Konsolidasi ALA di Aceh Tengah, Aktivis Siapkan Diskusi Publik dan Deklarasi Akbar
ASKARA - Perjuangan pembentukan Provinsi Aceh Leuser Antara (ALA) kembali mengemuka. Sejumlah tokoh, aktivis organisasi kepemudaan, mahasiswa, dan elemen masyarakat Gayo menggelar konsolidasi di Lut Tawar Cafe, Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah, Senin malam (21/9/2026).
Pertemuan yang berlangsung pukul 21.00 hingga 23.10 WIB itu dihadiri sekitar 30 orang. Mengusung tema “Bersatu, Berpikir, Bergerak untuk Perubahan yang Lebih Baik”, konsolidasi tersebut menjadi langkah awal menuju diskusi publik yang direncanakan berlangsung di Takengon.
Kegiatan dipimpin Ketua Umum Forum Bersama Laskar Merah Putih (FBLMP), Hamzah Tun. Hadir di antaranya tokoh pejuang ALA Win Arsadiyah, perwakilan KNPI, Pemuda Pancasila, GMNI, HMI, BEM Nusantara Aceh, Gerakan Pemuda ALA (GERPA-ALA), serta Aliansi Masyarakat Gayo.
Dalam pertemuan itu, para peserta membahas keberlanjutan perjuangan pemekaran, konsolidasi organisasi, kejelasan administrasi dan dasar hukum, hingga strategi memperluas dukungan masyarakat.
Hamzah Tun menegaskan, konsolidasi tersebut dimaksudkan untuk menyatukan kembali energi perjuangan ALA yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Ia mengajak peserta menjaga semangat kebangsaan dan melanjutkan perjuangan melalui jalur yang tertib.
“Perjuangan ALA oleh para pendahulu kita, mari kita lanjutkan. Semoga di masa kita ini akan terbentuk,” ujar Hamzah.
Ia menyebut diskusi publik di Takengon menjadi agenda lanjutan yang akan direalisasikan untuk membuka ruang dialog lebih luas. Hamzah menyampaikan rencana kegiatan tersebut akan melibatkan masyarakat dan berbagai elemen yang memiliki perhatian terhadap pemekaran ALA.
Menurut Hamzah, perjuangan pembentukan provinsi baru yang mereka dorong bukanlah tuntutan kemerdekaan, melainkan aspirasi pemekaran wilayah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Selagi kita menghormati Bendera Merah Putih, tidak perlu takut. Tujuan kita bukan meminta Aceh merdeka, tetapi meminta kepada pusat agar wilayah kami dimekarkan,” katanya.
Tokoh pejuang ALA, Win Arsadiyah, mengatakan perjuangan pemekaran telah berlangsung sekitar 27 tahun. Ia menilai konsolidasi menjadi momentum untuk membangun kembali wadah perjuangan yang lebih terarah dan melibatkan generasi baru.
Win juga menyoroti persoalan pemerataan pembangunan dan keadilan yang menurutnya menjadi salah satu alasan munculnya aspirasi pemekaran. Ia berharap berbagai elemen yang selama ini memperjuangkan ALA dapat menyatukan langkah dan memperjelas arah gerakan.
“Kita bersyukur hari ini timbul tenaga baru, pemikiran baru untuk meneruskan perjuangan ALA. Sekarang kita buat dulu wadahnya agar perjuangan ini menjadi kenyataan,” ujarnya.
Sementara itu, Iskandar Robi, Bendahara KNPI Aceh Tengah sekaligus Wakil Ketua Pembela Tanah Air (PETA) Aceh Tengah, menyampaikan bahwa aspirasi pemekaran perlu diperjuangkan sebagai kepentingan masyarakat Gayo, bukan kepentingan kelompok tertentu.
Ia mendorong konsolidasi yang lebih luas, termasuk dengan jaringan pendukung ALA di luar Aceh, serta meminta agar pergerakan ditata secara terorganisasi dan memiliki landasan administrasi yang jelas.
Dari kalangan mahasiswa, Sekjen BEM Nusantara Aceh, Asraf, menyoroti pentingnya kejelasan mekanisme hukum pembentukan daerah otonomi baru. Ia menyebut perlunya mengkaji jalur administrasi, regulasi pemekaran, serta kebijakan moratorium daerah otonomi baru yang berlaku.
Asraf juga mengusulkan agar diskusi terbuka digelar sebelum agenda besar pada Desember mendatang, sehingga masyarakat dapat memahami tujuan, mekanisme, dan tahapan perjuangan ALA.
Sejumlah peserta lainnya turut menekankan pentingnya pembenahan organisasi. Ketua Pemuda Pancasila Aceh Tengah, Zakaria Tarigan, mengusulkan pembentukan kepengurusan baru Komite Persiapan Pembentukan Provinsi Aceh Leuser Antara (KP3ALA) agar koordinasi, administrasi, dan pertanggungjawaban gerakan lebih terstruktur.
Ketua GMNI Aceh Tengah, Helmi Tuah Miko, juga mengingatkan agar berbagai elemen perjuangan tidak berjalan sendiri-sendiri. Menurutnya, penyatuan arah dan komunikasi penting agar masyarakat tidak bingung dalam memahami gerakan pemekaran.
Konsolidasi tersebut turut membahas rencana peringatan 21 tahun Deklarasi ALA pada 4 Desember 2026 di Aceh Tengah. Agenda itu direncanakan menjadi momentum untuk memperluas dukungan sekaligus menyuarakan kembali aspirasi pembentukan provinsi baru.
Ketua GERPA-ALA Aceh, Gilang Ken Tawar, menyampaikan bahwa pihaknya tengah mempersiapkan penguatan struktur organisasi di Aceh Tengah. Ia juga menyebut telah menerima draf persiapan kegiatan Milad ALA yang direncanakan berlangsung pada Desember mendatang.
Sebagai tindak lanjut, diskusi terbuka dengan jumlah peserta yang lebih besar direncanakan berlangsung pada awal Oktober 2026. Jadwal dan teknis kegiatan akan ditentukan oleh Hamzah Tun bersama unsur terkait.
Meski konsolidasi ini menunjukkan kembali menguatnya aspirasi pemekaran ALA di kalangan peserta, realisasi pembentukan provinsi baru tetap memerlukan kejelasan dasar hukum, pemenuhan persyaratan administratif, serta keputusan pemerintah sesuai peraturan perundang-undangan.
Konsolidasi di Takengon pun menjadi awal dari upaya menyatukan gagasan dan memperluas dialog mengenai masa depan ALA—sebuah aspirasi yang telah lama diperjuangkan dan kini kembali dibawa ke ruang publik oleh para tokoh, pemuda, mahasiswa, dan elemen masyarakat Gayo.

Komentar