Sabtu, 29 Agustus 2026 | 10:04
OPINI

The Power Of Ojo Dumeh

The Power Of Ojo Dumeh
Ilustrasi Ojo Dumeh

Mang Ucup sudah menulis filsafat Barat The Power of Love, ataupun Wu Wei filsafat Tiongkok. Namun di sisi lain saya belum pernah menulis mengenai The Power of Ojo Dumeh atau Filsafat Jawa. Walaupun saya menyadari sepenuhnya bahwa pengetahuan saya mengenai filsafat Jawa sangat cetek sekali, karena abdi mah urang Sunda jadi mohon maaf, kalau banyak kesalahannya.

Pada saat pademi corona ini; pesan yang paling cocok untuk disampaikan kepada para petinggi sekarang ini ialah falsafah “Ojoh Dumeh” sebagai nilai etis. Ojo Dumeh adalah falsafah lama yang berasal dari bahasa Jawa yang memiliki arti: “Ojo”= jangan, dan “Dumeh”= mentang-mentang.

Misalnya Ojo Dumeh Kuwasa (jangan mentang-mentang berkuasa), sehingga ingin menarik keuntungan semaksimal mungkin bagi dompet sendiri dengan cara membuat berbagai macam peraturan baru yang menyengsarakan rakyat.

Rakyat yang sudah miskin kok tega-teganya mau lebih dimiskinkan lagi. Dimana rasa hati nurani maupun rasa belas kasihan mereka? Sosok pemimpin yang sejatinya dirindukan rakyat adalah mereka yang bisa seperti padi.

Padi itu makin tua, makin merunduk. Makin berkuasa seseorang idealnya makin merendah dan bijaksana dan melihat keadaan bawahannya. Maka siapapun yang sedang punya kuasa dan kesaktian harap Ojo Dumeh. Jangan mentang-mentang punya kuasa lantas digunakan untuk mematikan yang lain (lamun sira sekti, aja mateni).

Ungkapan ini pulalah yang diungkapkan oleh Pakde Jokowi terhadap para PNS. Namun sayangnya kebanyakan para pejabatnya budeg bin torek. Bahkan saat sekarang inilah dimana kekuasaan yg mereka miliki; semakin digeber all out dengan membuat berbagai macam peraturan baru dengan prinsip aji mumpung. Maklum tidak lama lagi masa corona akan habis, jadi harus segera pintar bikin peraturan-peraturan baru lagi untuk memeras rakyatnya.

Seharusnya mereka itu sadar Ojo Dumeh ! Pada saat rakyat sedang menderita para pejabat bukannya turut prihatin dengan cara Ojo Dumeh. Bahkan hal kebalikannya yang mereka lakukan dgn pamer beli tas Hermes yang nilainya miliaran Rupiah.

Seharusnya mereka memberikan teladan dengan cara Ojo Dumeh Sugih (jangan mentang-mentang kaya). The Power of Ojo Dumeh dimana kita bisa belajar bukan hanya sekedar untuk merendahkan diri saja, bahkan membantu rakyat yang sedang tertindas bahkan kelaparan.

Misalnya: Cobalah buatkan peraturan-peraturan baru yang bisa membantu maupun meringankan beban rakyat. The Power of Ojo Dumeh akan mendorong kita untuk semakin memanusiakan manusia (dalam istilah Jawa disebut nguwongake).

Ojo Dumeh tidak akan mengerdilkan diri sendiri; bahkan akan membuat kita menjadi besar karena berjiwa besar. Pada saat pandemi corona ini seharusnya kita melakukan Ojo Dumeh dengan mempraktisikan Tapa Brata (Durung wenanga memuja lamun durung tapa brata), yang terdiri dari lima perilaku yakni:

1. mengurangi makan dan minum (anerima); 2. mengurangi keinginan hati (eling); 3. mengurangi nafsu birahi (tata susila); 4. mengurangi nafsu amarah (sabar); 5. mengurangi berkata – kata atau bercakap-cakap yang sia-sia (sumarah).

Maklum puncaknya dari semua filsafat Jawa adalah pengetahuan mengenai kesatuan yang disebut dengan persatuan manusia dan Tuhan (manunggaling kawula Ian Gusti) hal ini bisa diraih dengan cara antara lain Ojo Dumeh.

Mohon petromak maupun koreksiannya. Maturnuwun sanget berkah dalem Gusti.

Mang Ucup

Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar