Selasa, 21 Juli 2026 | 13:11
MILITER

Kisah Pelayanan Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI)

Letkol Soegihardjo, Gembala di Tengah Pasukan yang Gugur di Timor-Timur

Letkol Soegihardjo, Gembala di Tengah Pasukan yang Gugur di Timor-Timur
Letkol (Anumerta) R.E. Soegihardjo, Parohkat yang gugur di Timor-Timur (Dok OCI)

ASKARA - Sore yang tenang di bulan Agustus 1983 berubah menjadi duka mendalam bagi keluarga besar TNI dan masyarakat Timor-Timur. Mayor Tituler R.E. Soegihardjo, seorang Perwira Rohani Katolik (Parohkat) dari Pusat Pembinaan Mental ABRI, gugur dalam tugas di Desa Claras, Distrik Viqueque, saat melaksanakan misi pembinaan moral dan rohani menjelang peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-38.

Hari itu, lapangan desa tengah bersiap untuk pesta rakyat. Anak-anak berlarian, kaum muda menari Tebe-tebe, dan para ibu menyiapkan hidangan. Di tengah kegembiraan, Soegihardjo hadir bukan dengan senjata, melainkan dengan doa dan senyum teduh. “Bapak selalu mengajarkan bahwa tugas seorang Parohkat bukan hanya di altar, tapi juga di antara rakyat yang sedang terluka,” tutur Kolonel Laut (KH) Ignatius Maria Pundjung Triyogatama, putranya yang kini bertugas sebagai Sahli D Jemen Pok Sahli Koarmada RI (luar formasi).

Namun suasana damai itu berubah tragis pada 8 Agustus 1983. Sekitar pukul 17.30, kelompok bersenjata Fretilin, bersama ratusan Ratih, Hansip, dan warga sipil yang sebelumnya dibina oleh Satgas, menyerang pos TNI di Claras. Dalam kekacauan dan pengkhianatan itu, Mayor Soegihardjo gugur bersama tiga prajurit Zipur. Ia wafat di tanah yang telah ia kasihi dan doakan dengan sepenuh hati.

“Dia bukan sekadar perwira, tapi seorang gembala di tengah pasukan,” kenang Kolonel (Purn) Wazar Pulungan, sahabat seangkatannya. Ia menggambarkan Soegihardjo sebagai pribadi sederhana, penuh belas kasih, dan teguh dalam iman. Atas pengabdian dan pengorbanannya, pemerintah melalui ABRI menganugerahkan kenaikan pangkat luar biasa menjadi Letnan Kolonel Tituler Anumerta. Upacara pemakamannya digelar secara militer di Taman Makam Pahlawan Baucau pada 10 Agustus 1983, diiringi isak tangis prajurit dan masyarakat setempat.

Tujuh tahun kemudian, kisahnya kembali mengguncang hati. Dalam sebuah operasi militer di Viqueque tahun 1990, Kolonel (Purn) Fransiskus Lau menemukan seorang anggota Fretilin yang tewas dengan seragam TNI berpangkat Mayor atas nama Soegihardjo. “Saya merinding. Seolah-olah almarhum masih menjaga tempat itu,” ujarnya dengan suara bergetar.

Semasa hidupnya, Letkol Soegihardjo dikenal tidak hanya membina moral prajurit, tetapi juga menjalin kasih dengan masyarakat Timor-Timur, khususnya umat Katolik. Ia sering melayani pengakuan dosa bukan hanya di gereja, tetapi di bale-bale rumah warga. Ia berbicara tentang perdamaian dan cinta Tuhan yang melampaui sekat.

Kini, lebih dari empat dekade setelah gugurnya, nilai-nilai yang ditanamkan Letkol (Anumerta) R.E. Soegihardjo masih hidup dalam diri anak-anaknya. Selain Kolonel Laut (KH) Ignatius Maria Pundjung Triyogatama, ia juga adalah ayah dari Laksda TNI (Purn) Gregorius Agung Widjono Djalu. “Ayah tidak banyak bicara tentang tugasnya, tapi kami belajar dari caranya hidup, penuh pengorbanan, keheningan, dan iman yang tak goyah. Ia memberi makna baru tentang kepahlawanan,” tutur Gregorius.

Letkol (Anumerta) R.E. Soegihardjo bukan hanya pahlawan dalam seragam, tetapi juga teladan kasih yang menyalakan cahaya iman di tengah gelapnya konflik. Namanya tetap hidup sebagai simbol perwira rohani yang gugur demi cinta pada Tuhan, bangsa, dan sesama.

 

 

Komentar