Kamis, 04 Juni 2026 | 10:42
Editorial

Bara Adat Menyala, Senjata Tetap Dijaga: Sunyi Damai Papua

Bara Adat Menyala, Senjata Tetap Dijaga: Sunyi Damai Papua
Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III, Letjen TNI Bambang Trisnohadi, hadir di tengah masyarakat (Dok Pendam XVII)

ASKARA - Sebuah potret kontras namun sarat makna tergambar di Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah, Selasa (23/12). Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III, Letjen TNI Bambang Trisnohadi, hadir di tengah masyarakat dengan senjata lengkap. Di sekelilingnya, personel Satuan Tugas Yonif 112/Dharma Jaya bersiaga penuh. Namun tujuan kehadiran ini bukan semata pengamanan, melainkan merawat perdamaian.

Kunjungan tersebut bertepatan dengan pelaksanaan tradisi Bakar Batu bersama masyarakat Puncak Jaya dalam rangka menyambut Natal 2025. Sekitar 700 warga Hitadipa, para pendeta, tokoh adat, dan tokoh masyarakat berkumpul dalam satu lingkaran kebersamaan. Di tanah yang kerap diberitakan karena konflik, hari itu justru hadir suasana doa, harapan, dan rasa syukur yang menyatu dalam tradisi lokal.

Editorial ini mencatat satu pesan penting: keamanan dan kemanusiaan tidak harus saling meniadakan. Kehadiran seorang jenderal bintang tiga dengan perlengkapan tempur di tengah ritual adat menunjukkan realitas Papua yang kompleks. Namun di balik kesiapsiagaan militer, ada ikhtiar untuk membangun kepercayaan dan kedekatan dengan rakyat.

Dalam sambutannya, Pangkogabwilhan III menegaskan bahwa TNI tidak hanya bertugas menjaga stabilitas keamanan, tetapi juga merawat rasa kebersamaan, menumbuhkan harapan, serta menguatkan persatuan. Pesan ini relevan di Papua, wilayah yang membutuhkan lebih dari sekadar pendekatan keamanan, tetapi juga sentuhan dialog, budaya, dan empati.

Penyerahan bantuan sembako, bingkisan anak, dan boneka kepada warga—terutama anak-anak—menjadi simbol sederhana namun bermakna. Senyum polos anak-anak Hitadipa hari itu menjadi pengingat bahwa masa depan Papua ditentukan oleh seberapa tulus negara hadir melindungi sekaligus memelihara harapan generasi mudanya.

Seperti bara dalam tradisi Bakar Batu yang menyala perlahan namun menghangatkan, momen di Puncak Jaya ini mengajarkan bahwa perdamaian tidak selalu lahir dari pidato besar, melainkan dari kehadiran nyata, penghormatan pada budaya, dan kesediaan mendengar. Menyongsong Natal 2025, Papua kembali diingatkan bahwa jalan damai hanya bisa ditempuh jika keamanan dan kemanusiaan berjalan beriringan.

 

Komentar