Rabu, 26 Agustus 2026 | 12:16
SELEBRITAS

Film Musikal Dinilai Bisa Jadi Ruang Tumbuh Kreativitas Anak

Film Musikal Dinilai Bisa Jadi Ruang Tumbuh Kreativitas Anak
Peserta Diskusi Film Musikal bertajuk “Tantangan Film Musikal di Indonesia” yang menjadi bagian dari rangkaian Kreatif Merdeka Carnival 2026 (Dok Lisa)

ASKARA – Film musikal dinilai memiliki potensi lebih luas daripada sekadar menjadi tontonan hiburan. Genre ini dapat menjadi medium pendidikan yang membantu anak mengenali bakat, mengembangkan kreativitas, membangun kepercayaan diri sekaligus menanamkan nilai-nilai karakter.

Pandangan tersebut mengemuka dalam Diskusi Film Musikal bertajuk “Tantangan Film Musikal di Indonesia” yang menjadi bagian dari rangkaian Kreatif Merdeka Carnival 2026 – Pekan Diskusi Film Indonesia di PFN Heritage, Jakarta Timur, Senin (24/8/2026).

Diskusi menghadirkan aktris sekaligus pendidik anak Yessy Gusman, produser eksekutif film Sahabat Anak Herty Purba, serta ventriloquist cilik Afsheena Zerina Sofialdin. Diskusi dipandu produser dan penulis televisi, Rani Oktavia.

Yessy Gusman menilai potensi anak tidak semestinya diukur hanya dari prestasi akademik maupun peringkat di sekolah. Setiap anak, menurutnya, memiliki kecerdasan dan kemampuan berbeda yang perlu ditemukan serta dikembangkan.

“Kita semua adalah makhluk yang istimewa. Tidak ada manusia yang diciptakan tanpa memiliki kemampuan atau kecerdasan tertentu,” ujar Yessy.

Ia mengaitkan pandangan tersebut dengan konsep multiple intelligences atau kecerdasan jamak yang diperkenalkan Howard Gardner. Menurut Yessy, kecerdasan anak dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari musikal, kinestetik, linguistik, interpersonal, intrapersonal hingga naturalis.

Film, teater dan musik, lanjut Yessy, dapat menjadi ruang yang mempertemukan berbagai kecerdasan tersebut. Anak yang menghafalkan dialog mengembangkan kemampuan linguistik, sementara bernyanyi dan bermain musik mengasah kecerdasan musikal. Gerakan serta koreografi pun dapat mengembangkan kemampuan kinestetik.

“Anak-anak bisa bermain sambil belajar, mengembangkan keberanian, sekaligus menemukan kemampuan yang mereka miliki,” katanya.

Film Musikal sebagai Jembatan Anak dan Orang Tua

Sementara itu, Herty Purba mengatakan film Sahabat Anak dibuat dengan misi menghadirkan kembali kegembiraan dunia anak ke layar lebar. Di tengah maraknya YouTube, TikTok, gim, K-Pop dan animasi, menurutnya, masih diperlukan tontonan yang dapat dinikmati anak sekaligus orang tua.

“Kami ingin menghadirkan film yang tidak menggurui anak. Anak-anak diajak tertawa, bernyanyi, bermain, berimajinasi, sekaligus belajar tentang persahabatan,” kata Herty.

Pemilihan genre musikal bukan tanpa alasan. Musik dinilai mampu menyampaikan emosi dan pesan kepada anak secara lebih natural tanpa menghadirkan kesan sedang mengikuti proses belajar formal.

Namun, Herty menegaskan musik dalam film musikal tidak boleh sekadar menjadi pemanis atau soundtrack. Lagu harus menjadi bagian dari cerita, baik untuk memperkenalkan karakter, membangun konflik, memperkuat emosi maupun menyampaikan pesan.

Film Sahabat Anak sendiri mengangkat nilai persahabatan, keberanian, kasih sayang serta hubungan anak dan orang tua. Karena itu, film tersebut dirancang agar dapat menjadi tontonan lintas generasi.

Afsheena Buktikan Anak Bisa Berkembang di Dunia Film

Pengalaman berbeda disampaikan Afsheena Zerina Sofialdin. Ventriloquist cilik tersebut untuk pertama kalinya terlibat dalam produksi film musikal melalui Sahabat Anak.

Ia harus beradaptasi dengan proses kerja film, mulai dari memahami karakter, menghafalkan dialog, mengikuti arahan hingga menyesuaikan diri dengan adegan musikal.

Pengalaman Afsheena memperlihatkan bahwa bakat anak yang sebelumnya berkembang melalui panggung pertunjukan dapat terus diasah ketika diberikan kesempatan memasuki bidang kreatif lainnya.

Keterlibatan anak dalam produksi film musikal juga menjadi tantangan tersendiri. Menurut Herty, pemain anak dituntut mampu menggabungkan kemampuan akting, vokal, penghayatan emosi dan koreografi tanpa kehilangan karakter alami mereka sebagai anak-anak.

Hidupkan Kembali Lagu Anak Pak Kasur

Salah satu kekuatan Sahabat Anak adalah penggunaan sejumlah lagu anak karya Pak Kasur dengan izin dari pihak terkait.

Herty menilai lagu-lagu tersebut memiliki kesederhanaan sekaligus pesan kuat mengenai persahabatan, bermain, berbagi, mengenal lingkungan dan nilai kehidupan.

“Kami sangat bersyukur bisa menghidupkan kembali lagu-lagu karya Pak Kasur. Lagu-lagu tersebut sederhana, tetapi pesan dan nilainya sangat kuat,” ujarnya.

Menurut Herty, kehadiran kembali lagu anak dalam film juga menjadi upaya mempertemukan pengalaman generasi orang tua dengan dunia anak masa kini.

“Kami ingin mengembalikan kegembiraan anak Indonesia ke layar lebar. Anak-anak perlu memiliki ruang untuk tertawa, bernyanyi, bermain dan berimajinasi,” tuturnya.

Diskusi yang diselenggarakan PT Avatara Lintas Media tersebut menjadi bagian dari Kreatif Merdeka Carnival 2026. Forum ini sekaligus membuka ruang pembahasan mengenai tantangan produksi, proses kreatif dan masa depan film musikal anak di Indonesia.

Lebih dari sekadar genre hiburan, film musikal diharapkan dapat menjadi ruang belajar yang menyenangkan, tempat anak menemukan potensi diri, membangun keberanian, berkolaborasi dan mengenal nilai kehidupan melalui cerita, musik dan imajinasi.

 

Komentar