Jumat, 30 Oktober 2020 | 15:20
COMMUNITY

Kisah Horor di Gunung Ciremai, Bertemu Balita dan Pohon Hitam Tinggi

Kisah Horor di Gunung Ciremai, Bertemu Balita dan Pohon Hitam Tinggi
Ilustrasi. (Antara)

ASKARA - Aktivitas di alam terbuka seperti mendaki gunung kian digemari kawula muda. Tidak heran bila gunung menjadi salah satu tempat pilihan favorit untuk liburan bersama. 

Namun ada beberapa hal yang harus disiapkan ketika berencana melakukan pendakian. Selain peralatan yang dibutuhkan, Fisik dan mental juga penting. Serta menjaga sikap dan perkataan. 

Para pendaki asal Jakarta yang juga merupakan santri melakukan pendakian ke Gunung Ciremai pada akhir 2016 lalu. Mereka mendaki sebanyak enam orang pada hari biasa melalui jalur Linggarjati. 

Salah satu pendaki bernama Iyar (23) menceritakan keputusan teman-temannya mendaki gunung dengan ketinggian 3078 meter di atas permukaan laut itu dengan maksud menghabiskan waktu liburnya.

"Bulan Desember mau liburan pesantren. Kita sudah ada rencana dan dari tahun 2016 suka naik gunung. Akhirnya ke Ciremai diputusin," cerita Iyar dalam channel Youtube Gritte Agatha yang dikutip Jumat (25/9).

Sebelum menuju basecamp, beberapa kejadian tak terduga menimpa mereka. Dari menabrak anak ayam hingga terhadang hujan deras. Namun niat mendaki Ciremai tidak berubah sehingga perjalanan pun dilanjut. 

"Aku jalan ke Ciremai tanggal 13 Desember, hari Rabu. Kita tidak izin orang tua dan kyai. Di hari itu tidak ada yang naik kecuali kita," tutur Iyar. 

Mereka berangkat dari basecamp pukul 09.00 WIB. Jalan masih landai dan mereka masih menikmatinya. Hal aneh tidak terjadi selama di Pos 1 dan 2. Setelah di Pos 3 mendengarkan lagu koplo dengan volume suara yang kencang. Sikap mereka pun sudah tidak terkontrol. 

"Tiga orang temanku ini asyik-asyikan joget. Di Pos 3 mereka masabodo tapi di basecamp kami diingetin menjaga ucapan. Jadi kami saling ingetin," kata Iyar. 

Menuju pos berikutnya hari menunjukkan masih siang. Akhirnya mereka tiba di Pos 6 dengan cuaca mulai gerimis dan berkabut. Dalam kondisi ini mereka berpikir untuk segera mendirikan tenda. 

"Kita dari Pos 6 mau ke Pos 7 itu tanjakan Bapa Tere dua jam. Tapi selama kita jalan enggak nemuin Pos Bapa Tere, padahal kita jalan selalu ikutin tanda," ucap Iyar. 

Mereka akhirnya memutuskan turun kembali setelah terkuras energi dan waktu menuju Pos 7 yang tak kunjung ketemu. Kendati demikian mereka masih berpikir positif. 

"Awalnya gue nggak tahu diputer-puterin. Kita buka tenda di Pos 6. Malammya dengar suara jalan tanpa pakai sepatu," kata Iyar. 

Esok paginya salah satu teman dikejutkan karena melihat sampah yang mereka bawa berserakan dan hampir dekat dengan jurang. Mereka berpikir itu merupakan ulah binatang. 

Tak mau berlama-lama mereka langsung bergegas turun, dan setibanya di warung sebelum basecamp Iyar menceritakan hal itu kepada penjaga warung. 

Mereka merasa ada yang ganjil ketika di Pos 6 menuju Pos 7. Kemudian penjaga warung itu langsung bertanya apakah merasa diganggu saat di jalan. 

"Iya merasa diputer-puterin. Dia lihat pohon hitam tinggi tapi nggak ada daunnya, kayak pohon setelah tersambar petir," jawab salah satu teman Iyar. 

"Tapi dia bilangnya kita jalannya beda-beda cuma entah kenapa ketemu lagi dengan pohon hitam itu," tambahnya. 

Penjaga warung melanjutkan pertanyaan apakah di antara mereka ada yang melihat makhluk gaib. 

"Ada gak di jalur dilihatin balita naik ke pohon? kemudian teman kita ngaku saat di Pos 3 omongnya slengean. Si bapaknya bilang 'kalian cuci muka, basuh muka pakai tanah yang ada di situ'," tutup Iyar.   

Komentar