Sabtu, 29 Agustus 2026 | 13:22
OPINI

Jiwa vs Bisnis, Berapa Nilai Jiwa Anda Dalam Dollar ?

Jiwa vs Bisnis, Berapa Nilai Jiwa Anda Dalam Dollar ?
Amerika lockdown

Tidak bisa dipungkiri hanya dalam jangka waktu empat bulan saja pademi corona (Covid-19) ini telah membunuh lebih banyak orang Amerika daripada perang di Vietnam, Irak, dan Afghanistan — total digabungkan semua.

Jika garis tren ini berlanjut, itu akan membunuh lebih banyak orang setiap hari daripada korban kematian pada pada saat bom 9/11 di NYC.

Maka dari itulah dilakukan lockdown untuk mencegah lebih banyak lagi korban jiwa yang berjatuhan. Namun biaya lockdown ini harus dibayar sangat mahal oleh Amerika. Antara lain bertambahnya jumlah pengangguran hampir 34 juta orang atau 20 persen dari angkatan kerja dan penurunan Produk Domestik Amerika terendah dan terburuk sejak tahun 2008.

Hal ini jelas membuat Presiden Trump marah seperti kebakaran jenggot, karena ia khawatir tidak akan terpilih lagi jadi Presiden. Oleh sebab itu, ia ingin segera dibuka lagi dengan alasan keberhasilan ekonomi butuh pengorbanan. Berapapun bayaran jiwa yang harus dikorbankan; yang penting ekonomi bisa segera maju dan pulih kembali.

Sehingga timbullah pertanyaan; “Berapa sebenarnya nilai kehidupan manusia itu? Apakah seimbang dengan nilai bisnis yang akan kita raih? Rasanya tidak akan begitu mudah menilainya.

Jauh lebih mudah apabila kita menghitung berapa nilainya satu kematian. Misalnya satu bom atom dapat membunuh 100 juta orang, sedang produksi pembuatan bom itu sendiri sekian juta ASD jadi nilainya satu kematian adalah X.

Berdasarkan nilai klaim ganti rugi asuransi terbuktikan bahwa nilai jiwa wong Amerika yang paling mahal. Per jiwa harganya bisa mencapai ASD 10 juta sedangkan orang Jerman sangat murah hanya dinilai Euro 50.000 saja.

 

Sedangkan yang paling murah jiwa orang Indonesia hanya dinilai Rp 80 juta atau lebih murah daripada harga mobil bekas atau senilai harga empat sapi! Hingga saat ini korban kematian akibat corona di Indonesia seribu orang atau dalam nilai uang = 1000 x Rp 80 juta = 80 miliar Rupiah.

Yang menjadi pertanyaan apakah ini seimbang dan senilai dengan penutupan semua mall & toko-toko, restoran dan hotel di Indonesia? Sedangkan kerugian dari pariwisata saja dalam satu bulan lockdown ini ASD 500 juta = Rp 7 triliun.

Pertanyaan apakah tidak lebih baik, apabila kita dibebaskan dari lockdown agar ekonomi bisa segera cepat pulih kembali? Walaupun kenyataan untuk ini kita harus mengorbankan dua ribu jiwa lagi. Namun cincay-lah, sebab setiap kemenangan butuh pengorbanan!

Yang menjadi pertanyaan apakah dalam hal ini Mang Ucup sendiri bersedia apabila di jadikan sapi korban demi keberhasilan ekonomi di Indonesia? Sedangkan bagi Gubernur New York Andrew Cuomo masih tetap bertahan agar lockdown tetap dipertahankan terus, sebab bagi dia jiwa manusia itu tak ternilai harganya.

Terbukti bahwa warga di Eropa bisa jauh lebih disiplin menjalankan isolasi kehidupan sehari-hari mereka. Rahasianya dimana? Sebab pemerintah di Eropa menyediakan dana cukup untuk warganya selama mereka di isolasi atau selama mereka dikandangkan; makanan mereka terjamin. Tentu beda dengan di Indonesia.

Jiwa termahal di dunia berdasarkan klaim asuransi jiwa adalah Mr Ellison konglomerat dari USA (CEO dari Oracle), apabila suatu saat ia meninggal dunia kantor asuransi akan membayar dia ASD 201 Juta atau setara Rp 3 triliun. Sedangkan yang termurah adalah si Udin abang becak dari Gombong hanya bernilai nol Rupiah, karena ia tidak punya asuransi jiwa.

Namun dimata Tuhan dua-dua nya sama, karena apabila sang konglomerat maupun si Udin suatu saat meninggal dunia tidak ada satu rupiah pun yang mereka bisa bawa ke alam baka!

Yang menjadi pertanyaan sekarang ini ialah B or not to B – Buka or not Buka – lockdown? Untuk ini saya mohon petromaknya dari rekan-rekan terkasih. Ditunggu!

Maturnuwun sanget berkah dalem

Mang Ucup

Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar