Sabtu, 08 Agustus 2020 | 18:04
OPINI

Tuhan Dengarlah Jerit Tangisku

Tuhan Dengarlah Jerit Tangisku
Ilustrasi

Pada saat pandemi corona ini banyak sekali questions yang dikirimkan kepada Om Han. Why me God? Kenapa saya harus menanggung derita sekarang ini? Derita ini datang secara berkesinambungan seperti juga cerita silat dari Kho Ping Hoo tiada tamatnya. Bahkan satu seri barusan saja tamat sudah disambung oleh seri berikutnya - heiiiiyah.

Apakah Tuhan sudah tidak mau mendengar lagi jeritan tangisku? Namun seperti biasa no reply dari Sorga. Jawaban yang paling simple adalah dimana kita menjawabnya sendiri dengan nalar, karena dunia ini bukanlah sorga. Jadi wajarlah apabila di dunia ini banyak sekali penderitaan. Bahkan kebanyakan doa yang kita panjat pun tidak digubris oleh Dia! Maklum kalau di dunia ini kita bisa hepi terus, mengapa kita ingin mudik ke Sorga? Bahkan kapling Sorganya pun bisa ora payu.

Pertama definisi penderitaan itu apa? Pada dasarnya segala sesuatu yang menyakitkan dan mengganggu ketenangan kita. Mulai dari rasa gatel di gigit nyamuk sampai kanker stadium akhir. Mulai dari ditinggal pacar sampai dikhianati oleh orang yang kita kasihi.

Begitu juga kehilangan materi, pekerjaan maupun harapan sehingga menimbulkan rasa sakit, sedih, kekecewaan, kecemasan maupun rasa takut. Pada umumnya kita cuek bebek terhadap penderitaan orang lain, selama ini tidak menyangkut diri maupun keluarga kita sendiri.

Kita baru menjerit melolong rasa sakit, apabila penderitaan tersebut datang menerpa diri atau keluarga kita. Oleh sebab itulah Tuhan mendatangkan penderitaan kepada kita, agar kita ingat terhadap sesama manusia yang sedang menderita. Terlebih lagi agar kita ingat dan mau lebih dekat lagi dengan Tuhan.

Tidak bisa dipungkiri, manusia akan lebih rajin nungging berdoa sampai doanya tidak pernah diputus oleh kata Amin, apabila mereka sedang menderita. Namun pada saat kita senang, jangankan butuh dan ingat sama Tuhan, sama bini dan anak di rumah saja sudah lupa. Yang diingat hanya WIL atau PIL melulu.

Maka, Tuhan menginginkan melalui penderitaan ini kita sadar, bahwa tanpa Dia kita ini tidak lebih bernilai daripada cacing atau semut. Terlebih lagi dalam penderitaan kita mulai berpaling; dari apa yang kita punya kepada Tuhan yang punya. Dalam kesenangan kita akan membanggakan diri dengan kepintaran, harta maupun kekuasaan kepunyaan kita. Tanpa mau menyadari bahwa itu semuanya adalah kepunyaan Tuhan yang diberikan sekedar pinjaman saja kepada kita untuk sesaat lamanya.

Maklum kita datang ke dunia ini dalam keadaan telanjang; maka saat pulang mudik pun telanjang lagi. Jangankan harta duniawi, kepandaian maupun bakat yang kita miliki pada saat sekarang inipun pada suatu saat akan hilang diambil kembali oleh-Nya. Dimana kita akan menjadi pikun ataupun parkinson. Orangtua kita menyekolahkan anaknya susah-susah dengan segala macam pengorbanan, karena mereka mengasihi kita dan mengharapkan anaknya pada suatu saat bisa menyandang gelar S1.

Begitu juga dengan Tuhan kita, Ia menerima kita apa adanya. Namun disisi lain Dia tidak ingin membiarkan kita tetap bodoh terus-menerus. Sebab itulah Dia memberikan test atau ujian kepada kita berupa penderitaan. Untuk test ini Dia telah repot-repot menyediakan buku pelajaran berupa Alkitab. Hanya sayangnya kitab tersebut tidak pernah atau jarang dibaca. Bahkan hanya dijadikan penggebuk kecoa atau pengganjel pintu atau lemari saja.

Agar kita bisa lulus dari test, Dia telah menyediakan dosen-dosen kondang yang mau memberikan pelajaran secara lisan di rumah ibadahnya masing-masing. Namun, sayangnya kita mau membayar uang kuliah saja ragu; apalagi mau mendengarkan. Namun akhirnya kita meraung apabila kita tidak lulus test tersebut, sambil bertanya: “Why me God?”

Walaupun demikian, Tuhan juga tahu akan kemampuan kita, Ia tidak akan memberikan soal yang sulit-sulit yang diluar kemampuan kita. Seperti juga Dia tidak akan memberikan soal algoritma kepada anak-anak TK.

Tidak percaya! tanya saja pada diri sendiri, berapa banyak penderitaan, kesusahan yang telah kita lewati selama hidup kita ini? Pada saat kita sedang di test baca menderita, kita mengeluh berat pisan. Namun setelah ini lewat dan kita meninjau kembali ke belakang, apakah masih bisa kita menilai bahwa test tersebut berat dan diluar kemampuan kita? Saya yakin tidak!

Hampir dalam setiap soal selalu ada pertanyaan: “Apakah kita lebih mencintai output (3TA) pemberian dari Allah daripada Sang Pemberinya?” Abraham telah lulus test dimana ia bersedia mengorbankan puteranya !

Namun bagaimana dengan anda dan saya, pada saat kita kehilangan kesehatan, pekerjaan, harta ataupun orang-orang yang kita kasihi? Kita ngambek bahkan mau mendemo Tuhan, karena kita lebih mengasihi “pemberian-Nya” daripada “Sang Pemberi”.

Bagaimana menurut pendapat Anda? Maturnuwun sanget berkah dalem.

Mang Ucup

Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar