Empat Nyawa Melayang di Latsarmil KDKMP
ASKARA - Kabar wafatnya Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) kembali menggugah keprihatinan publik. Lebih dari sekadar duka, peristiwa ini menambah daftar korban menjadi empat peserta yang meninggal dalam pelaksanaan program serupa di berbagai satuan pendidikan.
Setiap kehilangan nyawa dalam sebuah program negara tidak boleh dianggap sebagai risiko yang lumrah. Apalagi ketika program tersebut bertujuan menyiapkan sumber daya manusia untuk mengelola koperasi desa, bukan mencetak prajurit tempur. Pertanyaan yang patut diajukan adalah, apakah metode pelatihan yang diterapkan telah benar-benar disesuaikan dengan profil peserta dan tujuan program?
Kementerian Pertahanan telah menyampaikan belasungkawa dan menjelaskan bahwa almarhum sempat mengeluhkan sesak napas sebelum mendapatkan penanganan medis. Penjelasan tersebut penting sebagai informasi awal, namun belum cukup untuk menjawab keresahan masyarakat. Publik berhak mengetahui penyebab pasti kematian, hasil evaluasi medis, serta apakah seluruh prosedur keselamatan dan pemeriksaan kesehatan telah dijalankan secara optimal sejak sebelum pelatihan dimulai.
Empat peserta meninggal dalam satu rangkaian program adalah angka yang tidak bisa dipandang sebagai kebetulan semata. Ini menjadi sinyal bahwa evaluasi menyeluruh perlu segera dilakukan. Bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan memastikan tidak ada lagi korban berikutnya.
Di sisi lain, semangat membangun disiplin, kepemimpinan, dan nasionalisme melalui pelatihan tentu merupakan tujuan yang baik. Namun, setiap metode harus mempertimbangkan prinsip keselamatan peserta. Disiplin dan ketahanan mental tidak boleh dibangun dengan mengabaikan aspek kesehatan, kesiapan fisik, maupun standar mitigasi risiko.
Pemerintah perlu bersikap terbuka terhadap hasil investigasi dan melakukan evaluasi independen terhadap penyelenggaraan Latsarmil. Transparansi justru akan memperkuat kepercayaan publik bahwa setiap kebijakan negara selalu mengutamakan perlindungan warganya.
Keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang lulus, tetapi juga dari kemampuan negara memastikan seluruh peserta kembali ke keluarganya dengan selamat. Sebab, tidak ada capaian program yang sebanding dengan harga sebuah nyawa.

Komentar