Selasa, 19 Januari 2021 | 14:50
TRAVELLING

Merasakan Sensasi Spiritual di Gunung Padang

Merasakan Sensasi Spiritual di Gunung Padang
Merasakan energi spiritual Gunung Padang (Askara)

ASKARA - Situs megalitikum Gunung Padang, di Cianjur Jawa Barat menyimpan sejuta misteri. Misteri itu muncul sebagai konsekuensi logis akibat minimnya penelitian yang dapat menjawab pertanyaan seputar Gunung Padang.

Misteri seputar Gunung Padang dimulai dari namanya. Nama Gunung Padang itu memiliki aneka arti dan makna, mulai dari cerita Istana Raja Siliwangi yang tak jadi dibangun dalam semalam, hingga disebut sebagai ibu peradaban. Padang sendiri artinya siang atau terang.

Pada umumnya, orang yang telah mencapai puncak punden berundak Gunung Padang dan berdoa di teras kelima akan merasakan sensasi yang luar biasa. Pikiran menjadi cerah, badan menjadi sehat dan segar, hingga terbukanya jalan terang bagi usaha serta pekerjaan.

"Saya yang semula sering sakit-sakitan menjadi sehat. Dan alhamdulillah ada jalan terang bagi usaha yang sedang kami rintis," ungkap Lily Rose, Minggu (29/11).

Sementara itu praktisi spiritual asal Solo, Bimo Nugrahanto mendapat penglihatan ketika melakukan meditasi di teras kelima. Dia mengaku melihat dua harimau, salah satunya berwarna putih, ular naga dan burung buraq. Selain itu dia juga mendapat petunjuk untuk salat di musala dekat punden tersebut.

"Sebelumnya saya cuci kaki dan membasuh muka dari sumber mata air yang ada di kaki tangga utama," kata Bimo Nugrahanto.

Gunung Padang yang berusia antara tiga ribu hingga empat belas ribu tahun sebelum Masehi terdiri dari lima teras. Teras pertama ibarat orang yang masuk ke dalam rumah besar dan berada di ruang tunggu atau tempat transit para tamu di bagian depan.

Di teras pertama terdapat dua batu andesit ukuran sekitar 1,5 meter yang dapat mengeluarkan sejumlah nada tertentu bila diketuk dengan jari tangan dan ditepuk dengan telapak tangan. Suara tepukan pada batu akan terdengar memantul.

Langkah selanjutnya menuju ke teras kedua, dimana tampak dua pohon besar yang dibatasi tali agar para pengunjung melepas alas kaki ketika melewatinya. Biasanya para pelaku spiritual bermeditasi di bawah pohon ini.

"Bila ingin bermeditasi di bawah pohon besar ini, sebaiknya di atas jam 12 malam, karena di bawah jam 12 malam masih banyak CO2 yang dihasilkan oleh pohon besar ini sehingga dapat membuat halusinasi," jelas kepala juru pelihara Nanang Sukmana.

Di teras ketiga, terdapat Batu Maung dengan cap tangan, tumit dan tongkatnya Prabu Siliwangi yang dahulu diyakini duduk di situ dan menghadap ke arah timur menyongsong matahari terbit ketika melakukan tirakat spiritual. 

Menurut Nanang Sukmana arti kata Maung sendiri adalah singkatan dari manusia unggul.

Di teras keempat terdapat satu buah batu yang dikelilingi batu lainnya. Batu ini bila di pegang bagian atasnya terasa sangat dingin bila dibandingkan sisi sekelilingnya. Dahulu batu ini sering diangkat-angkat para wisatawan karena dipercaya bila berhasil mengangkat maka doanya akan dikabulkan, sehingga disebut batu gendong atau Batu Eyang Balung Tunggal.

Memasuki teras kelima terdapat belasan batu andesit yang tersusun rapih seperti tempat untuk berbaring sehingga dapat menyaksikan terangnya bintang di malam hari. Warga sekitar Gunung Padang mempercayai tempat itu adalah singgasana Prabu Siliwangi.

Sementara itu, menurut pengamat spiritual asal Jakarta, Yoga Hartantoro, bangunan punden berundak Gunung padang ini memang terbuat dari batu andesit yang bentuk dan ukurannya hampir sama. Batu ini sengaja disusun oleh manusia, dan jika dilihat dengan mata batin maka pintu masuk ke dalam ruangan di bawah situs ini terletak di sisi teras keempat.

Pada masa pemerintahan SBY, Gunung Padang sempat diteliti oleh Tim Terpadu Riset Mandiri Gunung Padang, dan Presiden SBY pun telah mengunjungi situs ini. Namun hingga pemerintahan Jokowi tidak ada upaya ekskavasi lanjutan untuk mengungkap misteri yang terkandung di dalam punden berundak ini.

Komentar