Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:15
NEWS

Dokter Gigi, Profesi Berisiko Tinggi Terpapar Virus Corona

Dokter Gigi, Profesi Berisiko Tinggi Terpapar Virus Corona
Ilustrasi dokter gigi

ASKARA: Setelah WHO mendeklarasikan status Virus Corona (Covid-19) berubah jadi Pandemik menimbulkan kekhawatiran. Virus Corona ini dari bentuk dan strukturnya memang memudahkan si virus buat nempel ke munusia.

"Kurang ajarnya, even kita imunokompeten, kalau kita terpapar sama virus ini, meskipun tidak muncul gejala di kita, kita tetap jadi carrier virus ini," ujar DR. dr. Budiman Bela, Sp.MK, spesialis mikrobiologi klinik Rumah Sakit Universitas Indonesia, dalam diskusi dengan topik "Komunikasi Kepemimpinan dan Krisis Mengelola Virus Corona", di UI Salemba, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kalau si carrier tadi bertemu orang yang imunokompromis, lanjutnya, maka si imunokompromis lah yang akan “kena Covid-19”. Oleh karena itu menyebarnya susah untuk dihentikan.

Jika ada screening suhu dan ada orang yang suhunya tinggi, menurutnya, maka orang tersebut harus dirumahkan, bukan cuma karena curiga orang itu terkena Covid-19.

"Tapi lebih ke kita (orang lainnya) menghindari orang tersebut untuk berpapasan dengan banyak hidden carrier di sekitarnya. Karena orang tersebut dalam kondisi lagi tidak bagus imunitas nya. Kita nya tidak terkena, orang itu bisa kena Covid-19," paparnya.

Budiman menjelaskan, ada 3 kondisi yang menjadi inceran si virus Corona, yakni: Imunokompromis, Underlying diseases dan Elder people.

Karena kita yang imunokompeten tidak pernah tahu apakah kita sebenarnya carrier atau tidak, kita harus mulai aware kalau bertemu dengan orang-orang pada 3 kondisi tersebut.

"Dan yang paling gila, si virus ini bertahan di benda sampai 9 hari! 9 hari, dikonfirmasi oleh ahli mikrobiologi even mayatnya saja masih menular, jadi semestinya perlakuan sama seperti mayat infeksius," ungkapnya.

Bahkan ahli paru, DR. dr. Raden Rara Sp.P (K) menjelaskan, bahwa profesi yang paling berisiko tinggi itu dokter gigi. Karena dokter gigi tidak bisa menghindari berurusan dengan air liur setiap hari.

"Disarankan untuk dokter gigi buat pake APD kalau periksa pasien," imbuh Rara.

Sementara itu, Mantan Menteri Kesehatan, Prof. DR.dr Nila Moeloek Sp.M (K) justru meragukan asal virus Corona dari Kelelawar, karena Covid-19 ini adalah versi mutannya.

"Dan jangan salah, even dalam kasus ini dari sekian ratus ribu orang yang terinfeksi, cuma ada 1 orang yang anak2 (balita). Tapi anak itu diperkirakan sebagai carrier yang paliiing kompeten," terang Nila.

Karena, jelasnya, dia diasuh orang dewasa, orang yang asuh belum tentu imunokompeten, apalagi kalo kakeknya, atau neneknya. Anaknya tidak terkena, tapi dia paparkan virus ke mereka.

"Belum diketahui pasti alasannya kenapa si virus ini enggan menginfeksi anak-anak," ujarnya.

Selain itu, dia juga mendorong keselamatan para petugas yang bekerja di fasilitas kesehatan. Tidak hanya para tenaga medis, tapi juga tenaga pendukung.

Kesehatan dan keselamatan mereka yang bekerja di fasilitas kesehatan, lanjut dia, perlu diperhatikan. Sebab merekalah yang berinteraksi dengan orang sakit.

"Misalnya satpam yang di depan, dia berisiko tinggi loh. Kan satpam memeriksa. Kalau diperiksa tiba-tiba saya batuk kasihan kan. Memang dalam hal ini kita harus betul-betul saling menjaga," tandasnya.

Editor: Husnie