Obat Dewa Anti Corona
Hingga saat ini belum ditemukan obat corona yang benar-benar tokcer tulen! Kok bisa-bisanya Mang Ucup memberikan harapan hoax. Ini namanya dosa lho! Perlu diketahui bahwa orang yang jarang minum obat adalah orang yang sehat. Ini bukan sekedar bicara saja, melainkan sudah terbuktikan di dalam diri pribadi saya sendiri.
Entah kenapa saya itu pantang minum obat dan hal ini sudah saya lakukan sejak 25 tahun tahun yang lampau. Walaupun demikian secara bertahun-tahun hampir tidak pernah sakit dan tensi darah selalu berkisar 120/80 mmHg. Kebugaran saya pun sudah terbuktikan sehingga bisa dinobatkan sebagai juara rock n roll tertua dalam usia 76 tahun.
Masalahnya obat itu bagi saya haram, karena mengandung racun (efek sampingan). Tabib Sun Ssu-mo (Su Simiao) yang hidup di tahun 590-692 adalah Rajanya Obat Herbal (King Herbal) yang telah mendapatkan julukan sebagai Dewa Obat.
Ia adalah orang pertama yang mengetahui tentang efek sampingannya dari obat-obatan. Bahkan ia menganjurkan hanya minum air putih saja sudah cukup. Oleh sebab itulah ia menganjurkan: "Langkah pertama dalam pengobatan harus dicari di dalam makanan dahulu. Apabila makanan tidak mampu menyembuhkan, baru minta bantuan tabib untuk menuliskan resep obat".
Ia adalah seorang ahli nutrisi pertama yang menulis buku tentang diet (Qian Yin Fang). Masalahnya percuma saja anda makan obat juga, selainnya bisa meracuni tubuh anda, khasiatnya pun masih harus diragukan alias maybe.
Renungkan sendiri apakah anda mau dijadikan tikus percobaan untuk obat corona? Disamping itu apakah anda tahu bahwa lebih dari 30 persen obat-obatan dipasaran itu palsu, walaupun anda beli di apotik sekalipun ini tidak menjamin mutu. Obat-obatan palsu ini tidak memiliki unsur yang dapat menyembuhkan penyakit, bahkan seringkali mengandung racun.
Kebanyakan obat palsu datangnya dari China dan India. Berdasarkan keterangan dari WHO minimum 5.000 pabrik obat-obatan dan lebih dari 12.000 perusahaan distribusi, sehingga tidak mungkin bisa dipantau semuanya.
Harga dari obat-obatan palsu ini terkadang hanya sepertiga daripada yang asli. Hal ini sangat menggiurkan bagi para pemilik toko obat maupun apotik. Kita pakai pakaian ataupun sepatu bermerek kloningan ini tidak jadi masalah, sebab tidak akan mempengaruhi kesehatan anda, beda kalau anda makan obat palsu. anda bisa mati !
Apalagi pemilik toko obat/apotik kelas teri, pabrik farmasi asing sekaliber kelas dunia sekalipun masih tetap saja tamak dan rakus. Mereka juga menghalalkan segala macam cara, walaupun ribuan orang akan terkapar seperti tikus percobaan sekalipun, mereka tidak perduli. Hal ini dilakukan oleh para produsen pabrik farmasi kelas raksasa seperti Boehringer dari Inglheim Jerman maupun - Bayer Leverkusen.
Misalnya obat penyembuh nyeri perut Buscopan (produk Boehringer) yang sudah dilarang beredar sejak tahun 1970 di Jerman. Kenyataannya masih tetap saja di edarkan dan dijual di Indonesia. Bahkan dianjurkan oleh para Dr Internis sebagai obat yang manjur. Obat beracun ini mengandung Dipyrone yang sudah dilarang beredar sejak puluhan tahun di Eropa.
Apakah jiwanya wong Indo itu jiwa obralan yang jauh lebih murah nilainya daripada jiwa bule ? Begitu juga dengan Tonikum Bayer inipun dilarang di Jerman, karena antara lain mengandung lebih dari 10 persen alkohol. Meminum setiap harinya satu sendok makan ini sama seperti juga minum satu sloki minuman keras. Namun karena ketidak ketahuan dari saudara Muslim kita, sehingga Tonikum Bayer itu masih tetap saja laris terjual dan dikonsumsi di Indonesia.
Apa yang saya tulis di atas ini berdasarkan berita dari situs resmi pemerintah Jerman, Siaran Deutsche Welle, bukan asal bicara saja. Jadi keabsahannya pun bisa terjamin!
https://www.dw.com/…/sampah-obat-obatan-jerman-ba…/a-2935233Memang tidak bisa dipungkiri entah Anda minum obat palsu ataupun asli ini bisa membuat Anda jadi sembuh, terutama karena adanya efek plasebo atau sugesti. Misalnya obat Viagra yang membuat pria jadi perkasa, kenyataannya lebih dari 80 persen yang beredar di Indonesia itu palsu semuanya. Mereka bayar mahal, namun yang mereka dapatkan tidak beda jauh dengan beli permen Mentos. Namun karena adanya efek plasebo inilah sehingga hasilnya tetap tokcer dan greng tulen.
/p>
Masalahnya di Indonesia itu sangat mudah sekali untuk bisa mendapatkan ijin dan mengedarkan obat baru. Sebagai test cukup obat pembanding yang dilihat hasilnya berdasarkan plasebo efek saja. Oleh sebab itulah menurut pandangan saya daripada beli obat corona mahal-mahal yang belum bisa dipastikan akan kemanjurannya, bahkan bisa-bisa racun.
Lebih baik hanya minum air putih saja seperti yg dianjurkan oleh sang Dewa Obat; sambil berdoa kepada Allah mohon kesembuhannya. Plasebo efek dan sugesti akan bisa kita dapatkan secara langsung dari iman dan kepercayaan kita kepada Allah! Pakai obat belum tentu sembuh, karena keberhasilan dari obatnya pun masih dipertanyakan, belum lagi risiko efek sampingannya. Namun yang sudah pasti mahal dan anda hanya akan dijadikan tikus percobaan saja ! Apakah itu yang diinginkan oleh anda ?Salam Sehat.
Mang Ucup
Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar