Melati Suci Guruh Soekarnoputra, Bunga Putih untuk Indonesia
ASKARA - Ada lagu yang hanya terdengar di telinga. Ada pula lagu yang tinggal di hati. “Melati Suci”, karya Guruh Soekarnoputra yang diperkenalkan pada 1980, adalah salah satunya.
Melati yang putih dan harum dalam lagu ini bukan sekadar bunga. Ia menjelma simbol kesucian, keindahan budi pekerti, kecintaan kepada Ibu Pertiwi, sekaligus penghormatan kepada para pahlawan bangsa.
Dengan bahasa yang lembut, Guruh berbicara tentang Indonesia tanpa harus berteriak. Ketika melati dipersembahkan bagi pahlawan bangsa, terasa seperti sebuah ungkapan terima kasih dari generasi yang datang kemudian kepada mereka yang telah lebih dahulu berkorban.
Ada kesederhanaan yang justru membuatnya dalam.
Setangkai melati seakan menjadi doa.
Doa untuk mereka yang telah pergi. Doa untuk Indonesia. Dan doa agar nilai-nilai luhur tidak ikut hilang bersama perjalanan zaman.
Kini, ketika Guruh Soekarnoputra dikenang sebagai salah satu sosok penting dalam perjalanan seni dan kebudayaan Indonesia, “Melati Suci” terasa seperti warisan yang kembali mengetuk hati.
Guruh tidak sekadar menciptakan lagu. Ia meninggalkan cara mencintai Indonesia melalui kebudayaan dengan keindahan, kelembutan dan penghormatan.
Mungkin itu sebabnya lagu ini tetap terasa dekat setelah puluhan tahun.
Karena pada akhirnya, kita tidak hanya mendengar tentang melati.
Kita sedang diajak mengingat pahlawan, mencintai Indonesia, dan menjaga kesucian nilai yang diwariskan para pendahulu.
Selamat jalan, Guruh.
Melatimu tetap harum. Dan Indonesia akan selalu menjadi bagian dari nyanyianmu.

Komentar