Dari Dokter PTT hingga Kepala Dinas, Jejak Pengabdian Ester di Mappi
ASKARA - Dedikasi, loyalitas, dan integritas mengiringi perjalanan dr. Ester A. Rettob dalam mengabdi di Papua Selatan. Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 2002 itu memulai karier sebagai dokter PTT di Puskesmas Distrik Bomakia, Kabupaten Mappi, pada 2003.
Lebih dari dua dekade kemudian, perjalanan pengabdian tersebut membawanya ke posisi Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Kabupaten Mappi, yang dijabatnya sejak 2024 hingga kini.
Kepada Askara saat ditemui di Hotel MBS, Jakarta, Selasa (21/9/2026), perempuan berdarah Maluku Tenggara itu menceritakan perjalanan panjangnya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat Mappi.
Sebelum menduduki jabatan kepala dinas, Ester telah melewati berbagai posisi di lingkungan pemerintahan daerah. Ia pernah dipercaya sebagai Kepala RS Persiapan Mappi periode 2005–2009 dan kemudian mengemban sejumlah tugas di Dinas Kesehatan Kabupaten Mappi.
Pengalaman panjang di bidang kesehatan menjadi bagian penting dari perjalanan profesionalnya. Pada periode 2009–2023, Ester pernah menjalankan tugas sebagai Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan (Yankes) pada Dinas Kesehatan Kabupaten Mappi.
Ia juga pernah dipercaya sebagai Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit. Dalam posisi tersebut, Ester terlibat dalam perumusan kebijakan teknis, pelaksanaan program, hingga pengawasan kegiatan kesehatan masyarakat.
Menurut Ester, fokus utama saat itu adalah memperkuat upaya pencegahan penyakit, menekan risiko penularan, serta meningkatkan deteksi dini terhadap berbagai penyakit, termasuk penyakit tidak menular.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal ketika Ester dipercaya memimpin Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Kabupaten Mappi. Di posisi tersebut, ia aktif mendorong berbagai program kedinasan, antara lain sosialisasi Sekolah Siaga Kependudukan (SSK), pemberdayaan perempuan, serta program keluarga berencana.
Bagi Ester, pengabdian di pemerintahan bukan sekadar menjalankan rutinitas birokrasi. Ada tanggung jawab untuk memastikan program yang dirancang benar-benar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Di tengah kesibukannya sebagai aparatur pemerintah, Ester juga mulai memperluas kiprah melalui dunia kewirausahaan. Ia baru saja dilantik sebagai bagian dari kepengurusan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) DPC Kabupaten Mappi periode 2026–2031.
Keterlibatan tersebut tidak terlepas dari ketertarikannya terhadap dunia entrepreneurship. Menurut Ester, perempuan memiliki peluang besar untuk mengembangkan kemampuan di berbagai bidang, termasuk dunia usaha.
“Sebagai seorang perempuan kita harus smart, harus mampu mengembangkan berbagai bakat dan talenta,” ujar Ester.
Bagi perempuan yang telah lebih dari 20 tahun mengabdikan diri di Mappi itu, dunia birokrasi dan entrepreneurship bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kapasitas sekaligus memperluas kontribusi kepada masyarakat.
Perjalanan Ester dari seorang dokter PTT di sebuah puskesmas hingga dipercaya memimpin organisasi perangkat daerah menjadi gambaran panjang sebuah pengabdian. Dimulai dari pelayanan kesehatan di wilayah distrik, berlanjut melalui berbagai tanggung jawab di bidang kesehatan, hingga kini menangani isu pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, dan keluarga berencana.
Di tengah perjalanan tersebut, Ester memilih untuk terus bergerak. Baginya, pengabdian bukan hanya tentang jabatan yang diemban, tetapi tentang bagaimana pengetahuan, pengalaman, dan talenta dapat terus dikembangkan untuk memberi manfaat bagi masyarakat Mappi.

Komentar