Satu Detik Setelah Kematian Mang Ucup
Pertama dalam kesempatan ini saya hendak mengucapkan banyak terima kasih kepada rekan-rekan dan para pembaca yang terkasih atas rasa kasih maupun perhatian yang diberikan kepada Mang Ucup.
Sebenarnya saya tidak layak untuk menerima begitu banyak rasa kasih sayang ini, karena secara langsung atau tidak langsung saya telah mempermainkan perasaan para pembaca di medsos ini. Oleh sebab itulah pula dengan saya rangkap tangan dua sambil membungkukkan badan 90 derajat saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kenapa?
Kemarin dahulu seorang sohib baik saya meninggal dunia, bunuh diri dalam usia 64 tahun. Dan itu adalah sohib saya yang kedua yang meninggal akibat bunuh diri, mungkin hal inilah pula yang menjadi pencetus sehingga timbul perasaan sudah bosan hidup dan I will follow him.
Namun sebagai seorang pengusaha sebelumnya saya mengambil keputusan untuk mati, saya ingin melakukan studi kelayakan terlebih dahulu mengenai kematian. Dimana saya ingin mengetahui apa yang terjadi One Second After You Die(Satu detik setelah Mang Ucup meninggal).
Orang-orang disekitar saya memiliki tiga pandangan mengenai kematian itu: berakhir sampai disini saja alias jadi seonggok debu atau abu, dilahirkan kembali entah jadi kecoa, cacing atau manusia atau jadi buaya, melanjutkan kehidupan ini dengan tubuh baru yang kekal dan abadi.Yang sudah pasti setelah si Ucup meninggal!
Manusia yang namanya Ucup itu sudah di stempel di dunia ini dan digantikan dengan nama Ucup almarhum. Semua kewajiban duniawi, mulai dari utang yang berjibun sampai segala macam kontrak perjanjian pun akan berakhir dengan sendirinya, begitu juga dengan kontrak perkawinan kita.
Hal positif lainnya ialah semua rasa nyeri, rasa takut, maupun penderitaan duniawi kita pun akan berakhir pula, jadi benar-benar kita bisa bebas tulen. Dimulai saat Mang Ucup menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya, saya tidak ada apa-apanya lagi selain "Seonggok Daging".
Tubuh saya yang diam dan terbujur kaku, akan dibawa ke kamar mayat. Di sana, ia akan dimandikan untuk yang terakhir kalinya. Jenazah si Ucup akan di bawa ke kuburan dalam sebuah peti mati. Sesudah jenazah tersebut dimasukkan ke dalam liang lahat, maka tanah akan menutupinya. Inilah the end dari Story of my life.
Mulai saat ini, si Ucup hanya eksis dalam bentuk nama saja yang terukir di atas batu nisan. Jenazah yang ditimbun tanah akan mengalami proses pembusukan yang cepat. Segera setelah anda dimakamkan, maka kuman-kuman, bakteri-bakteri dan serangga-serangga berkembang biak pada mayat tersebut.
Singkatnya, seonggok daging dan tulang yang tadinya masih dapat dikenali sebagai si Ucup; mengalami akhir yang menjijikkan. Itulah yang akan terjadi dari tubuh yang hingga saat ini saya pelihara dan jaga dengan baik. Maka percuma saja tubuh itu diberikan parfum hari ini; toh nantinya juga akan jadi bau dan menjijikan.
Selama bulan atau tahun pertama, kuburan saya mungkin akan masih sering dikunjungi. Namun seiring dengan berlalunya sang waktu, hanya sedikit orang yang datang. Dan beberapa tahun kemudian, tidak akan ada seorang pun yang mau datang lagi berkunjung. Lama-lama juga mereka akan bosan dengan sendirinya.
Hidup anda dan saya tidak beda jauh nilainya daripada gas coca cola, yang hanya meletup untuk sesaat saja. Setelah itu gone with the wind. Sementara itu, keluarga dekat saya akan mengalami kehidupan yang berbeda yang disebabkan oleh kematian saya. Di rumah, ruang dan tempat tidur saya akan kosong. Setelah pemakaman, sebagian barang-barang milik saya yang tadinya disimpan di rumah: misalnya baju, sepatu, dan lain-lain akan diberikan kepada mereka yang memerlukannya.
Selama tahun-tahun pertama, beberapa orang masih berkabung akan kepergian Mang Ucup. Namun, waktu akan mempengaruhi ingatan-ingatan mereka terhadap masa lalu. Empat atau lima dasawarsa kemudian, hanya sedikit orang saja yang masih ingat dan mau mengenang Mang Ucup. Tak lama kemudian, generasi baru akan muncul dan tidak seorang pun dari generasi saya yang masih hidup di muka bumi ini.
Apakah Mang Ucup masih tetap diingat orang ataukah tidak, hal tersebut dipikirkan. Apakah Mang Ucup masih tetap diingat orang ataukah tidak, hal tersebut sudah tidak jadi masalah lagi bagi saya. Masalahnya wujud Mang Ucup telah berubah menjadi
Mang Ucup
Menetap di Amsterdam, Balanda

Komentar