Kehilangan Sahabat
Hampir setiap orang pernah mengalami bagaimana sakit dan bagaimana menderitanya pada saat kita ditinggal oleh orang yang kita kasihi. Seperti yang dialami Mang Ucup, dalam jangka waktu sebulan ini kehilangan dua orang sahabat baik saya, pak Joksan dan Helge.
Rasa sakit dan sedih ditinggal oleh orang yang kita kasihi ada jauh lebih sakit dan lebih berat daripada penderitaan jasmani. Rasa sakit di badan dalam waktu beberapa saat akan hilang, namun rasa kehilangan membutuhkan waktu jauh lebih lama daripada sembuhnya rasa sakit di badan.
Ditinggal seseorang karena yang bersangkutan meninggal dunia ini bisa kita terima dengan lapang dada, sebab ini sudah takdir. Lain halnya apabila kita ditinggal atau diputuskan secara begitu saja misalnya karena adanya Pria atau Wanita Idaman Lain (WIL). Atau seorang sahabat yang merasa sudah tidak senang dan tidak mau lagi bersahabat dengan kita.
Apabila hal ini terjadi kita bukan saja merasa sakit, karena ditinggal oleh orang yang kita kasihi, tetapi juga merasa diri kita ini; direndahkan dan tidak berharga lagi. Bagi mereka yang pernah melihat film The Passion of the Christ, disitu kita bisa merasakan betapa berat dan betapa sakitnya penderitaan Tuhan Yesus pada saat Ia disiksa. Walaupun demikian puncaknya dari penderitaan Tuhan Yesus ialah pada saat Ia ditinggal oleh Allah Bapa.
Pada saat Ia disiksa tidak sepatah katapun yang Ia ucapkan, tetapi kebalikannya pada saat Ia ditinggal oleh Allah Bapa, Ia berseru dengan keras:”Eloi, Eloi Sama Sabaktami” ; dalam bahasa Aram = Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
Disinilah kita bisa merasakan dan juga turut menghayatinya betapa sakitnya rasa seseorang apabila ditinggal oleh orang yang mereka sangat kasihi. Masih terbayang dan juga terngiang-ngiang di kuping saya, ketika Mamah saya ditinggal wafat oleh ayah saya.
Pada saat pertama kali Ma Anie mengetahui bahwa Papa Awat meninggal dunia, ia menangis sambil meratap dengan keras: “Awat kunaon tega ninggalkan Ani sorangan!” - Awat kenapa tega meningalkan Anie sendirian. Setiap kali saya teringat oleh ratapan Ma Anie tersebut, tanpa bisa ditahan lagi turun air mata saya berlinang.
Merasa ditinggal sendirian, bahkan merasa tidak dikasihi sering pula timbul pada saat kita merasa seakan-akan doa kita itu tidak digubris dan tidak didengar oleh Tuhan. Pada saat kita sedang jatuh dan menderita, kita membutuhkan seseorang kepada siapa kita bisa berkeluh kesah. Hal inilah yang menyebabkan kita merasa seakan-akan Tuhan meninggalkan kita.
Percayalah bagi mereka yang pernah mengalami penderitaan berat dan dimana mereka merasakan dijauhi oleh semua orang, bahkan dijauhi oleh Tuhan sendiri. Mereka akan lebih bisa menghayati dan betapa sedihnya ratapan Tuhan Yesus: :”Eloi, Eloi Sama Sabaktami” - Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
Mang Ucup
Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar