Sabtu, 29 Agustus 2026 | 12:29
OPINI

Bunuh Diri, Tindakan Egois dan Bodoh

Bunuh Diri, Tindakan Egois dan Bodoh
Ilustrasi depresi

Harus diakui bahwa dalam jangka waktu satu minggu saya kehilangan dua orang sohib saya yakni Djoksan dan Jansen alm yang kemarin telah melakukan bunuh diri. Hal ini membuat saya jadi sangat berduka sekali karena kehilangan kedua sohib tersebut, sehingga timbul rasa capek menjalani kehidupan ini.

Tidak bisa dipungkiri bahwa para lansia lebih rentan untuk melakukan bunuh diri, karena mereka merasa terisolasi seorang diri bahkan merasa tidak dihargai. Inilah yang membuat kami seringkali merasa depresi. Memang urusan bunuh diri itu adalah urusan pribadi dan tidak akan ada yang akan bisa menghalanginya. Jadi kalau Mang Ucup sudah ingin cepat menghadap Tuhan, silahkan saja bunuh diri.

Kemarin saya mendapatkan beberapa komentar yang membuat saya jadi sangat tersentuh dan terharu sekali misalnya: “Paling tidak satu orang yang akan broken heart kalau Mang Ucup memilih mengakhiri hidup sendiri ialah saya.”

Komentar lainnya, “Kehadiran Mang Ucup di Facebook setiap hari, terasa seperti dapat kunjungan dari seorang Opa, maka dari itulah ketika Mang Ucup lengser hampir tiga tahun lamanya saya merasa sangat kehilangan sekali."

Tidak bisa dipungkiri telah terjalin ikatan batin yang kuat sekali melalui tulisan-tulisan saya tersebut! Walaupun saya belum pernah bertemu dengan mereka, apalagi kalau istri mbak Wied yang sudah saya nikahi lebih dari 25 th, bagaimana perasaan dia apabila ditinggal mati seorang diri oleh saya?

Memang kelihatannya bahwa tindakan bunuh diri ini bukanlah tindakan yang egois, seakan-akan ingin membantu  meringankan beban keluarga yang ditinggalkan. Namun apakah istri dan anak-anak saya sudah siap dan mau ditinggalkan oleh saya, dimana saya masih dalam keadaan sehat wal afiat tidak kurang suatu apapun juga?

Bukankah dengan tindakan bunuh diri ini secara tidak langsung saya menyengsarakan kehidupan mereka Bagaimana tanggung jawab saya kepada Sang Pencipta yang telah menganugerahkan pasangan hidup yang hebat untuk saya, namun disisi lain telah saya telantarkan dan campakkan secara begitu saja seperti juga buang puntung rokok?

Tindakan Bunuh diri itu adalah tindakan seorang pengecut yang tidak mau bertanggung jawab menyelesaikan PR untuk kehidupan di dunia ini! Apakah orang bosan hidup ini hanya bisa terjadi pada orang yg lemah saja seperti Mang Ucup? Tidak, para Nabi sekalipun pernah merasakan ingin buruan wafat; misalnya Nabi Musa, Nabi Elia maupun Yunus.

Orang bunuh diri bukan hanya karena alasan ekonomi saja; dimana terbuktikan orang berduit juga bisa bunuh diri misalnya konglomerat Manimarem yang terjun bebas dari tingkat 56 sebuah hotel. Begitu juga dengan orang pinter seperti Ernest Hemingway ataupun pelukis Vincent van Gogh.

Dan satu pendapat yang salah bahwa orang bunuh diri itu adalah orang yang sakit jiwa saja, buktinya mbahnya dari semua Phisiater Sigmund Freud juga melakukan bunuh diri. Banyak orang memberikan komentar bahwa kita datang kedunia ini seorang diri. Namun kenyataannya pada saat kita mau mati. Rasanya berat sekali untuk pulang sendirian.

Apalagi harus meninggalkan orang-orang yang sangat kita kasihi? Melepaskan nyawa tidaklah susah. Namun melepaskan apa yang kita miliki maupun meninggalkan orang yang kita kasihi ini sangat berat sekali. Sehingga berapapun biayanya mereka bersedia bayar apabila masa hidupnya bisa diperpanjang walaupun hanya untuk sekedar satu minggu sekalipun.

Sekarang baru saya sadar bahwa kehidupan itu benar-benar satu karunia yang paling indah yang telah diberikan oleh Sang Pencipta kepada kita umat-Nya Hal inilah yang membuat mang Ucup jadi berpikir kembali sambil memutar lagu Dont Try Suicide dari Queen yang ditulis Freddie Mercury.

Sebagai akhir kata Mang Ucup ingin mengucapkan syukurilah setiap Hari dimana Kita masih diberikan kesempatan untuk hidup setiap hari.

Mang Ucup

Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar