Proses Syuting Film Serigala Langit yang Menegangkan
ASKARA - Pembuatan Film Serigala Langit yang kental dengan dunia kedirgantaraan tidak mudah dilakukan.
Waktu 40 hari menjadi pengalaman berharga bagi E-Motion Entertainment menjajaki film yang digagas TNI Angakatan Udara ini.
Sutradara Serigala Langit R. Reka Wijaya mengatakan, proses pembuatan film dilakukan pada 15 November hingga 27 Desember 2019 yang dibantu sekitar 150 kru.
Adegan diambil di beberapa landasan udara yakni Lanud Iswahjudi, Lanud Atang Sanjaya, Kohanudnas Jakarta, dan Lanud Adi Sutjipto.
"Kru kita itu sekitar 150-an orang, karena lumayan gede lokasi syuting kita ada di Madiun, di Jakarta, Halim dan ada di Kaliurang, banyak sih lokasinya sporadis. Jadi kita di sana membangun ini itu, jadi kita butuh kru yang memang tidak sedikit," jelas Reka Wijaya dalam peluncuran trailer dan poster Film Serigala Langit di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (5/3).
Dalam prosesnya, TNI AU memberikan pelatihan terlebih dahulu kepada para pemain maupun personel TNI yang ikut bermain untuk memperkaya adegan laga. Termasuk juga mendukung E-Motion Entertainment untuk mengambil gambar di udara selama dua hari. Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) yang digunakan adalah pesawat F16, T50i, Sukhoi, Boeing, Hercules, Helikopter Caracal serta Tim Paskhas dan perlengkapan lain.
"Kita dua hari kamera naik ke atas pakai Hercules di ketinggian 10 ribu sampai 12 ribu kaki. Itu kita buka ramp door di belakang, kita memanfaatkan waktu-waktu latihan. Hercules kita juga main jam," tutur Reka Wijaya.
Pembatasan waktu untuk syuting di udara lantaran pesawat yang digunakan juga harus melakukan perjalanan lain. Sehingga selama syuting, Hercules dimaksimalkan keberadaannya.
"Jadi kayak hari pertama Hercules habis syuting sama kita dia langsung berangkat ke Ambon, jadi kita memanfaatkan waktu itu. Jadi schedule-nya kita benar-benar ketat," beber Reka Wijaya.
Dalam film ini mayoritas adegan diambil langsung dari udara. Ada juga beberapa yang menggunakan animasi.
"Hampir semua scene kita terbang, adalagi pakai helikopter sampai helikopter itu totalnya hampir empat lima hari. Pakai animasi ada untuk adegan-adegan yang tidak memungkinkan diambil dengan real shoot, jadi kita combine," papar Reka Wijaya.
Pengambilan adegan di udara tetap mengedepankan kehati-hatian. Reka Wijaya sendiri mengaku tidak ingin mengambil risiko besar sebab semua alutsista yang digunakan bukan untuk film sehingga pihaknya yang harus menyesuaikan.
"Jadi kita fight banget, komunikasinya plan by plan dari Hercules ke jet, kita pakai komunikasi itu, wah pak kurang ketinggian segini, naikkan lagi. Jadi memang ya gitu," ujarnya.
Pengambilan gambar di udara tidak semudah dibandingkan dengan di darat. Sebab di udara kesulitan berkomunikasi karena suara yang bising, faktor cuaca termasuk keamanan.
"Beberapa kali juga kita tidak bisa ambil gambar karena di atas awan tebal, ketika ramp door dibuka kan bahaya untuk para kru juga. Kita saja di hari pertama kedua itu kru hypoxia (sulit bernafas) semua karena di atas udara semakin tipis di 12 ribu kaki," jelas Reka Wijaya.
Kesulitan lain adalah para kru juga sulit mendapatkan gambar jarak dekat saat posisi pengambilan di udara. Terlebih saat syuting menggunakan pesawat Hercules.
"Kadang-kadangkan kayak Hercules punya propeller, nah ini kan imbasnya secara udara tidak memungkinkan untuk terlalu dekat, sementara kita butuh gambar frontal. Itu kita turun lagi, kita brifieng lagi sama penerbang tempurnya. Jadi memang koordinasinya sungguh ketat karena salah sedikit bahaya," tutur Reka Wijaya.
Selaku sutradara, Reka Wijaya berharap dengan peluncuran film bisa dinikmati semua masyarakat. Dia sendiri menyayangkan dengan penyebaran virus corona (Covid-19) yang dirasa menurunkan minat penonton film di Tanah Air.
"Jangan takut sama corona ya biar nonton film gue. Ya kan ngapain takut corona sebab akhirnya merusak film Indonesia, enggak ada yang nonton nantinya, kan kasihan sama film maker. Siapa yang mau dukung film Indonesia kalau disebar dengan corona," pesan Reka Wijaya.
Untuk diketahui, Film Serigala Langit diproduksi dengan pengawalan Arnold J. Limasnax sebagai eksekutif produser. Film dibintangi oleh Deva Mahendra, Bunga Jelitha, Yoshi Sudarso, Anya Geraldine, Dian Sidik, Donny Damara, Dede Yusuf yang dahulu juga membintangi Film Prawira dan Ksatria, dan Wanda Hamidah. Serta ada penampilan khusus dari Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Yuyu Sutisna bersama sang istri Ayuning Dewanti, dan melibatkan para pilot pesawat TNI AU.
Film Serigala Langit akan diputar mulai 2 April mendatang di sejumlah bioskop. Juga akan ditayangkan saat Perayaan HUT TNI AU tanggal 9 April.

Komentar