Minggu, 14 Agustus 2022 | 05:08
TRAVELLING

Banjir Darah di Balik Keindahan Koloseum Roma

Banjir Darah di Balik Keindahan Koloseum Roma
Koloseum Roma. (Dok. Pastor Martin Selitubun)

ASKARA - Setelah menjelajah ke Foro Romano, Pastor Martin Selitubun menyempatkan untuk menelaah Koloseum di Kota Roma, Italia. 

Bangunan yang indah ini merupakan bekas arena gladiator yang dirancang untuk menampung sebanyak 50 ribu penonton.

Pastor Martin merekam suasana Koloseum dan dengan semangat menjelaskan secara detail sejarahnya.

Dia mengatakan, Koloseum menjadi salah satu landmark yang sangat dibanggakan masyarakat Italia. Di sisi lain, bangunan megah ini memiliki kisah kelam dengan pernah terjadi pertumpahan darah.

Pastor Martin terlebih dahulu mengunjungi Lugus Magnus yang merupakan tempat latihan gladiator sebelum masuk arena pertandingan di Flavian Amphitheatre sebagai nama asli Koloseum yang menjadi salah satu dari 69 keajaiban abad pertengahan.

Koloseum yang berbentuk melingkar berada tepat di tengah Kota Roma dan hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari lokasi tempat tinggal Pastor Martin.

"Koloseum dibangun pada pemerintahan Vespasian pada tahun 72 Masehi dan diselesaikan oleh anaknya bertama Titus pada tahun 80 Masehi. Koloseum didirikan berdekatan dengan sebuah istana megah pada zamannya yang dibangun oleh Kaisar Nero, istana itu bernama Domus Aurea," jelas Pastor Martin dalam tayangan situs Youtube berjudul Mengunjungi Colosseom di Roma yang diunggah pada Senin (29/6).

Pastor Martin menceritakan, menurut ahli sejarah, saat 100 hari pertama peresmian terdapat 9000 hewan buas yang mati terbunuh dalam rangkaian pembukaan Koloseum.

"Di Koloseum ini banyak terdapat banyak orang dahulu dikorbankan di sini. Bukan saja gladiator tetapi juga binatang, manusia, orang yang melawan pemerintah pasti masuk dalam Koloseum ini dan bertanding dengan hewan buas," ujarnya.

Pada masa lalu, Paus menobatkan Koloseum sebagai salah satu situs suci lantaran di tempat ini banyak orang Kristen yang dikorbankan dan meninggal.

"Pada zaman dahulu sebelum kekaisaran mengakui agama Kristen sebagai agama resmi pemerintahan Romawi maka orang-orang yang memeluk agama Kristen kalau ditangkap masuknya ke sini lalu diadu dengan hewan," jelas Pastor Martin.

Koloseum memiliki tinggi sekitar 48 meter yang pada zamannya menjadi bangunan termegah dan termewah dengan balutan batu marmer. Seiring perjalanan waktu karena adanya perang, gempa bumi dan lain-lain, marmer kemudian dicopot dan dipasang kembali di beberapa tempat sekitaran Koloseum, salah satunya Basilika Santo Petrus.

Selain itu, tempat duduk di Koloseum dibagi menjadi tingkatan yang berbeda berdasarkan status sosial di dalam Kekaisaran Romawi seperti halnya untuk kaisar dan keluarganya, ada juga untuk para senator Roma dan bangsawan serta untuk masyarakat umum yaitu orang kaya dan rakyat jelata.

"Uniknya di bawah gedung ini terdapat hypogeum yaitu dua tingkatan terowongan bawah tanah baik digunakan sebagai gudang senjata maupun sebagai kurungan sebagai gladiator maupun binatang buas," kata Pastor Martin. 

Keberadaaan Koloseum sendiri terus dipertahankan dengan diperbaiki yakni pada 238 Masehi. Ajang gladiator masih berlanjut sampai umat Kristen secara berangsur-angsur menghentikan permainan itu karena dianggap terlalu banyak memakan korban jiwa. 

Tercatat terjadi empat kali gempa yang menyebabkan kerusakan pada Koloseum. Koloseum juga pernah digunakan sebagai tempat menyimpan hewan hingga dijadikan pasar. Sebuah gereja pernah dibangun di areanya serta menjadi lokasi tambang pada 1749 sampai kemudian Paus Benedictus ke-14 melarang aktivitas pertambangan. 

Di sekitaran Koloseum terdapat Jalan Kudus yang hingga saat ini masih digunakan untuk prosesi Jumat Agung dan selalu dipimpin oleh Paus. 

Pastor Martin menambahkan, sempat terjadi pro kontra akibat perkembangan kota seperti pembangunan jalur subway yang lokasinya berdekatan dengan Koloseum.

"Jadi Paus Benedictus pada tahun 1750 meresmikan tempat ini sebagai salah satu tempat doa yang terkenal," jelas pastor Keuskupan Agats, Papua yang tengah menempuh pendidikan di Roma tersebut.  

Komentar