Kamis, 04 Juni 2026 | 04:51
Editorial

Gereja Sinodal, Gereja yang Bergerak Bersama

Gereja Sinodal, Gereja yang Bergerak Bersama
Kardinal Suharyo foto bersama sejumlah peserta dari Keuskupan untuk Umat Katolik di Lingkungan TNI-Polri, dan dari kategorial sejumlah keuskupan (Dok OCI)

ASKARA - Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025 yang berlangsung pada 3-7 November di Jakarta telah menjadi momen bersejarah bagi Gereja Katolik di Tanah Air. Tidak sekadar pertemuan lima tahunan, SAGKI kali ini menjadi ruang permenungan mendalam tentang arah perjalanan Gereja di Indonesia dalam semangat sinodalitas, berjalan bersama umat Allah di tengah dunia yang terus berubah.

Tema besar yang diangkat, yakni "Gereja yang Sinodal: Persekutuan, Partisipasi, dan Misi", bukanlah sekadar slogan. Ia merupakan panggilan konkret bagi Gereja di Indonesia untuk membuka diri, mendengarkan suara umat, dan memperbarui cara hadir di tengah masyarakat. Dalam masa yang ditandai oleh derasnya arus digitalisasi, konflik sosial, serta tantangan moral dan ekologis, Gereja dituntut tidak hanya hadir sebagai saksi iman, tetapi juga sebagai rumah yang menyembuhkan dan mendamaikan.

Selama lima hari, para uskup, imam, biarawan-biarawati, dan kaum awam berdialog dalam semangat persaudaraan. Mereka berbagi pengalaman iman, mendengarkan jeritan kaum kecil, serta menegaskan kembali misi Gereja untuk terlibat aktif dalam membangun bangsa. Di sinilah semangat sinodalitas menemukan maknanya: bukan dalam perdebatan teologis semata, melainkan dalam keberanian untuk berjalan bersama, saling mendengar, dan bekerja bagi kesejahteraan bersama.

Dalam homilinya pada Misa Penutupan, Kardinal Ignatius Suharyo mengingatkan, karya Roh Kudus selalu menyertai Gereja, bahkan dalam keterbatasan dan ketidaksempurnaan manusia. Ia menegaskan, SAGKI bukanlah akhir dari proses, melainkan awal dari langkah baru. Roh Kuduslah yang menuntun Gereja agar tidak kembali pada kebiasaan lama setelah sidang usai, tetapi terus bergerak menuju pembaruan sejati.

SAGKI 2025 juga memperlihatkan wajah Gereja yang semakin terbuka terhadap dialog lintas agama dan budaya. Kehadiran tokoh lintas iman, seperti Prof. Philip K. Widjaja dari Persatuan Umat Buddha Indonesia, menegaskan semangat inklusif dan persaudaraan universal yang menjadi ciri khas Gereja di Indonesia. Dalam konteks bangsa yang plural, Gereja dipanggil menjadi jembatan, bukan tembok; menjadi garam dan terang, bukan penonton dalam gelapnya kehidupan sosial.

Kini, pasca SAGKI, tanggung jawab berpindah ke setiap keuskupan dan paroki. Semangat sinodal harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata: mendengarkan umat di akar rumput, memberi ruang bagi kaum muda, memperhatikan mereka yang terpinggirkan, serta memperbarui cara berpastoral yang lebih partisipatif. Gereja tidak boleh hanya sibuk dengan urusannya sendiri, tetapi harus menjadi bagian dari denyut nadi masyarakat.

Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia 2025 telah menutup tirainya dengan penuh sukacita. Namun bagi Gereja, inilah saatnya membuka lembaran baru: menjadi Gereja yang berjalan bersama, yang rendah hati mendengar, dan berani melangkah dalam terang Roh Kudus menuju masa depan yang lebih penuh kasih dan harapan.

 

 

Komentar