Minggu, 23 Agustus 2026 | 08:57
OPINI

Satu Anak Satu Bola, Tabiikk MaPAN FC

Satu Anak Satu Bola, Tabiikk MaPAN FC
Eddisyahputra (Dok Reva Deddy Utama)

Oleh: Reva Deddy Utama *

ASKARA - "Satu anak, satu bola.. . Walaahh...mimpi apalagi  nih Edisyah," itu guman aku ketika mendengar Edisyahputra punya rencana membagi, secara gratis, sebuah bola sepak untuk satu anak.

Itu reaksi aku setahun yang lalu. Sekarang Edisyah sudah mewujukan mimpi itu jadi nyata. Sekurangnya dia sudah membagi  3.000 bola  ke 3.000 anak  di kawasan Jabotabek,  beberapa kota di Jawa Barat dan Jawa Timur, serta Banda Aceh dan Papua.

Itu kerja bakti sosial  luar biasa. Banyak tantangan,  butuh  tenaga, pikiran, koneksi, ketelitian, kesabaran dan loyalitas. Saya kagum bercampur iri padanya.

Maklum, aku, dan juga kebanyakan insan sepak bola, hanya pandai bicara.  Kita berkoar, membangun sepak bola itu mesti dari hilir. Pemain hebat itu, dari pembinaan usia dini.

"Untuk membina usia dini  itu, mesti bla... bla...bla, dan harus bla...bla...bla... " begitu biasanya isi diskusi kita.  Ide setumpuk, tapi  kita tak mampu mewujudkannya.  

Edisyah dengan program 'Satu Bola Satu Anak ' menjawab dan sudah mendahuluinya. Itulah mengapa aku kagum dan iri.

Bagi anak-anak yang berlatih di Sekolah Sepak Bola (SSB) elit, punya bola sendiri sudah lazim. Bahkan mungkin satu anak, punya dua bola. Kualitasnya pun kelas satu. 

Tapi bagi ribuan anak tak mampu, di pinggir kota, punya bola sendiri hanya dalam mimpi. Bahkan mereka masih   bermain dengan bola yang kulit sudah tercabik-cabik, yang sudah tak layak pakai. 

Lantaran itu, bila  dikaji  program 'Satu Anak Satu Bola,' filosofinya tak sekadar pembinaan, tapi lebih dalam, yakni memassalkan sepak bola. 

Membuat anak-anak lebih dekat mengenal, menyukai dan meresapi pesona sepak bola, penuh canda tawa. Dan pada gilirannya menggelutinya dengan bahagia. 

Bila sebelumnya  si anak  menendang bola hanya saat berlatih di lapangan, kini dengan  bola milik sendiri  si anak bisa menyepak bola  di mana saja. Bahkan dia bisa tidur dengan bola dipelukannya. 

Dan jauh ke dalam lagi,  program 'Satu Anak Satu Bola'  adalah gerakan peduli sosial, membantu anak membangun mental positif dan prilaku sportif dan pribadi yang kuat.

Punya bola, dan sibuk bermain sepak bola tertanam nilai berkompetisi secara sportivitas. Si anak pun  jauh dari pengaruh buruk tatanan sosial  dan perubahan zaman, yang saat ini seram dan mengancam. 

"Awalnya banyak teman-teman tertawa. Justru itu yang membuat saya terpicu, ingin membuktikan bahwa  saya bisa," kata Edisyah, yang menganggap sepak bola sudah belahan hidupnya.

Edisyah mengakui, walau banyak yang tertawa, program 'Satu Anak Satu Bola' bisa berjalan berkat  bantuan kerabatnya juga. "Uang untuk beli bola, sumbangan dari teman-teman juga," ujar Edisyah .

Melalui  berita olahraga di televisi, aku melihat  bagaimana gembiranya anak-anak ketika mendapatkan bola dari Edisyah. Dari moment itu saya meyakini program 'Satu Anak Satu Bola' sangat bermanfaat, tak ada mudaratnya. 

Syukurlah program itu terus menggeliat. Sekarang sudah berkerjasama dengan Partai Amanat Nasional, di bawah bendera MaPAN FC. 

Penanganan semakin serius. Sudah pasti 'Satu Anak, Satu Bola', semakin eksis dan luas jangkaunya. Targetnya  akan membagi 5 juta bola. Wooww kerennn..

Bisa jadi bila pada perkembangannya, bukan cuma bola. Juga peralatan sepak bola lainnya, seperti jersey berlatih dan sepatu bola.

Dan akan lebih sensaional lagi bila MaPAN FC bisa menyediakan fasilitas lapangan sepak bola. Adalah fakta selain kurang, lapangan sepak bola untuk anak-anak tidak memadai.

Alhasil, suatu ketika nanti,  bila prestasi tim nasional sepak bola menembus pentas asia dan dunia, itu karena ada sumbangsih program 'Satu Anak Satu Bola' MaPAN FC. 

Itu memang harapan. Yang pasti Edisyah dengan MaPAN FC sudah melakukan azas  kemanfatan. Itu tidak perlu balasan dan penghargaan, cukup pengakuan.. Tabiikkkk!!!!

- RDU, saat Cibubur mulai gelap....

Penyuka Sepak Bola

 

Komentar