Silaturahmi Kebangsaan di UIN Abdul Muthalib Sangaji Ambon
Memperkuat Moderasi Beragama, Merawat Perdamaian Maluku
ASKARA -Dalam rangka memperkuat semangat moderasi beragama dan membangun budaya damai yang berkelanjutan, Romo Yos Bintoro, Pr., melaksanakan kunjungan silaturahmi dan dialog kebangsaan bersama civitas akademika Universitas Islam Negeri Abdul Muthalib Sangaji Ambon. Kunjungan tersebut diterima secara hangat oleh Rektor UIN, Prof. Dr. Abidin Wakano, M.Ag, beserta jajaran pimpinan kampus.
Pertemuan berlangsung dalam suasana penuh persaudaraan, keterbukaan, dan semangat kebangsaan. Dialog yang berkembang tidak hanya membahas dinamika kehidupan beragama di Maluku dewasa ini, tetapi juga menggali pengalaman historis masyarakat Ambon dalam menata kembali kehidupan bersama pascakonflik sosial yang pernah melanda daerah ini.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Abidin Wakano menegaskan bahwa perdamaian Maluku yang dirasakan saat ini bukanlah sesuatu yang hadir secara tiba-tiba, melainkan buah dari perjuangan panjang berbagai elemen masyarakat yang memilih jalan dialog dibandingkan kekerasan. Perdamaian dibangun melalui keberanian untuk saling mendengarkan, saling memaafkan, serta menempatkan nilai kemanusiaan di atas sekat-sekat identitas agama maupun kelompok.
Dengan penuh refleksi, Prof. Abidin mengenang keterlibatan banyak tokoh yang memberikan kontribusi besar dalam proses rekonsiliasi masyarakat Maluku, antara lain Prof. Ichsan Malik, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC, Pdt. Jacky Manuputty, para pemimpin agama, akademisi, tokoh adat, serta unsur TNI dan Polri yang bahu-membahu menghadirkan ruang dialog dan membangun kembali kepercayaan sosial masyarakat.
Menurut Prof. Abidin, salah satu kekuatan utama Maluku adalah kemampuan masyarakatnya untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal seperti Pela Gandong, yang menjadi jembatan persaudaraan lintas agama dan lintas negeri. Nilai budaya tersebut terbukti mampu menjadi fondasi sosial yang memperkuat proses penyembuhan luka-luka konflik sekaligus menumbuhkan harapan baru bagi generasi berikutnya.
Romo Yos Bintoro menyampaikan penghargaan mendalam atas kesaksian sejarah yang dibagikan. Menurutnya, pengalaman Maluku merupakan laboratorium perdamaian yang sangat berharga bagi Indonesia bahkan dunia internasional.
> "Perdamaian Maluku mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kekayaan yang dapat menjadi kekuatan ketika dikelola dengan semangat persaudaraan. Apa yang telah dibangun oleh para tokoh agama, tokoh adat, akademisi, pemerintah, serta TNI dan Polri di Maluku merupakan warisan moral yang harus terus diwariskan kepada generasi muda," ungkap Romo Yos.
Lebih lanjut, dialog tersebut juga menyinggung perkembangan gagasan moderasi beragama dalam konteks global. Semangat yang hidup di Maluku dinilai memiliki keselarasan dengan nilai-nilai yang ditegaskan dalam Dokumen Persaudaraan Manusia Abu Dhabi 2019 yang ditandatangani oleh Pope Francis dan Grand Imam Ahmed Al-Tayeb di Abu Dhabi. Dokumen tersebut menegaskan bahwa seluruh umat manusia adalah saudara dan dipanggil untuk membangun budaya dialog, saling menghormati, serta bekerja sama demi perdamaian dunia.
Nilai yang sama juga menemukan gaungnya dalam *Deklarasi Istiqlal 2024* yang menekankan pentingnya kerja sama lintas agama dalam menjaga martabat manusia, memperkuat persaudaraan, serta merawat bumi sebagai rumah bersama. Deklarasi ini menunjukkan bahwa agama-agama memiliki panggilan yang sama untuk menjadi kekuatan moral dalam menghadapi berbagai tantangan kemanusiaan, mulai dari konflik sosial, kemiskinan, hingga krisis lingkungan.
Dalam perspektif tersebut, UIN Abdul Muthalib Sangaji Ambon dipandang memiliki peran strategis sebagai pusat pendidikan yang tidak hanya mencetak generasi cerdas secara intelektual, tetapi juga membentuk pribadi-pribadi yang mampu menjadi pelopor dialog, toleransi, dan persaudaraan sejati.
Pertemuan ini semakin menegaskan bahwa pembangunan perdamaian tidak dapat dikerjakan oleh satu kelompok saja. Diperlukan sinergi antara lembaga pendidikan, komunitas keagamaan, tokoh adat, pemerintah, serta aparat negara untuk terus merawat ruang-ruang dialog yang sehat dan produktif. Moderasi beragama bukan sekadar konsep akademik, melainkan cara hidup bersama yang menghormati perbedaan, mengedepankan kemanusiaan, dan mengusahakan kebaikan bersama.
Di tengah berbagai tantangan zaman yang ditandai meningkatnya polarisasi sosial, arus informasi yang tidak selalu sehat, serta menguatnya sikap eksklusif di berbagai tempat, pengalaman Maluku menjadi kesaksian bahwa perdamaian dapat dibangun ketika masyarakat memilih persaudaraan daripada permusuhan, dialog daripada prasangka, dan kerja sama daripada perpecahan.
Dari Ambon, pesan itu kembali bergema: Orang basudara lebih kuat daripada segala bentuk perbedaan.
Salam sehat, berlimpah berkat.
+ Rm Yos Bintoro, Pr.

Komentar