ASKARA - Ada kalanya sebuah pelukan lebih banyak bercerita daripada ribuan kata. Seperti yang terlihat di sebuah tempat terapi di Bintaro, Rabu lalu, ketika seorang ayah berkali-kali mencium dahi dan memeluk anak laki-lakinya.
Sebut saja namanya Pak Joko. Usianya sekitar 50-an tahun. Ia datang menemani putra bungsunya, Iwan, yang masih duduk di kelas III IPA di salah satu SMA swasta di Jakarta Selatan.
Di antara orang-orang yang menunggu antrean terapi, Pak Joko tampak gelisah. Sesekali matanya menerawang. Ia bukan hanya menunggu istrinya yang bekerja sebagai konsultan interior, tetapi juga menyimpan kekhawatiran panjang tentang masa depan anaknya.
Iwan dikenal sebagai anak yang pintar dan memiliki cita-cita besar. Ia sedang mengikuti bimbingan belajar di Bintaro dan berharap bisa melanjutkan pendidikan di bidang komputer Universitas Indonesia.
Dua kakaknya pun memiliki perjalanan pendidikan yang membanggakan. Sang kakak laki-laki menempuh program beasiswa S2 Teknik Industri di Milan, Italia, sementara kakak perempuannya kuliah Interior di ITB.
Namun, sejak duduk di bangku sekolah dasar, Iwan harus hidup berdampingan dengan epilepsi dan menjalani pengobatan dalam waktu panjang.
Kekhawatiran keluarga bertambah ketika hasil pemeriksaan menunjukkan fungsi ginjal Iwan menurun. Menurut cerita Pak Joko kepada Om Piet Dasion, nilai eGFR yang menjadi salah satu indikator fungsi ginjal sempat berada di kisaran 50-an persen.
Sebulan sebelumnya, Om Piet sempat bertemu Iwan dan menyampaikan kekhawatiran agar kondisi kesehatannya mendapat perhatian. Namun, ia menegaskan bahwa penyebab medis penurunan fungsi ginjal merupakan ranah dokter yang menangani Iwan.
Kini, ada kabar yang membuat keluarga sedikit bernapas lega. Pak Joko mengatakan fungsi ginjal anaknya menunjukkan peningkatan dan berada di kisaran 70-an persen setelah menjalani terapi.
Bagi sebuah keluarga, perubahan itu bukan sekadar angka di atas kertas. Ada harapan yang kembali tumbuh.
Pak Joko pun berkali-kali menghampiri Iwan. Ia mencium dahi dan kepala anaknya, kemudian memeluknya erat. Pemandangan sederhana itu membuat Om Piet terenyuh.
Sang ibu hanya memandangi putranya. Orang-orang yang berada di ruangan tersebut pun ikut terdiam dan mendengarkan kisah keluarga itu.
Setelah keluarga tersebut meninggalkan ruangan, seorang ibu yang berada di sana turut memberikan perhatian.
“Hebat ya, anak itu. Wajahnya sudah lebih cerah, progresnya bagus ya, Om?” ujarnya, seperti dituturkan Om Piet.
Harapan keluarga Iwan kini sederhana, tetapi sangat besar. Mereka ingin epilepsi yang dialami Iwan semakin terkendali dan fungsi ginjalnya tetap terjaga. Mereka juga berharap pengobatan yang dijalani dapat terus memberikan perkembangan yang baik di bawah pemantauan dokter.
Di balik semua itu, ada cita-cita seorang anak yang belum selesai. Iwan ingin kuliah, mengejar dunia komputer, dan terbang setinggi mungkin seperti kedua kakaknya.
Bagi Pak Joko dan istrinya, pendidikan dan masa depan Iwan bukan sekadar impian. Itu adalah alasan untuk terus berharap.
Dan sore itu, di tengah antrean terapi, sebuah pelukan seorang ayah seakan mengingatkan bahwa di balik setiap perjuangan kesehatan seorang anak, ada orangtua yang tidak pernah berhenti berdoa.
Semoga Iwan terus diberi kekuatan, kesehatannya membaik, cita-citanya tercapai, dan jalan panjang menuju masa depannya tetap terbuka.
Sebab bagi orangtua, harapan tidak pernah benar-benar berhenti.
Tuhan itu baik.