Seni Kaligrafi Berkelas Tinggi Dikenal Sejak Tahun 1925
Workshop Kaligrafi Lengkong, Wadah Pelestarian Seni Budaya Islam
ASKARA - Kaligrafi merupakan suatu seni menulis dengan indah dengan pena sebagai hiasan. Di dalam seni rupa Islam, tulisan arab seringkali dibuat kaligrafi. Biasanya isinya disadur ayat-ayat Al-Quran. Bentuknya bermacam-macam, tidak selalu pena diatas kertas, tetapi seringkali juga ditatahkan di atas logam atau kulit.
Desa Lengkong Kulon, Pagedangan, Kabupaten Tangerang ini semenjak tahun 1925 dikenal sebagai produsen seni kaligrafi berkelas tinggi. Kampung ini juga disebut sebagai Kampung Lengkong Ulama yang di kenal sebagai kampung para ulama dan kyai, di tambah dengan adanya makam pahlawan lengkong yang gugur di makamkan di kampung itu. Para ulama dulu belajar kaligrafi dari Darul Ulum, Arab Saudi. Makanya, daerah ini disebut Lengkong Kiai atau Lengkong Kaligrafi.
Seiring perkembangan suatu daerah banyak kampung yang tersingkir oleh pembangunan, Desa Lengkong Kulon adalah salah satu kampung yang memiliki semangat untuk tetap eksis.
Peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sehati, Desa Lengkong Kulon sangat strategis untuk mengelola dan memberdayakan potensi desa. Salah satunya di desa ini telah berdiri gedung Workshop Kaligrafi Lengkong.
Muhammad Muis selaku Direktur Umum Bumdesa mengatakan, bahwa kaligrafi ini adalah produk unggulan Desa Lengkong Kulon. "Saya melihat ada potensi yang cukup besar. Saya berkeinginan membuat sebuah wadah di mana produk ini bisa semakin dikenal," ujar Muis.
Walau kaligrafi Lengkong sebenarnya sudah dikenal secara nasional, tapi, dia ingin kaligrafi ini selain melestarikan kearifan lokal, kedepannya diharapkan menjadi target wisata edukasi.
Hal senada dikatakan Muhammad Faiz, Kepala Desa Lengkong Kulon. Dengan dibentuknya workshop kaligrafi ini menjadi suatu wadah dalam rangka pelestarian seni budaya islam yang berbentuk kaligrafi. "Ini merupakan ciri khas dari Kampung Lengkong Ulama dan ini juga merupakan ikon dari Kabupaten Tangerang," kata Faiz.
Dia berharap dengan workshop ini akan lahir kaligrafer baru yang bisa melanjutkan pelestarian budaya maupun di bidang prestasi. Apalagi kaligrafi ini merupakan salah satu cabang yang dipertandingkan di LPTQ dari tingkat kecamatan sampai tingkat nasional, bahkan sampai internasional.
"Pernah lahir juara kaligrafi tingkat internasional yang merupakan putra dari Kampung Lengkong Ulama atau Lengkong Kiai. Mudah-mudahan dengan workshop ini akan lahir kembali putra-putra terbaik di bidang kaligrafi tersebut," katanya.
Desa Lengkong Kulon sendiri saat ini cukup berkembang pesat, karena dikelilingi pengembang perumahan besar. Jadi secara tidak langsung berdampak ke wilayah Lengkong Kulon sangat positif. "Disinilah kita bisa bersinergi dengan pengembang untuk kesejahteraan masyarakat Lengkong Kulon," katanya.
Faiz mengaku tengah menggenjot pembangunan di segala bidang, baik itu pembangunan ekonomi, sosial, dan budaya. Serta pembangunan infrastruktur jalan dan lainnya. Dia menyatakan bahwa terlaksananya semua program pembangunan tak lepas dari peran serta jajaran pemerintah desa dan masyarakat.
Hudri seorang pegiat Kaligrafi Lengkong Ulama menjelaskan, seni Kaligrafi Lengkong Ulama dipelopori H Mahfud Arham dan Abdul Rojak mempertahankan keasliannya dengan tidak menggunakan teknik komputer. Seluruh pengerjaan kaligrafi ini dilakukan dengan kaidah menulis ayat-ayat Al-Quran yang sesuai.
Disebutkan, banyak penulis kaligrafi nasional berguru kepada Mahfud baik untuk keperluan lomba maupun pembuatan pajangan. Selanjutnya dikenal beberapa nama yang memperkenalkan Seni Kaligrafi Lengkong Ulama ke dunia internasional. Sebut saja lukisan kaligrafi di Masjid Istana, Masjid Hamzah Haz, Masjid Attin, pesantren dan lainnya.
Ciri khas Kaligrafi Lengkong Ulama, penulisan dilakukan dalam berbagai jenis. Mulai dari tahap pembuatan dasar, penulisan dan pewarnaan finishing. Hampir rata-rata penulisan kaligrafi dengan gaya murni. Namun ada juga yang dicampur dengan lukisan.
"Dulu dasarnya lukisan kaligrafi adalah kaca sekarang menggunakan kain, karton, atau tembok. Sedangkan untuk penulisan rata-rata dilakukan dengan cat tembok," pungkasnya.

Komentar