Kesal Sama Tuhan !
Kesal sama Tuhan? Tidak boleh dilakukan karena itu pamali, durhaka. Tapi, masalahnya rasa kesal itu sudah naik ke ubun-ubun bahkan sudah punya niat untuk mendemo Tuhan.
Karena semua rumah ibadah bahkan Kaabah sekalipun ditutup alias lock down. Sedangkan yang masih buka hanya pintu Surga. Dijamin pulang mudik ke Surga tidak dilarang.
Bagaimana saya tidak kesal. Bukan hanya THR yang dibatalkan, saya juga sudah di PHK. Mau pulang mudik pun dilarang, belum lagi Istri di rumah sudah kena corona. Padahal saya udah berdoa setiap hari tanpa diputus oleh kata Amin.
Apakah mang Ucup tahu apabila kesal sama Tuhan ini namanya menghujat nama Allah! Mana mungkin orang bisa kesal kepada Allah yang sedemikian pengasih dan penyayang?
Ternyata bukan hanya mang Ucup sendirian saja yang pernah merasa kesal maupun kecewa terhadap Tuhan, melainkan ribuan orang juga demikian, Bahkan mungkin juga diantaranya adalah anda sendiri!
Apakah Anda tahu bahwa sudah lebih dari ribuan orang meninggalkan agama dan Tuhan-Nya, karena mereka merasa kesal dan kecewa?
Berapa banyak orang yang keluar dari gereja/mesjid dan lain-lain, karena merasa dikecewakan oleh Tuhan? Berapa banyak orang frustasi kepada Tuhan sehingga akhirnya ia tidak mau berdoa lagi kepada-Nya? Bahkan karena sedemikian kesalnya sehingga banyak yang akhirnya memusuhi Allah!
Jangankan manusia awan seperti you and me, berapa banyak pembimbing agama yang menjadi murtad, karena merasa dikecewakan oleh Tuhan. Mungkin ada Romo/Ustadz yang menilai mang Ucup ini dosanya sudah berat sekali, karena berani kesal kepada Tuhan?
Cobalah renungkan; apakah kita sebagai orang beragama tidak boleh menjerit "Aduh!" kalau sakit. Apakah orang beragama tidak boleh punya rasa kesal atau marah kalau tersinggung/kecewa?
Walaupun kita orang beragama, tetapi kita bukanlah patung, kita masih memiliki perasaan, Bung ! Kalau kita kena musibah, selain rasa sedih kita pun akan merasa kesal dan dongkol. Untuk melampiaskan rasa dongkol dan kesal inilah kita berusaha untuk mencari kambing hitamnya.
Rasa kesal kita kadang-kadang kita lampiaskan kepada karyawan kita, maupun kepada pimpinan kita, bahkan tidak jarang terhadap orang yang kita kasihi seperti anak, maupun istri/suami sendiri. Begitu juga kalau kita kehilangan orang yang kita kasihi mengadu, "Tuhan kenapa Kau sedemikian teganya mengambil orang yang sangat ku kasihi?"
Kita bukan hanya bisa kehilangan manusia yang kita kasihi saja, namun kita juga bisa kehilangan hal-hal lainnya yang akan membuat kita menjadi bersedih hati maupun batin kita terpukul ialah apabila kita kehilangan pekerjaan, kesehatan, istri/suami karena cerai, kehormatan, kasih sayang maupun jabatan yabg diharapkan.
Setiap kehilangan itu akan meninggalkan tempat yang kosong dan hampa di dalam hati dan jiwa kita dengan luka dan penderitaan batin yang dalam. Orang luar hanya bisa turut mengucapkan rasa bela sungkawanya ataupun rasa belas kesihan saja, terhadap musibah yang terjadi dengan diri kita.
Mereka tidak akan bisa benar-benar turut merasakan ataupun turut menghayatinya bagaimana rasa sakitnya dan rasa dukanya penderitaan ini. Kita tidak bisa membagikan rasa sakit maupun rasa sedih kita kepada orang lain, semuanya ini harus kita tanggung dan rasakan seorang diri.
Akhirnya, saya juga menyadari sendiri akan dosa saya, karena timbulnya rasa kesal terhadap Tuhan. Apalagi ketegaran saya sekarang sudah pulih kembali, sehingga bisa nulis lagi seperti sediakala, bahkan turut mendoakan untuk semua sahabat dan rekan-rekan yang terkasih.
We understand death for the first time, when he puts His hand upon one whom we love.
The Drunken Priest
Mang Ucup
Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar