Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:42
NEWS

MaCiFIC 2026: Prof Rokhmin Sebut Ekonomi Biru adalah Game Changer Indonesia Emas 2045

MaCiFIC 2026: Prof Rokhmin Sebut Ekonomi Biru adalah Game Changer Indonesia Emas 2045
Prof Rokhmin Dahuri (foto.rd media)

ASKARA - Di tengah ancaman eksistensial peradaban manusia abad ke-21, Indonesia disebut memegang kunci masa depan dunia. Kuncinya ada di 77% wilayahnya yang berupa laut dan samudera.

Hal itu ditegaskan Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, Anggota DPR RI 2024-2029, dalam pidato kuncinya "BLUE ECONOMY: A GAME CHANGER FOR ACHIEVING GOLDEN INDONESIA 2045 AND A BETTER WORLD" pada The 6th Maritime Continent Fulcrum International Conference (MaCiFIC) 2026 di Kampus UMRAH Tanjungpinang, Jum'at 2 Oktober 2026.

Prof. Rokhmin memulai dari akar masalah: pertumbuhan penduduk yang mendorong gaya hidup kapitalisme mainstream - konsumerisme, keserakahan, self-interest, hedonisme, hegemoni dan kolonialisme modern.

Ditambah empat dinamika global: eskalasi geopolitik dan konflik bersenjata, perang dagang global, triple ecological crisis (polusi, hilangnya biodiversitas, pemanasan global), dan disrupsi Industri 4.0 (AI, IoT, robotika).

Dampaknya berantai: gangguan rantai pasok, inflasi, cuaca ekstrem, kenaikan permukaan laut, pengasaman laut, dan 54% terumbu karang dunia sudah memutih (data NOAA 2024). Solusinya bukan lagi pembangunan konvensional, tapi paradigma baru.

Mengapa Harus Laut?

Dalam pemaparannya, Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu menegaskan, saat sumber daya di darat terbatas, 80% permukaan bumi adalah laut. Abad 21 adalah Ocean Century.

Fakta global membuktikan pergeseran: Produksi perikanan tangkap dunia stagnan di 86-94 juta ton sejak 1980-an. Pada 2024, untuk pertama kalinya produksi akuakultur hewan akuatik mencapai 103 juta ton, melampaui tangkap. Total produksi perikanan dan akuakultur global pecah rekor 235 juta ton, menopang 600 juta mata pencaharian.

OECD mencatat ekonomi laut dunia menghasilkan USD 2,3 triliun dan 102 juta pekerjaan pada 2020, akan berlipat ganda pada 2030 dengan 500 juta pekerjaan baru. 80% barang perdagangan dunia diangkut lewat laut.

Dan Indonesia adalah raksasanya. Sebagai negara kepulauan terbesar (17.504 pulau, garis pantai 108.000 km terpanjang kedua dunia, luas laut 6,4 juta km2), Indonesia punya potensi ekonomi biru USD 1,348 Triliun per tahun atau 6 kali APBN 2024 dan 1,2 kali PDB nasional. Potensi serapan tenaga kerja 45 juta orang atau 36% angkatan kerja.

Rinciannya: Akuakultur (Budidaya Pesisir dan Laut) USD 210 Miliar, Bioteknologi Kelautan USD 180 Miliar, Industri & Jasa Maritim USD 200 Miliar, Energi dan Mineral USD 210 Miliar, dan 7 sektor lainnya.

Namun ironis, mayoritas masih mentah. Indonesia masih mendominasi ekspor rumput laut kering (66,61%), sementara olahan (karagenan & agar) hanya 33,39%. Padahal potensi hilirisasi rumput laut saja Rp 192 Triliun.

Kenapa potensi raksasa itu belum jadi kemakmuran? Guru Besar FPIK IPB University ini, blak-blakan menyebut 10 masalah:

1. 75% usaha akuakultur dan perikanan masih tradisional, di bawah skala ekonomi, tanpa teknologi dan tanpa rantai dingin. 2. Harga pakan naik, bibit unggul langka, hama penyakit. 3. Illegal fishing, destructive fishing, polusi, dan degradasi mangrove-terumbu karang-lamun. 4. Belum mengkapitalisasi bioteknologi kelautan. 5. Infrastruktur dan konektivitas buruk. 6. Riset dan litbang lemah. 7. SDM rendah. 8. Iklim investasi tidak kondusif - bunga pinjaman Indonesia 8,8% tertinggi kedua di ASEAN setelah Vietnam 9,3%, jauh di atas Thailand 4,2% dan Malaysia 5,3%. 9. Tata kelola buruk. 10. Kebijakan politik-ekonomi tidak konsisten.

Contoh paling telanjang: Jumlah nelayan tidak optimal. Di Laut Jawa, jumlah eksisting 700.000 nelayan padahal optimalnya hanya 246.872 nelayan. Di Selat Malaka, eksisting 250.100 padahal optimal 99.579. Total nasional eksisting 2,7 juta nelayan vs optimal 1,96 juta. Artinya overfishing dan kemiskinan struktural.

Rumus Keluar dari Jebakan

Untuk itu Honorary Ambassador Jeju Island & Busan Metropolitan City Korea Selatan tersebut menawarkan 5 Pilar Ekonomi Biru Berkelanjutan: 1) Produktivitas Ekonomi, 2) Keberlanjutan Ekologis, 3) Inklusivitas Sosial, 4) Sains, Teknologi & Inovasi, 5) Good Ocean Governance.

Dan rumus ekonomi yang jelas: Economic Growth = F (I,G,C,X-M) dan syarat emas: I + X > C + M, Pertumbuhan 7% per tahun berkualitas, Gini Ratio <0,3, dan berkelanjutan.

Targetnya: Dari GNI per kapita saat ini USD 4.910, kemiskinan 9,8%, pengangguran 6,9%, Gini 0,379, menjadi pada 2045: GNI USD 14.000-33.000, nol kemiskinan, nol pengangguran, Gini <0,30, kedaulatan pangan, energi, farmasi, dan Indeks Pembangunan Manusia di atas 90. Lintasan yang dibutuhkan: 5% pada 2025 naik bertahap hingga 8% pada 2029.

Peta jalan 9 jalur yang paling mencuri perhatian adalah transformasi industri.

Jalur 3: Akuakultur bukan lagi "lebih banyak ikan", tapi "produksi yang lebih baik, lebih cerdas, lebih sehat, bertanggung jawab" melalui IMTA, RAS, akuakultur lepas pantai, dan precision aquaculture.

Ia menegaskan Bioteknologi Kelautan adalah "pasar 4 kali lebih besar dari industri semikonduktor". Dari limbah kepiting, udang, lobster, dan bintang laut bisa jadi kitin-kitosan untuk implan ortopedi, implan gigi, implan jantung, hydrogel, hingga medical imaging. Dari tiram, dagingnya jadi peptida antioksidan dan anti-aging, cangkangnya jadi pupuk hayati dan water conditioner.

Bukti nyata ada di Kendal (AstaLuxe produksi 500 kg astaxanthin/bulan untuk ekspor AS-Korsel-Jepang) dan Semarang (ALBITEC produksi 500 kg spirulina/bulan).

Yang paling futuristik: Alga untuk biofuel. Ada 13 spesies mikroalga Indonesia berpotensi biofuel (dominan Nannochloropsis oculata 24%, Scenedesmus 22%). Dengan konversi 1000 L media jadi 22,5 mL crude oil, hanya dengan 0,33% luas laut Indonesia (2 juta hektar) kita bisa produksi 2 juta barel minyak per hari.

Menciptakan pekerjaan baru: aquaculture engineers, marine biotechnologists, AI specialists, blue-finance specialists. "Pendidikan maritim harus geser dari resource-oriented ke technology, entrepreneurship, innovation, sustainability-oriented. UMRAH punya peran strategis karena ekosistem inovasi tidak boleh hanya di Jawa," kata Ketua MAI (Masyarakat Akuakultur Indonesia) ini.

Penta Helix untuk Selamatkan Dunia

Transformasi ini butuh uang besar. APBN tidak cukup. Dibutuhkan Blue Finance Architecture: blue bonds, green-blue bonds, sustainability-linked loans, blended finance, climate finance.

Dan tidak bisa sendiri. Butuh Penta Helix: Pemerintah, Bisnis/Industri, Universitas, Komunitas, dan Media Massa yang berbasis Kreativitas dan Inovasi.

Kontribusi global Indonesia ada 6 jalur: Pangan Biru Berkelanjutan, Mitigasi Iklim (konservasi mangrove & lamun), Konservasi Biodiversitas, Konektivitas Maritim Berkelanjutan, Kerja Sama Sains-Teknologi, dan Kerja Sama Selatan-Selatan.

Ketua Dewan Penasihat ASPEKSINDO ini menutup dengan pesan pamungkas yang menjadi benang merah.

Dari ekstraksi menjadi pengelolaan (stewardship), dari komoditas menjadi produk bernilai tambah, dari produksi konvensional menjadi berbasis inovasi teknologi, dari degradasi ekologi menjadi pembangunan yang positif bagi alam, dari manfaat terpusat menjadi kemakmuran inklusif.

"Pesisir dan lautan bukan hanya warisan kita, mereka adalah masa depan kita. Jangan perlakukan mereka sebagai sumber daya untuk dieksploitasi, tetapi sebagai mitra dalam membangun planet yang lebih makmur, adil, tangguh, dan berkelanjutan," tegas Anggota International Scientific Advisory Board Center for Coastal and Ocean Development University of Bremen Jerman.

 

Editor: Husnie