Selasa, 21 Juli 2026 | 18:27
MILITER

Menembus Kabut dan Jurang, Prajurit Marinir Berjuang Evakuasi Korban Pesawat di Maros

Menembus Kabut dan Jurang, Prajurit Marinir Berjuang Evakuasi Korban Pesawat di Maros
Anggota Marinir di lokasi jatuhnya pesawat Indinesia Air (Dok Puspen TNI)

ASKARA - Di bawah langit pegunungan yang diselimuti kabut tebal dan medan yang nyaris tak bersahabat, prajurit petarung Korps Marinir TNI Angkatan Laut kembali menunjukkan makna sejati pengabdian. Prajurit Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan (Yonmarhanlan) VI Makassar bahu-membahu bersama Tim SAR gabungan melaksanakan operasi pencarian dan evakuasi korban jatuhnya pesawat ATR 400 milik Indonesia Air Transport di wilayah pegunungan Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Senin (19/1/2026).

Pesawat dengan rute Yogyakarta-Makassar itu sebelumnya dilaporkan hilang kontak saat melintas di kawasan pegunungan. Sejak komunikasi terputus, sektor darat dengan kontur ekstrem dan akses terbatas menjadi fokus utama pencarian. Tanpa ragu, prajurit Marinir segera digerakkan menuju titik-titik rawan, menyusuri hutan lebat dan mendaki jalur terjal yang penuh risiko.

Berbekal disiplin tempur, perlengkapan SAR, serta kemampuan navigasi medan ekstrem, para prajurit menyisir setiap celah harapan. Langkah demi langkah diayunkan di atas tanah licin, akar pepohonan, dan jurang curam, demi satu tujuan mulia: menemukan dan mengevakuasi para korban.

Cuaca yang berubah cepat, hujan yang turun tiba-tiba, serta jarak pandang terbatas menjadi tantangan berat. Namun semangat pantang menyerah prajurit Marinir tak surut. Operasi ini dilaksanakan secara terpadu bersama unsur TNI, Polri, pemerintah daerah, dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), menunjukkan kuatnya sinergi negara dalam menghadapi situasi darurat kemanusiaan.

Bagi prajurit Marinir, operasi ini bukan sekadar tugas. Ini adalah panggilan jiwa. Di tengah medan sunyi Pegunungan Maros, mereka hadir sebagai representasi negara, menjaga harapan, menguatkan kemanusiaan, dan membuktikan bahwa pengabdian kepada rakyat dan tanah air tak pernah berhenti, bahkan di batas kemampuan manusia sekalipun.

Operasi pencarian dan evakuasi masih terus berlangsung, dengan keselamatan tim dan penghormatan terhadap para korban tetap menjadi prioritas utama.

 

 

Komentar