Senin, 06 Juli 2026 | 19:58
COMMUNITY

Pasca HPN 2026, Pokja PWI Jaktim Pererat Silaturahmi dengan Ponpes Al-Malikiyyah Lebak

Pasca HPN 2026, Pokja PWI Jaktim Pererat Silaturahmi dengan Ponpes Al-Malikiyyah Lebak
Pokja Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kejaksaan dan Pengadilan Negeri Jakarta Timur melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Salafiyah Tarbiyatul Falah Al-Malikiyyah (Dok Erfan)

ASKARA - Dalam rangka mempererat silaturahmi serta membangun komunikasi dengan lembaga pendidikan keagamaan, Pokja Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kejaksaan dan Pengadilan Negeri Jakarta Timur melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Salafiyah Tarbiyatul Falah Al-Malikiyyah di Kampung Pasir Akmad, Desa Muara 2, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Selasa (10/2/2026).

Kunjungan tersebut dilaksanakan usai rombongan Pokja PWI mengikuti rangkaian kegiatan HPN di Alun-alun Kota Serang. Rombongan disambut langsung oleh pimpinan pondok pesantren, KH Zamzam atau yang dikenal sebagai Abi Zamzam, didampingi istri beliau, Siti Nurlelah (Umi Lelah).

Silaturahmi ini menjadi momentum untuk saling mengenal sekaligus menggali informasi terkait sejarah berdirinya pesantren, visi dan misi pendidikan, serta sistem pembelajaran salafiyah yang diterapkan dengan pendekatan kedisiplinan modern.

Abi Zamzam menjelaskan bahwa Pondok Pesantren Salafiyah Tarbiyatul Falah Al-Malikiyyah didirikan pada tahun 2013 dan mulai beroperasi secara menetap di lokasi saat ini sejak 2018 hingga 2019. Penamaan Al-Malikiyyah diambil dari nama orang tua beliau, sedangkan Tarbiyatul Falah berasal dari nama pesantren keluarga pihak istrinya.

“Alhamdulillah, pesantren ini telah berjalan sekitar delapan tahun. Kami berharap pondok ini terus berkembang dan mampu mencetak generasi yang berilmu, berakhlak, mandiri, serta bermanfaat bagi umat, baik di dunia maupun di akhirat,” ujar Abi Zamzam.

Ia menegaskan bahwa tujuan utama pendirian pesantren adalah membentuk generasi penerus yang memiliki ilmu agama yang kuat, karakter yang baik, serta kemandirian. Meski berhaluan salafiyah, sistem pendidikan dikembangkan dengan penguatan aturan dan kedisiplinan agar santri siap menghadapi tantangan zaman.

“Konsepnya salafiyah, namun kami perkuat dengan aturan yang jelas. Santri dibiasakan hidup disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab, tanpa membedakan latar belakang sosial maupun ekonomi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Abi Zamzam mengungkapkan bahwa pesantren masih membutuhkan dukungan sarana dan prasarana, terutama pembangunan masjid serta penambahan asrama, seiring bertambahnya jumlah santri setiap tahun. Kendati demikian, pesantren tetap berkomitmen memberikan akses pendidikan yang terjangkau bagi masyarakat.

“Tidak ada biaya pendaftaran, hanya sedekah seikhlasnya. Iuran bulanan sekitar Rp400 ribu sudah mencakup makan tiga kali sehari serta kebutuhan dasar santri,” ungkapnya.

Sementara itu, Umi Lelah memaparkan berbagai capaian prestasi santri yang telah mengharumkan nama Pondok Pesantren Salafiyah Tarbiyatul Falah Al-Malikiyyah di tingkat nasional melalui ajang Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadits (STQH) serta Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK).

Pada STQH Pontianak 2019, santri Siti Rosdiana meraih Juara 1 Hadits 100 Ma’assanad. Prestasi berlanjut pada STQH Maluku Utara 2021, di antaranya Sarmila Juara 3 Hadits 100 Ma’assanad, Siti Rosdiana Juara 2 Hadits 500 Bilassanad, Makinun Amin Juara 2 Hadits 100 Ma’assanad, Ary Afryady Juara Harapan 2, Hanifuddin Mukhtashor Juara Harapan 3 Hadits 500 Bilassanad, serta Nurhayati Juara Harapan 3 Hadits 100 Ma’assanad.

Prestasi nasional kembali diraih pada STQH Jambi 2023 melalui santri Siti Hafsoh yang meraih Juara 1 Hadits 500 Bilassanad. Selanjutnya pada STQH Kendari, Sulawesi Tenggara 2025, santri Alea Eka Silva meraih Juara 2 Hadits 100 Ma’assanad, disusul M. Yusuf Ardabily sebagai Juara Harapan 1 Hadits Ma’assanad. Selain itu, santri Sultan Saleh Amirulloh juga meraih Juara Harapan 3 Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Nasional di Wajo, Sulawesi Selatan.

“Prestasi bukan tujuan utama kami. Yang terpenting adalah keberkahan dan kemanfaatan ilmu bagi para santri. Prestasi hanyalah bonus dari proses pendidikan,” tutur Umi Lelah.

Dalam kesempatan tersebut, Abi Zamzam dan Umi Lelah turut menyampaikan ucapan Selamat Hari Pers Nasional (HPN) ke-80 kepada seluruh insan pers di Indonesia. Keduanya berharap pers nasional terus menjalankan perannya secara profesional, berimbang, dan menjadi mitra strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Melalui kegiatan silaturahmi ini, pihak pesantren berharap terjalin sinergi dan kepedulian dari berbagai pihak dalam mendukung pengembangan pesantren, khususnya bagi pendidikan santri dari kalangan kurang mampu.

 

 

Komentar