lalu.

"Meningkatnya luapan permukaan air danau Segara Anak disebabkan oleh tingginya curah hujan di kawasan TN Gunung Rinjani," tulis akun Instagram @Gunungrinjani_nationalpark.

Sementara, pendakian Gunung Rinjani ditutup sejak 1 Januari 2021. Penutupan dilakukan selama tiga bulan dengan pertimbangan kondisi cuaca.

"Mari tetap patuhi aturan yang ada, sampai saat ini destinasi wisata pendakian di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani masih ditutup hingga bulan Maret 2021," tuturnya. 

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Dedy Asriady mengatakan, waktu pendakian mempertimbangkan perkembangan cuaca yang dirilis BMKG. Diketahui Desember hingga tiga bulan pertama di 2021, terjadi fenomena La Nina mengakibatkan curah hujan cukup tinggi.

“Untuk keselamatan pendaki juga. Sampai Maret (2021), memang tidak direkomendasikan untuk mendaki,” jelas Dedy Asriady beberapa waktu lalu. 

Maka itu, ketika kondisi cuaca diperkirakan memburuk, Balai TNGR memutuskan untuk menutup pendakian. Penutupan dilakukan di empat pintu pendakian Gunung Rinjani. Sembalun dan Timbanuh di Lombok Timur; Senaru di Lombok Utara; dan Aik Berik di Lombok Tengah.

Penutupan pendakian terhitung dari 1 Januari 2021 hingga 31 Maret. Kata Dedy, pendaki yang menaiki Gunung Rinjani diperbolehkan hingga 31 Desember. Namun, harus turun paling lama 2 Januari 2021. “Wajib untuk cek out di tanggal tersebut. Tidak boleh melebihi,” tegasnya.

Penutupan pendakian yang dilakukan Balai TNGR diharapkan bisa memulihkan ekosistem. Terutama yang berada di jalur pendakian. 

Selain itu, memberikan kesempatan untuk petugas mengecek kondisi jalur. “Jadi kalau ada yang rusak bisa kita benahi,” tandasnya.

Komentar