Dosen Unimus Luncurkan Video Edukasi Terapi Multimodal Hipertensi untuk Lansia
ASKARA - Dosen Spesialis Keperawatan Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Prima Trisna Aji, secara resmi meluncurkan inovasi video edukasi terapi kombinasi rendam kaki air hangat dan relaksasi napas dalam bagi pasien hipertensi. Peluncuran dilakukan pada Jumat (30/1/2026) bersamaan dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Posyandu Lansia Donohudan, Boyolali.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unimus, yang dilaksanakan selama tiga bulan dengan sasaran utama lansia penderita hipertensi.
Prima Trisna Aji menjelaskan, video edukasi tersebut dikembangkan untuk menjawab kebutuhan pasien terhadap media pembelajaran kesehatan yang mudah dipahami dan dapat diterapkan secara mandiri di rumah.
“Banyak pasien hipertensi mengalami kesulitan menjalankan terapi nonfarmakologis secara konsisten. Melalui video ini, pasien dibimbing langkah demi langkah melakukan self-management hipertensi, sehingga diharapkan mampu menurunkan tekanan darah dan mencegah komplikasi jangka panjang,” ujarnya.
Video edukasi ini dikembangkan secara kolaboratif bersama dosen Unimus Arie Shofyan Bhaidhowy serta dosen Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Dr. Elinda Rizkasari.
Salah satu peserta Posyandu Lansia Donohudan, Mbah Karmo, mengaku terbantu dengan kehadiran video edukasi tersebut. Menurutnya, materi disampaikan dengan bahasa sederhana, jelas, dan mudah dipraktikkan oleh lansia.
“Videonya jelas, pelan, dan bisa diulang di rumah. Jadi kami tidak takut salah saat praktik,” katanya.
Keterbaruan Inovasi
Keunggulan inovasi ini terletak pada penggabungan terapi fisik sederhana berupa rendam kaki air hangat dan teknik relaksasi napas dalam dalam satu media video terstruktur. Pendekatan ini berbasis edukasi keperawatan dan konsep self-management yang dikenal sebagai terapi multimodal.
Berbeda dengan edukasi konvensional yang bersifat lisan dan sesaat, video ini memungkinkan pasien belajar secara berulang, mandiri, dan berkelanjutan. Pendekatan tersebut memperkuat peran pasien sebagai subjek aktif dalam pengendalian hipertensi. Terapi multimodal ini juga terbukti mampu menurunkan tekanan darah pasien secara signifikan, yakni sekitar 30–40 mmHg dalam waktu relatif singkat.
Sebagai bentuk perlindungan dan pengakuan inovasi, video edukasi terapi kombinasi ini telah didaftarkan dan memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Ke depan, tim pengembang berharap inovasi ini dapat diadopsi lebih luas oleh fasilitas kesehatan tingkat pertama, posyandu lansia, serta program promotif dan preventif di berbagai daerah.

Komentar