Kamis, 04 Juni 2026 | 07:11
NEWS

Anies Baswedan Minta Camat dan Lurah Tahu Volume Air Hujan

Anies Baswedan Minta Camat dan Lurah Tahu Volume Air Hujan
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan (Humas Pemprov DKI)

ASKARA - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bahu-membahu melakukan upaya bersama menanggulangi masalah banjir yang sudah mengkhawatirkan tersebut. Terlebih kerap terjadi ketika hujan dengan intensitas tinggi.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengumpulkan seluruh camat dan lurah di wilayah kota Administrasi Jakarta Selatan untuk mencegah banjir. Mereka diminta mengetahui seberapa banyak volume air hujan dengan alat ukur.

Sehingga dapat menjadi peringatan dini potensi terjadinya banjir. Alat ukur curah hujan atau ombrometer harus tersedia setiap kelurahannya. Untuk mengetahui volume air hujan yang turun.

"Air hujan yang bisa ditampung di drainase kita yaitu 150 mm, kalau di atas 150 mm maka banjir. Seperti gelas, gelas itu daya tampungnya 200 mm tapi kalau dituangi satu liter, itu tumpah," kata Anies, Kamis (22/10).

Secara teknis, alat ukur curah hujan itu bekerja apabila hujan turun. Air hujan akan mengisi bejana yang terdapat dalam ombrometer. Satuan yang digunakan ialah milimeter (mm), dengan ketelitian pembacaan sampai 0,1 mm.

Melalui alat ukur itu diharapkan dapat menjadi tolak ukur volume air hujan dengan intensitas tinggi. Sehingga dapat segera dilakukan antisipasi dengan tepat. "Supaya tahu betul volume air hujan yang turun, sehingga bisa memprediksi," terangnya. 

Upaya itu menjadi langkah kongkret bagi para lurah dan camat, untuk mengetahui permasalahan yang terjadi di wilayahnya masing-masing, terutama soal banjir.

"Kalau curah hujan di atas 150 mm sudah sangat lebat, sudah ekstrem, jadi saya ingin kita sama-sama kampanyekan tentang ambang batas ini," tandasnya.  

Mengingat fenomena La Nina yang terjadi pada periode awal musim hujan, berpotensi meningkatkan jumlah curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. 

Kondisi tersebut dapat memicu terjadinya bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang dan tanah longsor.

Sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo menyampaikan, paling penting dalam mitigasi adalah mitigasi nonstruktural. Seperti menekankan aspek perilaku dalam menjaga lingkungan.

“Kalau kita sudah mempersiapkan diri dengan memperhatikan masalah perilaku, menjaga lingkungan dan juga mengantisipasi dengan kesiapsiagaan. Ini akan bisa mengurangi risiko,” imbuh Doni.

Maka dengan menjaga alam, masyarakat dapat menghindari risiko terjadinya korban jiwa. Menurutnya, BNPB telah melihat adanya upaya positif yang dilakukan oleh banyak pimpinan di daerah.

Komentar