Jumat, 30 Oktober 2020 | 14:11
TRAVELLING

Sosok Gaib Penganggu di Gunung

Sosok Gaib Penganggu di Gunung
Dok: Wariani Krisnayanni

ASKARA - Beberapa orang memberikan pengakuan dan menceritakan pengalamannya dalam media sosial, baik pada tulisan blog, facebook, instagram bahkan di muat media online bahwa telah mendengar suara-suara mengerikan bahkan suara gamelan atau melihat sosok gaib hingga dikerjain (diganggu) di pegunungan.

Tidak dipungkiri, ada orang-orang yang sejak lahir punya talenta indera keenam (Indigo), atau ada juga yang memang tertarik dan belajar saat remaja atau dewasa.

Pengakuan dari beberapa Indigo, hidup mereka sesungguhnya tersiksa. Karena dengan tiba-tiba mendadak melihat sosok berlumuran darah, gantung diri, atau badan tanpa kepala dan semua yang mengerikan. Bila belum terbiasa akan ketakutan, berkali-kali bisa pingsan dan serasa diri sakit jiwa.

Seperti dalam film The Six Sense, banyak dikutip "I see dead people", film yang di release pada Agustus 1999, diperankan oleh seorang anak kecil Holey Joes Osment yang selalu ketakutan hingga sembunyi di kolong tempat tidur, maupun dalam tenda, akhirnya dibantu seorang psikolog yang diperankan Bruce Willis, dan baru dikuak di akhir cerita, yang ternyata sosok hantu juga. Produksi M. Night Shyamalan yang luar biasa bikin greget. Indigopun perlu belajar menyadari kelebihannya dan bagaimana cara mengatasinya.

Menurut beberapa paranormal, sesungguhnya makhluk gaib yang menampakkan diri itu butuh usaha ekstra, termasuk para pembelajar yang ingin melihatnya. Jadi tidak semudah itu mereka muncul begitu saja.

Lalu apa kira-kira yang menjadi pemicu bagi pendaki yang tidak memiliki talenta atau bukan indigo, tapi akhirnya melihat sosok gaib atau diganggu di gunung?

Lokasi foto ini, bagi yang memiliki indra keenam, melihat banyak sekali makhluk gaib dengan jenis bermacam-macam yang menakutkan (karena saat foto ini diunggah, banyak yang berkomentar demikian), bagi yang tidak bisa melihat seperti saya, ya santai saja bagai pohon unik, besar indah dan bagai jembatan biasa.

Sebetulnya kita bisa juga belajar lebih peka, meski tidak tahu dan tidak bisa melihat langsung, pasti ada tanda-tanda sekecil apapun. Seperti pada pohon besar itu, saat mendekat tiba-tiba ada bau wangi melati. Atau ada rasa merinding, itu berarti waktunya segera pergi, mungkin mereka ingin memberitahukan keberadaannya.

Selain itu bila diruntut dari pengalaman orang dalam pengakuannya, yaitu berawal dari semena-mena bicara dengan keangkuhan, niat awal pendakian sudah sok-sokan walau itu bicara dalam hati, bisa juga candaan dalam perjalanan yang kebablasan, atau saat di gunung sembarangan buang air kecil maupun besar.

Tentang beberapa cerita kesurupan/kerasukan (kemasukan sosok gaib), penjelasan ilmiah yang belakangan ini, lebih banyak berawal dari "hipotermia", musibah pembawa kematian di gunung. Terjadi perubahan suhu badan dari kedinginan hingga kegerahan, berperilaku aneh dan melepas baju yang selama ini lebih kita kenali dan menganggap kejadian seperti itu sebagai kesurupan/kerasukan sosok gaib. Bila di simpulkan, banyak sekali penyebabnya, dan belum tentu sosok gaib itu terjadi seperti yang dipikirkan.

Bila Hipotermia termasuk pemicu utama, maka sebaiknya pendaki yang sudah merasa kedinginan, segera lakukan antisipasi sesuai anjuran yang sudah sering di gaungkan. Segera ganti baju bila basah, bikin minuman hangat dan manis, pakai jaket, kalau perlu berhenti dan segera pasang tenda, istirahat masuk sleeping bag. Tidak perlu menunda dan merasa kuat.

Ada kemungkinan besar lainnya adalah karena kelelahan, lapar, haus dehidrasi tinggi yang tidak disadari, hingga menjadi halusinasi. Dehidrasi juga sangat berbahaya, karena merusak jaringan otak. Pikiran jadi kacau, bicara meracau. Ada juga karena takut yang berlebihan, membangkitkan delusi pribadi. 

Selain hal-hal di atas, sebaiknya kenali suara-suara di hutan pegunungan juga, agar tidak mudah berpikir tentang sosok gaib. Nyatanya suara musang, persis mirip dengan suara kuntilanak dalam film-film yang beredar. Suara anak kijang juga demikian, mirip dengan suara perempuan menangis di kejauhan. Banyak juga suara jenis burung dan kera serasa menakutkan. Bahkan suara angin kencang, terdengar bagaikan desahan mengerikan.

Gunung sebetulnya bukan tempat menakutkan, asalkan kita mau belajar dan tahu aturan. Bekali diri dengan pengetahuan dasar juga survival, persiapkan peralatan,  perlengkapan dan logistik dengan benar, latihan fisik. Persiapkan diri sebaik-baiknya. 

Sesungguhnya gunung adalah tempat belajar tiap orang, dan guru terhebat untuk kehidupan. Mestinya aman dan nyaman.

Untuk mengurangi resiko, bisa baca tulisan orang atau dengar pengalaman teman, agar tahu titik-titik mana yang rawan, baik untuk tempat camp, keberadaan binatang buas, titik sumber air isi ulang, ataupun sosok gaib yang sering menganggu. Ya mereka bisa macam kita, ada juga yang jahil. Semua pengetahuan itu buat bekal agar kita bisa lebih hati-hati dan tidak terjadi sesuatu yang buruk.

Kembali pada sosok gaib di gunung, sebetulnya sosok gaib itu berada dimana-mana bukan hanya di hutan dan pegunungan. Dekat sekali dengan kehidupan kita, bahkan tiap saat bisa jadi dia ikut duduk bersama.

Selama kita berlaku sopan maka harusnya mereka juga tidak akan terganggu dan marah. Layaknya kita bertamu ke rumah orang, sopan santun harus diutamakan, kalau kita seenaknya maka wajar kalau dia tidak suka lalu marah dan menganggu supaya kita tidak nyaman dan segera pulang. Diusir itu juga wajar.

Bagi para indigo yang sudah diberi kelebihan sejak kecil, mungkin bisa membantu memberikan pengetahuan atau penjelasan kepada yang lain, apa sebetulnya yang terjadi, kenapa mereka bisa menganggu dan jangan menakut-nakuti. Semua yang terjadi adalah akibat, pasti ada sebab sebelumnya kan.

Cukup kita tahu bahwa mereka memang ada dan itu tidak bisa dipungkiri, tapi tidak untuk menakuti dan ditakuti. Karena dia memang hidup bersama kita, pada alam yang berbeda.

Jangan suka menakuti diri sendiri juga, misal padahal penakut tapi suka lihat film horor, akhirnya mau ke kamar kecil aja minta diantar. Hidup jadi dibayang-bayangi rasa takut yang dibuat sendiri. Akhirnya kemanapun jadi penakut.

Bersikap sopan dan santun, saling menghormati berlaku di manapun dan untuk semua makhluk tanpa terkecuali, termasuk yang tidak terlihat. Mari belajar sopan, belajar lebih peka, dan jangan lupa berdoa, niscaya dimanapun kita berada, akan dilindungi dan terselamatkan. 

Sekadar catatan, terdapat perbedaan antara halusinasi dan delusi. Halusinasi merupakan hal yang dirasakan namun tak nyata. Sedangkan delusi adalah kepercayaan seseorang terhadap hal yang tak nyata atau benar.

Komentar