Kami Masih Punya Rasa Malu
Pak, bantulah kami, kembalikan harga diri kami, berikanlah kami pekerjaan, karena kami bukan pengemis. Pak, bantulah kami, kembalikan rasa malu kami, agar kami bisa hidup seperti manusia dan tidak harus hidup seperti binatang. Dimana kami harus makan dedak dan katul (makanan ayam/kuda).
Pak, bantulah kami, karena kami masih punya rasa malu, kami tidak ingin mencari makan di tong sampah. Pak bantulah kami, karena kami masih punya rasa malu. Kami tidak mau menjual kehormatan dan diri kami. Benar kami miskin, benar kami lapar, tetapi kami masih memiliki rasa malu.
Pak bantulah kami, karena kami masih punya rasa malu. Kami tidak mau ribut, kami memilih sungkem dan bungkem, walaupun seharusnya Bansos itu hak kami Namun tetap saja disunat 50 persen. Mungkin inilah bedanya antara kami yang miskin dan hina daripada bapak yang kaya dan terhormat. Bapak memiliki segala-galanya terkecuali satu yang tidak bapak miliki ialah: rasa malu!
Kenapa musti repot-repot mikirin rakyat yang kelaparan! Rakyat kan sudah di anjurkan agar menarik tali pinggang lebih ketat dan lebih kencang lagi. Namun, apalagi yang mau di ikat Pak? – Tulang juga udah tidak ada lagi sehingga hanya tinggal kentut-nya saja yang masih tertinggal. Bahkan dianjurkan agar rakyatnya puasa Senin - Kemis, yang penting perut saya makin gendut dan account saya di bank semakin tebal.
Kalau kita membutuhkan bantuan pejabat mulai dari hal yang paling kecil seperti mengurus SIM sampai proyek milyard USD. Dengan tanpa rasa malu, mereka akan meminta upeti dari kita, bahkan untuk ini bukan hanya secara diam-diam lagi melainkan sudah merupakan pungutan resmi, yang lazim di beri nama pungli atau pungutan liar.
Tanya apakah oknumnya punya rasa malu? Dimana harkat dan derajat diri dan bangsa negara kita sekarang ini? Apakah kita akan menjadi negara pengemis sampai kiamat, karena para pemimpinnya yang sudah tidak punya rasa malu lagi Daripada berpikir mencari jalan keluar, yang baik bagaimana caranya memajukan bangsa untuk memberikan peluang kerja kepada rakyatnya, lebih baik dan lebih mudah ngemis atau ngutang ke negara lain!
Pada saat sekarang ini sudah banyak manusia yang dari sononya di lahirkan tanpa ada urat kemaluan ataupun juga yang putus urat kemaluannya pada saat menjalankan tugasnya, sehingga rasa malunya hilang total. Banyak rakyat kita yang harus menanggung aib dan menanggung rasa malu karena ulah mereka:
Apakah kita tidak malu bahwa: sekarang ini sudah lebih dari 20 persen bayi yang dilahirkan mati karena kekurang gizi Apakah negara ini sudah menjadi negara yang melarat tidak beda jauh dengan di Afrika?
Negara kita yang dahulunya kaya raya hutan rimbanya, sekarang jadi tanah gersang, karena sudah gundul hutannya di bakarin oleh para pejabat dan konglomerat yang rakus? Negara kita yang dahulu begitu subur, sekarang jadi negara miskin dan lapar?
Puluhan siswa/i drop out karena tidak ada dana boro2 untuk meneruskan sekolah untuk bayar kost saja sudah tidak mampu Bahkan saya kira, pada generasi berikutnya, perkataan "malu" sudah akan lenyap dari dalam kamus segala bahasa di dunia ini. Sehingga anak cucu kita nantinya akan bertanya kepada kita: "Rasa malu itu apa dan bagaimana? Apakah rasanya asam, manis atau asin?"
Karena mereka sudah tidak akan bisa mersakannya lagi rasa malu tsb. Bagaimana menurut pendapat Anda Maturnuwun sanget berkah dalem. Have a nice weekenddan jaga kesehatan.
Mang Ucup
Tinggal di Amsterdam, Belanda

Komentar