Batam Bisa Jadi Dubai Kecil, Investor Global Mulai Melirik
ASKARA - Batam kembali berada di persimpangan penting peta investasi global. Berbekal posisi strategis di Selat Malaka dan berhadapan langsung dengan Singapura, kawasan ini dinilai memiliki peluang untuk naik kelas dari basis manufaktur menjadi salah satu simpul ekonomi dan teknologi regional.
Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, melihat momentum tersebut perlu ditangkap dengan kebijakan ekonomi yang lebih terbuka terhadap investasi dan ekspor, terutama ketika daya beli domestik menghadapi tekanan.
“Dalam situasi seperti ini di mana ada masalah daya beli, kebijakan ekonomi harus inovatif dan terus mencari alternatif,” kata Didik.
Menurut dia, Indonesia tidak cukup mengandalkan konsumsi domestik sebagai mesin pertumbuhan. Investasi dan aktivitas ekonomi yang terhubung langsung dengan pasar internasional perlu diperkuat.
Didik mencontohkan Vietnam yang dinilainya berhasil membangun orientasi ekonomi lebih terbuka terhadap investasi dan pasar global.
“Indonesia tidak akan pernah mencapai tingkat pertumbuhan 7-8 seperti dijanjikan jika menghindari kebijakan investasi dan ekspor yang berorientasi ke luar,” ujarnya.
Batam dan Pergeseran Investasi Global
Perubahan geopolitik dunia juga dinilai dapat membuka peluang bagi Indonesia untuk menawarkan destinasi investasi alternatif.
Didik tidak menyebut adanya eksodus modal dari Dubai, Abu Dhabi maupun Qatar. Namun, menurut dia, dinamika geopolitik dapat mendorong investor melakukan diversifikasi lokasi investasi.
“Peluang alternatif pergeseran investasi karena masalah geopolitik ini sebenarnya bisa menempatkan Indonesia menerima luapan gerak investasi tersebut,” katanya.
Dalam konteks itu, Batam memiliki sejumlah keunggulan. Selain berada di jalur perdagangan internasional, Batam memiliki fasilitas perdagangan bebas dan kawasan ekonomi khusus serta kedekatan dengan Singapura.
Posisi tersebut membuat Batam berpeluang menjadi salah satu pintu masuk modal internasional ke Indonesia.
Dari Gagasan Habibie ke “Dubai Kecil”
Pengembangan Batam sebagai kawasan berorientasi internasional bukan gagasan baru. Sejak era 1980-an, kawasan ini dikembangkan sebagai salah satu pusat industri dan perdagangan yang berorientasi keluar.
Fondasi pengembangan tersebut tidak terlepas dari peran Prof. B.J. Habibie dalam membangun Batam sebagai kawasan industri strategis.
Kini, skala ekonomi Batam telah berkembang jauh dibandingkan masa awal pengembangannya.
Didik bahkan melihat peluang untuk membawa Batam menuju level yang lebih tinggi.
“Dengan penduduk lebih dari 2 juta, Batam bisa direncanakan untuk menjadi ‘Dubai kecil’ di Sumatera,” ujarnya.
Istilah tersebut, kata dia, lebih menggambarkan ambisi menjadikan Batam sebagai kota ekonomi yang mampu menarik modal internasional dan menjadi simpul bisnis lintas negara.
Interaksi ekonomi dengan Singapura menjadi salah satu faktor yang dinilai memperkuat prospek tersebut.
“Pertumbuhan ekonomi kuartal yang lalu mencapai 7 persen dan dinamis karena saling berinteraksi dengan Singapura, yang sudah penuh sesak,” kata Didik.
Investor Teknologi Mulai Membidik Batam
Peluang lain yang kini berkembang adalah investasi berbasis teknologi tinggi.
Didik menyebut nilai investasi Batam pada 2025 mencapai sekitar Rp69,3 triliun. Dari angka tersebut, sektor digital disebut mencapai sekitar Rp8,56 triliun.
Rencana investasi yang dikaitkan dengan Nvidia juga menjadi perhatian. Investasi yang disebut bernilai sekitar US$4,5 miliar atau sekitar Rp80,55 triliun itu diarahkan untuk pengembangan infrastruktur pusat data dan kecerdasan buatan.
Rencana tersebut disebut melibatkan Firmus Technologies dari Australia dan Day One dari Singapura, dengan pengembangan Nvidia DSX AI Factory di kawasan Batam dan target operasi bertahap mulai 2027 hingga 2028.
Bagi Didik, kehadiran investor teknologi berskala besar berpotensi menciptakan efek berantai terhadap ekosistem bisnis.
“Dengan satu investor besar dan signifikan seperti ini, maka investasi Batam bisa baik 2-3 kali lipat,” ujarnya.
Ia mengibaratkan investor besar sebagai “kepala naga” yang dapat menarik badan dan ekornya, yakni perusahaan lain dalam rantai pasok dan ekosistem bisnis.
Tak Cukup Hilirisasi
Menurut Didik, peluang Batam juga menunjukkan bahwa strategi pertumbuhan ekonomi Indonesia perlu bergerak melampaui hilirisasi sumber daya alam.
Investasi teknologi tinggi, kata dia, perlu berjalan beriringan dengan kebijakan hilirisasi.
“Selain gempita dengan kebijakan mengolah sumber daya alam, kita perlu kebijakan investasi menarik teknologi tinggi seperti Nvidia untuk mendukung pertumbuhan ekonomi,” katanya.
Jika investasi teknologi berkembang, Batam berpotensi tidak hanya dikenal sebagai kawasan industri dan manufaktur, tetapi juga menjadi bagian dari rantai ekonomi digital regional.
Namun, peluang tersebut membutuhkan fondasi yang tidak kalah penting: kepastian hukum.
Konsistensi regulasi, kualitas infrastruktur, pelayanan investasi dan iklim usaha akan menentukan apakah modal yang masuk sekadar datang atau benar-benar berkembang dalam jangka panjang.
Didik menilai Batam telah memiliki sejumlah modal awal, mulai dari posisi geografis, status Free Trade Zone, kawasan ekonomi khusus hingga kedekatan dengan Singapura.
“Batam bisa menjadi ‘Dubai kecil’ di Sumatera karena sudah memiliki keunggulan sejak keberadaannya, strategis secara geografis, berimpit dengan kota global Singapura, ada di jalur pelayaran internasional,” katanya.
Menurut dia, kombinasi posisi strategis, fasilitas investasi dan peluang masuknya investor teknologi dapat membuka fase baru bagi Batam.
“Dengan dinamika yang ada dalam waktu dekat Batam bisa menjadi pintu masuk modal Timur Tengah dan Asia,” ujarnya.
Pada akhirnya, tantangan Batam bukan semata bagaimana menarik investor. Yang lebih penting adalah memastikan investasi yang masuk membangun ekosistem ekonomi, menciptakan lapangan kerja berkualitas, memperkuat industri pendukung dan meningkatkan posisi Batam dalam rantai pasok global.
Jika momentum tersebut dapat dikelola dengan regulasi yang konsisten dan pelayanan investasi yang kompetitif, Batam berpeluang bergerak dari sekadar kawasan industri menuju salah satu simpul ekonomi internasional Indonesia.Kalau ingin, judulnya juga bisa dibuat lebih tajam dan “menggigit” ala headline Askara, misalnya: “Batam di Ambang Lompatan Besar, ‘Dubai Kecil’ Mulai Dibayangkan”.

Komentar