Sabtu, 29 Agustus 2026 | 11:45
OPINI

Siapa Biang Keladi Corona Itu?

Siapa Biang Keladi Corona Itu?
Ilustrasi corona

Biang keladi dari segala penyakit itu sudah jelas God, karena pada saat kita jatuh sakit yang pertama kita tuduh adalah God, dimana kita mengajukan pertanyaan Why Me God?

Kalau ini tidak mempan baru kita lontarkan tuduhan ini kepada si Setan, kasihan sekali sebab si Setan ini selalu saja dijadikan kambing hitam! Selain si Setan kita masih bisa menyalahkan China, Trump bahkan PKI, jadi ada multiple choice.

Penyakit itu adalah sesuatu hal yang paling tidak diinginkan oleh manusia. Setiap orang pasti pernah mengalami sakit, tidak peduli siapa dia, atau apa status maupun kedudukannya.

Entah ia itu raja ataupun gembel. Sakit itu sudah dari sana, bawaan sejak lahir, karena setiap manusia yang dilahirkan di bumi ini sudah ditakdirkan untuk sakit dan mati. Apalagi pada saat pandemi corona ini, entah di manapun juga, entah siapapun juga dan entah kapanpun juga bisa terpapar corona!

Bonus sakit ini diberikan oleh Tuhan tanpa kita harus memohonnya. Tanya: Apakah ini bisa dikategorikan sebagai anugerah Allah? Pada saat kita sakit, baru kita menyadari, bahwa harta atau anugerah yang paling berharga di dunia ini adalah kesehatan.

Apabila seseorang menderita sakit berat, pertama timbul dipikiran; apakah sakit yang diberikan oleh Tuhan ini merupakan hukuman akibat dari dosa-dosa saya Berdasarkan hukum tabur tuai atau hukum karma. Saya yakin tidak !

Kita percaya bahwa apabila kita sudah diselamatkan berarti argo-dosa saya sudah di reset jadi nol walaupun dosanya hitam seperti arang sekalipun; akhirnya akan menjadi putih bersih seperti salju tanpa noda alias klin so tulen.

Kalau kita percaya akan hal ini berarti tidak ada alasan lagi bagi Tuhan untuk menghukum saya dengan bonus penyakit. Bahkan kebalikannya apabila anda menuding bahwa penyakit itu sebagai hukuman dari dosa, berarti anda melecehkan Tuhan.

Masa sih sudah ditebus habis dosanya oleh Tuhan dan klinso tulen masih saja dihukum, apakah itu tidak kebangetan ! Kalau kenyataannya orang berdosa akan dihukum dengan penyakit, kenapa para koruptor yang dosanya berjibun bisa hidup sehat dan umur panjang?

Apakah kalau orang sakit itu berarti orang berdosa, sedangkan orang sehat adalah orang yang tidak berdosa? Tidak ! Jika tidak percaya baca sekali-sekali Alkitab, jangan hanya dijadikan untuk ganjalan lemari saja !

Ayub yang harus menggaruk-garuk kulitnya hingga menimbulkan luka. Duri di dalam tubuh Paulus yang tidak bisa dicabut atau Timotius harus minum anggur secara teratur sebagai obat agar penyakit pencernaannya reda.

Pada saat kita jatuh sakit, kita bukan saja memvonis diri sendiri dengan perasaan guilty feeling atau rasa berdosa sehingga saya jatuh sakit. Bahkan banyak pula orang yang mengadili Tuhan, kok tega-teganya sih Tuhan melimpahkan penyakit kepada saya.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa kebanyakan penyakit berdasarkan hukum tabur-tuai alias akibat dari perilaku gaya hidup kita sendiri. Misalnya apabila anda perokok berat sehingga akhirnya kena penyakit kanker, ini jelas bukan karena dosa, melainkan karena tidak mengikuti anjuran yang tercantum di bungkus rokok agar tidak merokok.

Makan seenaknya tidak menghiraukan kesehatan, makan banyak lemak/kolestrol, gula dan tidak pernah melakukan olahraga ini bukannya karena dosa, melainkan karena perilaku gaya hidup sendiri!

Saya kira jarang ada orang yang bisa mengucapkan: "Thank God for pain!" (Terima kasih Allah atas rasa sakit ini!). Apabila sakit ini merupakan anugerah dari Allah, maka ini akan merupakan anugerah yang paling tidak disenangi maupun disyukuri. The most unppreciated and unwanted gift!

Memang sakit itu tidak enak, tetapi apabila anda ingin hidup; maka anda harus sakit, sebab itu sudah merupakan pasangannya dari kenikmatan hidup yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. Seperti Yin dan Yang.

Banyak orang tidak menyadari, bahwa penyakit itu sebenarnya demi kebaikan diri kita sendiri. Sebab penyakit ini merupakan warning keras agar kita mau merubah cara pola hidup kita. Misalnya mengurangi makanan lemak, gula maupun berhenti merokok dan melakukan olahraga. Tanpa adanya warning ini saya yakin kebanyakan orang tidak akan mau merubah pola gaya hidupnya.

Memang ada beberapa penyakit yang sudah ditakdirkan dari sana. Misalnya anak dilahirkan bisu, buta, cacat atau adanya gen penyakit keturunan seperti bludruk tinggi, kanker payudara, prostat maupun penyakit jantung. Apakah ini akibat dari dosa sendiri ataukah akibat dari dosa orang tuanya? Tidak, saya nilai ini sebagai kesalahan dari pabrik atau production failure.

Dengan mudahnya kita menghakimi orang lain, bahkan menghakimi diri sendiri: ”Tuh, gara-gara ia begini dan begitu sehingga akhirnya jadi sakit!” Yesus sendiri bersabda: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia, karena adanya kesalahan produksi. Mohon maaf nanti akan dirombak dahulu SOP nya.

Ingat! Tuhan mengijinkan kita sakit, tetapi kebalikannya Ia juga akan memberikan kesembuhan kepada kita, karena Tuhan itu Maha Pengasih! Namun bagaimana kalau mati? Anggap saja nasibnya lagi naas. Maturnuwun sanget berkah dalem.

Mang Ucup

Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar