Gandeng Manchester University, UI dan UNDIP Rampungkan Evaluasi Akhir DKJPS di Desa Mendala
ASKARA – Program kolaborasi pengabdian masyarakat internasional skala besar untuk mitigasi kesehatan mental di Kabupaten Brebes, tepatnya di Desa Mendala, Kecamatan Sirampog, resmi berakhir dengan hasil yang sangat menggembirakan.
Setelah melewati perjalanan panjang selama delapan Minggu, sejak 16 April 2026 sampai 7 Juni 2026, tim ahli dari Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Diponegoro (UNDIP) kembali turun ke Desa Mendala Baru untuk melakukan supervisi akhir sekaligus menutup rangkaian kegiatan kemanusiaan pasca bencana tanah bergerak pada Mei 2025 lalu.
Program ini didanai oleh hibah pengabdian masyarakat World Class University (WCU) melalui DPIS UI. Dalam pelaksanaannya, tim UI dan UNDIP juga berkolaborasi dengan Poltekkes Kemenkes Semarang, UNISSULA, dan Manchester University.
Salah satu agenda krusial dalam kunjungan akhir tersebut pada 6 Juni 2026 melakukan evaluasi mendalam melalui pengukuran akhir (post-test).
Evaluasi ini dilakukan setelah seluruh kelompok usia mendapatkan terapi Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial (DKJPS) dari para kader yang telah dilatih.
Berdasarkan data riil yang dikumpulkan dari 344 responden lintas generasi, program ini terbukti sukses menurunkan angka kecemasan dan depresi warga secara signifikan.
Berdasarkan data responden, untuk Kelompok Anak Sekolah (7–9 Tahun, n=68)
Anak-anak menunjukkan pemulihan trauma yang luar biasa, dimana sebanyak 89,71 persen anak kini terbebas dari kecemasan (meningkat dari sebelumnya hanya 64,71 persen pada saat pre-test). Selain itu, gejala depresi berat pada anak turun drastis dari 8,82 persen menjadi tersisa 1,47 persen.
Kemudian untuk Kelompok Remaja (10–18 Tahun, n=81) Pendekatan aktivitas fisik terbukti efektif bagi usia remaja. Angka remaja yang terbebas dari gejala depresi melonjak dari 44,44 persen menjadi 72,84 persen saat post-test. Kasus kecemasan berat pada remaja juga berhasil ditekan dari 11,11 persen menjadi hanya 2,47 persen.
Selanjutnya Kelompok Dewasa (18–60 Tahun, n=138) sebagai pilar produktif keluarga, stabilitas mental kelompok dewasa meningkat pesat. Warga dewasa yang terbebas dari kecemasan melonjak dari 61,59
persen menjadi 92,03 persen serta warga yang terbebas dari depresi mencapai 93,48
persen. Menariknya, kasus kecemasan berat dan depresi berat pada kelompok ini berhasil ditekan hingga 0 persen (hilang sepenuhnya).
Kelompok Lansia (≥ 60 Tahun, n=57)
Terapi penenang seperti butterfly hug dan grounding memberikan dampak kedamaian yang besar bagi lansia. Lansia yang bebas dari rasa cemas melonjak lebih dari dua kali lipat, yaitu dari 40,35 persen menjadi 85,96 persen. Kasus kecemasan sedang dan berat di kalangan lansia kini juga berhasil diturunkan hingga 0 persen.
"Evaluasi akhir berbasis data kuantitatif ini membuktikan bahwa model intervensi berbasis komunitas ini sangat efektif. Warga tidak lagi merasa tidak berdaya; mereka kini memiliki mekanisme koping (coping mechanism) yang sehat untuk mengatasi trauma dan kecemasan secara mandiri," jelas perwakilan tim evaluasi pengabdian Prof. Budi Anna Keliat, S.Kp., M.App.Sc.
Ia juga menyampaikan, program mitigasi terstruktur ini membuktikan bahwa sinergi akademisi dalam dan luar negeri dapat menghasilkan dampak nyata di akar rumput.
Berawal pada pertengahan April lalu dengan pelatihan intensif kader, program dilanjutkan dengan pendampingan mandiri, monitoring ketat pada minggu keempat, hingga akhirnya ditutup di minggu kedelapan, jelasnya.
Keterlibatan aktif mahasiswa UI, UNDIP, para alumni, serta mahasiswa asing dari Timor Leste (UKSW) dan Kenya (Poltekkes Semarang) memberikan warna tersendiri.
"Kolaborasi ini sekaligus berhasil membawa metode mitigasi lokal ke kancah pembelajaran global," tambahnya.
Apresiasi Kepala Desa Mendala
Kepala Desa Mendala Muhammad Basori menyampaikan ucapan terima kasih saat menutup program kolaborasi pengabdian masyarakat.
Basori menyebutkan, kehadiran tim gabungan lintas negara ini dinilai tidak hanya membawa kesembuhan psikologis, tetapi juga menyalakan kembali harapan hidup warga sekitar yang sempat redup akibat bencana likuifaksi.
"Kami sangat bersyukur. Desa kami kini memiliki 53 'pahlawan kesehatan mental' yang siap siaga menjaga kondisi psikologis warga kami sehari-hari," ungkap Basori. [*]

Komentar