Jumat, 16 Oktober 2026 | 12:47
NEWS

Pasca Bencana, Gagasan Forum Ekonomi Regional Tengah Aceh Mendapat Respons Kemendagri

Pasca Bencana, Gagasan Forum Ekonomi Regional Tengah Aceh Mendapat Respons Kemendagri
Prof. Tajuddin Bantacut saat bersama Zam Zam Mubarak di salah satu Hotel di Kota Takengon saat berdiskusi (Dok Askara)

ASKARA - Pemulihan Aceh pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali infrastruktur yang rusak. Di balik proses rehabilitasi dan rekonstruksi, ada pekerjaan lebih besar: memastikan roda ekonomi masyarakat kembali bergerak dan kawasan-kawasan potensial tidak tertinggal.

Gagasan itulah yang mengemuka dalam pertemuan antara Guru Besar IPB University Prof. Tajuddin Bantacut dan Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) di Takengon.

Prof. Tajuddin mendorong pembentukan Forum Ekonomi Regional Kawasan Tengah Aceh sebagai salah satu langkah untuk mempercepat pemulihan sekaligus mengintegrasikan potensi ekonomi dataran tinggi Gayo.

Konsep ekonomi regional yang ditawarkan bukan sekadar membangun satu kawasan ekonomi, melainkan menghubungkan seluruh mata rantai produksi. Aktivitas ekonomi di hulu, pengolahan, infrastruktur, logistik hingga akses pasar harus dirancang dalam satu ekosistem yang saling terhubung.

“Konektivitas jalan menjadi perhatian utama terkait pengembangan ekonomi regional tengah Aceh,” ujar Prof. Tajuddin.

Gagasan tersebut mendapat respons positif dari Tenaga Ahli Satgas PRR Aceh Kemendagri, Zam Zam Mubarak, yang saat ini turut mendapat tugas menyusun Kebijakan Direktif Presiden pascabencana Aceh.

Menurut Zam Zam, gagasan Forum Ekonomi Regional Wilayah Tengah memiliki nilai strategis untuk memperkuat kolaborasi dalam percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi, khususnya di kawasan dataran tinggi Gayo.

“Masukan positif Guru Besar IPB ini sangat strategis. Usulan Forum Ekonomi Regional Wilayah Tengah yang disampaikan semoga menjadi perhatian semua pihak untuk memperkuat kolaborasi percepatan rehab rekon Aceh, khususnya dataran tinggi Gayo,” ujarnya, Jumat (16/10/2026).

Jalan Jamat-Lukup Serbejadi Jadi Kunci

Dalam pertemuan itu, Prof. Tajuddin juga menyoroti dibukanya akses strategis Jalan Jamat (Linge)-Lukup Serbejadi (Aceh Timur).

Menurutnya, akses tersebut memiliki arti lebih jauh daripada sekadar membuka jalur transportasi. Jalan itu berpotensi menjadi penghubung baru antara kawasan tengah dan timur Aceh sekaligus membuka jalur ekonomi masyarakat Gayo menuju pusat-pusat perdagangan.

“Jalan Jamat-Lukup Serbejadi ini bukan sekadar jalan. Ini urat nadi baru ekonomi. Dari Gayo ke Peureulak, ke Langsa, ke Selat Malaka,” kata Tajuddin.

Ia menilai, apabila konektivitas tersebut dapat terwujud secara optimal, kawasan Gayo tidak lagi berada dalam posisi ekonomi yang relatif terisolasi.

“Kalau ini tembus, ekonomi Gayo tidak lagi terisolasi, tapi terkoneksi langsung dengan koridor ekonomi timur Aceh,” lanjutnya.

Sebelumnya, Prof. Tajuddin hadir sebagai narasumber dalam Seminar Nasional Fakultas Pertanian Universitas Gajah Putih (UGP) di Takengon.

Dari forum akademik tersebut, gagasan mengenai penguatan ekonomi kawasan tengah Aceh kemudian berkembang menjadi pembahasan yang lebih luas mengenai masa depan pemulihan ekonomi pascabencana.

Bagi kawasan dataran tinggi Gayo, momentum rehabilitasi dan rekonstruksi dapat menjadi titik balik untuk membangun konektivitas sekaligus memperkuat fondasi ekonomi regional.

Bencana boleh menghentikan aktivitas untuk sementara, tetapi pemulihan harus menjadi momentum untuk membangun Aceh yang lebih terhubung, lebih tangguh, dan lebih produktif.

 

Editor: Caecilia Eersta

Berita Terkait