Foto Dipakai Narasi Tolak ALA, Ketua GERPA Beri Ultimatum 1 Kali 24 Jam
ASKARA - Ketua Gerakan Pemuda ALA (GERPA), Gilang Ken Tawar, angkat suara menyikapi beredarnya konten TikTok yang menggunakan foto dirinya bersama sejumlah rekannya dalam sebuah kegiatan atau orasi, namun ditempatkan dalam narasi “KAMI TOLAK PROVINSI ALA.”
Gilang menilai penggunaan foto tersebut berpotensi menyesatkan publik karena dapat membangun persepsi seolah-olah dirinya berada di barisan masyarakat yang menolak perjuangan pemekaran Provinsi Aceh Leuser Antara (ALA).
Ia pun memberikan klarifikasi secara terbuka. Gilang menegaskan, dirinya tidak pernah menyatakan menolak Provinsi ALA. Sebaliknya, sebagai Ketua GERPA, ia menyatakan dukungan terhadap perjuangan pemekaran tersebut.
“Saya perlu meluruskan bahwa foto yang digunakan dalam konten tersebut adalah foto saya bersama rekan-rekan ketika sedang melakukan kegiatan atau orasi. Saya tidak pernah menyatakan menolak Provinsi ALA,” tegas Gilang, Sabtu (29/8/2026)
Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan bagian dari demokrasi yang harus dihormati. Siapa pun memiliki hak untuk menyampaikan dukungan maupun penolakan terhadap sebuah gagasan. Namun, kebebasan berpendapat tidak boleh dibarengi dengan penggunaan foto atau identitas seseorang secara tidak sesuai konteks.
“Saya menghormati setiap orang yang memiliki pandangan berbeda. Silakan menyampaikan pendapat, termasuk jika ada yang menolak ALA. Tetapi jangan menggunakan foto saya kemudian memberikan narasi seolah-olah saya berada di pihak yang menolak ALA. Itu tidak benar,” ujarnya.
Somasi dan Batas Waktu 1×24 Jam
Tidak tinggal diam, Gilang mengaku telah memberikan teguran terbuka melalui kolom komentar akun yang mengunggah konten tersebut. Ia meminta konten yang menggunakan fotonya segera dihapus serta disertai klarifikasi secara terbuka.
Gilang memberikan batas waktu 1×24 jam kepada pemilik akun untuk merespons permintaannya. Jika tidak ada itikad baik, ia menyatakan siap mempertimbangkan langkah hukum sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
“Saya sudah memberikan teguran secara terbuka. Saya meminta konten tersebut dihapus dan diberikan klarifikasi. Jika tidak diindahkan, tentu saya akan mempertimbangkan langkah lebih lanjut sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” katanya.
Bagi Gilang, persoalan tersebut bukan sekadar menyangkut penggunaan sebuah foto. Ada nama baik pribadi dan reputasi organisasi yang harus dijaga. Terlebih, dirinya merupakan Ketua GERPA yang memiliki posisi dan sikap organisasi yang jelas terkait perjuangan ALA.
Ia menilai masyarakat berhak mendapatkan informasi yang benar mengenai siapa yang menyampaikan suatu sikap dan apa sebenarnya sikap yang bersangkutan. Karena itu, penggunaan dokumentasi seseorang untuk mendukung narasi tertentu harus dilakukan secara bertanggung jawab.
Jangan Putarbalikkan Identitas
Gilang kembali mengingatkan seluruh pihak agar perbedaan pandangan mengenai ALA tidak berkembang menjadi pertarungan narasi yang mengaburkan fakta.
Menurutnya, mendukung atau menolak ALA merupakan pilihan politik dan sosial yang sah selama disampaikan secara bertanggung jawab. Yang menjadi persoalan adalah ketika foto atau identitas seseorang digunakan untuk membentuk kesan yang bertolak belakang dengan sikap sebenarnya.
“Berbeda pendapat itu biasa. Yang tidak boleh adalah membuat masyarakat salah memahami siapa yang berbicara dan apa sikap sebenarnya,” tegasnya.
Gilang memastikan posisi dirinya sebagai Ketua GERPA tidak berubah. Ia menegaskan bahwa klarifikasi tersebut disampaikan agar tidak ada informasi yang keliru mengenai dirinya maupun organisasi yang dipimpinnya.
“Saya tegaskan kembali, saya adalah Ketua GERPA dan saya berdiri dalam perjuangan ALA,” pungkas Gilang.

Komentar