Komunitas Dennis Lee Ving Tsun Indonesia yang Terinspirasi dari Film Ip Man
ASKARA - Film seni bela diri Wing Chun yang berjudul Ip Man sukses di pasaran. Sejak debut pertamanya tahun 2008 hingga serial terakhirnya tahun 2019 telah berhasil memukau pencinta film, terutama pencinta bela diri. Seperti halnya Komunitas Dennis Lee Ving Tsun Indonesia.
Komunitas seni bela diri tersebut mulai aktif september 2019, kini mempunyai dua cabang di Jakarta Selatan dan Tangerang. Jumlah anggotanya baru mencapai 35 orang. Dengan berbagai jenjang usia.
Shifu atau pelatih Dennis Lee Ving Tsun Indonesia, Audi Hakim bercerita awal ketertarikannya dengan Wing Chun karena menonton film Ip Man. Bahkan, dirinya pergi ke Hongkong untuk mendalami ilmu bela diri tersebut.
Akibat menonton film Ip Man, Audi langsung jatuh cinta dan merupakan ilmu bela diri yang dipelajarinya hingga saat ini. Dirinya juga selalu siap mengajar orang yang ingin belajar Wing Chun.
"Bela-belain belajar ke Hongkong. Karena Wing Chun ini buat saya sudah bukan hobi, bagian dari hidup saya. Hobi mungkin masih bisa malas, ini Wing Chun sesuatu yang tidak ada malasnya," ujar Audi saat berbincang dengan Askara di Pasar Santa, Jakarta Selatan, Kamis (30/1).
Sebagian besar orang tertarik belajar Wing Chun setelah menonton film Ip Man. Menurutnya hal itu sangat wajar karena pasti orang penasaran dengan gerakan yang diperagakan dalam film.
"Dari yang saya amati, rata-rata kalau ada film yang booming. Itu maka ada peserta dadakan yang ingin mencoba-coba Wing Chun. Itu normal sih, karena mereka penasaran seperti apa Wing Chun," jelasnya.
Audi menjelaskan, tiga tahapan dasar yang harus dipelajari oleh pemula. Di antaranya Siu Lim Tao, Chum Kiu dan Biu Gee. Butuh waktu satu tahun untuk menghapal dan memahami makna satu dari tiga tahapan tersebut.
"Tiga tahapan itu mungkin seperti buku panduan. Jadi rata-rata orang yang mempelahari tahap pertama butuh waktu sekitar 1 tahun. Setidaknya mereka menghapal," jelas Audi.
Sebab, untuk menguasai tahap pertama tidak ada batas waktu, Wing Chun itu seperti kehidupan sehari-hari. Contohnya belajar berjalan kaki.
"Kita melakukan secara terus menerus jadi kalau ditanya sampai kapan. Tidak ada batasan waktu. Tapi the most important wing chun itu tahap pertama," terangnya.
Salah satu pengurus, Hendra Yudha memiliki pengalaman yang sama. Dirinya sudah sejak lama suka ilmu bela diri. Mulai mencoba karate dan silat. Kini menekuni Wing Chun berlatih dengan Shifu Audi.
"Saya karate dari tahun 1994, tapi vakum tahun 2002. Kemudian ingin mencoba mempelajari ilmu bela diri lagi. Akhirnya teman saya memberi DVD Film Ip Man. Saya langsung tertarik mempelajarinya," kata Hendra.
Menurutnya, belajar Wing Chun tidak perlu mengeluarkan tenaga besar. Titik kekuatannya ialah dari struktur tubuh seseorang. Tiap orang tentu memiliki struktur tubuh berbeda. Itulah yang menjadi kekuatannya.
"Paling penting belajar Wing Chun itu time and sweat. Jika mau belajar Wing Chun maka harus punya waktu untuk berkeringat," ucap Hendra.
Perguruan Dennis Lee Ving Tsun itu berasal di Singapura. Cabangnya tersebar di Asia dan Eropa. Salah satunya di Indonesia. Untuk latihan rutin dilakukan setiap Rabu pukul 19.00 WIB di Pasar Santa, Jakarta Selatan. Anggotanya dari anak-anak hingga orang dewasa.

Komentar