Dilarang Mudik, Salahkan Corona
Ketika sekolah dasar (SD) dahulu, ibu guru saya menyatakan bahwa otak Mang Ucup itu lebih kecil daripada otak ayam alias bodoh. Walaupun demikian, saya akan mencoba menulis mengenai larangan mudik dari sudut kaca mata saya yang tidak paham ekonomi makro maupun mikro. Saya hanya mengetahui ekonomi mikro saja.
Jokowi akhirnya melarang mudik mulai dari 24 s/d 29 Mei 2020 atau satu minggu setelah Lebaran. Maka pikiran egois pertama: Hore..! Sebab PRT tidak pulang mudik selama lebaran ini, jadi tidak perlu ribet dan repot seperti di tahun lampau.
Pada umumnya saat kita pulang mudik kita pamer dengan segala benda yang kita miliki, termasuk emas bergelantungan. Dan, kalau tidak punya mobil sendiri bisa rental yang penting the show must go on !
Di samping itu mau atau tidak kita juga wajid membeli pakaian dan sepatu baru. Belum lagi oleh-oleh wajib yang harus diberikan kepada sanak keluarga di kampung termasuk "angpau" Lebaran.
Namun Alhamdulillah, hal itu tidak perlu saya lakukan lagi, sebab mau pamer sama siapa? Toh istri di rumah juga seharian pakai daster terus-menerus.
Kalau lebaran tidak jalan-jalan pasti kita akan dicibir tetangga. Tentu kasihan anak istri yang mengharapkan bisa piknik tahunan. Namun tekanan dan kewajiban ini akan pupus dengan sendirinya, karena adanya larangan mudik dan piknik.
Apa kata tetangga di kota apabila pulang balik dari kampung tidak bawa oleh-oleh ? Jadi hal inipun yang sudah termasuk SOP wajib yang tidak perlu kita penuhi lagi.
Problem lainnya dimana tahun ini tidak ada THR, bahkan kalau tidak di PHK saja sudah bagus. Walaupun gaji bulanan sudah disunat 50 persen tidak apa-apa, karena saat corona ini perusahaan tidak ada pemasukan.
Namun semuanya ini jadi match 100 persen, dimana kita tidak bisa pulang mudik ataupun beli pakaian baru lebaran ini, bukan karena tidak bisa, melainkan karena dilarang oleh Jokowi.
Bos saya merasa senang, karena Lebaran ini bisa menghemat tidak perlu kirim parcel hadiah lebaran, maklum untuk keluar rumah saja udah dilarang. Jadi dengan mudah semua kesalahan ini bisa kita limpahkan kepada corona, sang biang kerok dari semua permasalahan tersebut.
Mulai dari tagihan bank sampai debt colektor mereka akan bisa memakluminya apabila pada saat ini saya belum bisa bayar cicilan bahkan sewa rumah sekalipun gara-gara corona!
Sangat menyedihkan namun nyata; Istri dirumah pun sudah tidak mau memenuhi kebutuhan batin lagi dengan alasan corona, padahal saya sudah menyediakan dua lusin viagra untuk masa karantina ini.
Mang Ucup
Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar