Senin, 20 Juli 2026 | 02:57
Editorial

Kebanggaan Bangsa di Panggung Dunia

Kebanggaan Bangsa di Panggung Dunia
Presiden Soekarno ketika berpidato di Sidang Umum PBB (Dok UN)

ASKARA - Kehadiran Presiden Prabowo Subianto di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-80 pada 23 September 2025 menjadi momen penting yang layak disambut dengan kebanggaan. Prabowo akan berdiri di podium yang sama dengan para pemimpin dunia, menyuarakan pandangan Indonesia tentang perdamaian, keadilan, dan kerja sama global. Ini bukan sekadar kehadiran seremonial, tetapi wujud kepercayaan diri bangsa yang telah lama berperan aktif dalam membentuk tatanan dunia yang lebih adil.

Sidang Umum PBB adalah forum tertinggi musyawarah global, di mana setiap negara, besar maupun kecil, memiliki hak suara yang setara. Dari sinilah lahir keputusan-keputusan penting yang memengaruhi arah peradaban dunia. Ketika Presiden Prabowo tampil sebagai pembicara ketiga setelah Presiden Brasil dan Amerika Serikat, Indonesia tidak hanya hadir sebagai pendengar, melainkan sebagai negara yang ikut menegaskan posisi dan gagasan. Momentum ini mengingatkan kita bahwa Indonesia bukan sekadar penonton dalam percaturan internasional, melainkan salah satu pemain utama yang suaranya diperhitungkan.

Kehadiran Prabowo juga menegaskan kesinambungan tradisi diplomasi Indonesia. Sejak era Soekarno, Indonesia telah menunjukkan keberanian berbicara di hadapan dunia. Bung Karno pada 1960 mengguncang Sidang Umum PBB dengan pidato visioner To Build the World Anew, memperkenalkan Pancasila sebagai tawaran ideologi bagi perdamaian dan kesetaraan dunia. Soeharto menyuarakan “Pesan Jakarta” yang mewakili aspirasi Gerakan Non-Blok. Susilo Bambang Yudhoyono membawa agenda perdamaian dan pembangunan, sementara Megawati Soekarnoputri dan Joko Widodo melanjutkan semangat diplomasi yang menekankan kemandirian dan kerja sama. Kini, giliran Prabowo melanjutkan estafet sejarah itu.

Sebagai bangsa, kita patut menaruh harapan besar. Di tengah tantangan global, perang, krisis pangan, perubahan iklim, Indonesia memiliki modal kuat, yakni, posisi strategis, kekayaan sumber daya, dan prinsip politik luar negeri yang bebas aktif. Pidato Presiden Prabowo di PBB harus mencerminkan nilai-nilai Pancasila, yang sejak lama menjadi panduan moral Indonesia dalam membangun dunia yang damai dan berkeadilan. Suara Indonesia bukan sekadar suara pemerintah, melainkan cerminan aspirasi 280 juta rakyat yang mendambakan tatanan dunia tanpa penindasan dan ketimpangan.

Momen ini bukan hanya kebanggaan diplomatik, tetapi juga pengingat bagi kita semua. Bangsa Indonesia harus terus memupuk rasa percaya diri sebagai bangsa besar yang dihormati dunia. Kebanggaan itu tidak berhenti di forum internasional, melainkan harus diwujudkan dalam kerja nyata, memperkuat persatuan nasional, membangun kemandirian ekonomi, menjaga lingkungan, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Hanya dengan begitu, pidato di panggung PBB bukan sekadar kata-kata, tetapi pantulan dari kekuatan moral dan kemajuan bangsa.

Ketika Presiden Prabowo melangkah ke mimbar Sidang Umum PBB, sejatinya yang berbicara bukan hanya seorang kepala negara, melainkan suara sejarah, nilai, dan martabat bangsa Indonesia. Itulah kebanggaan sejati, berdiri sejajar dengan bangsa lain, membawa pesan perdamaian, dan menegaskan bahwa Indonesia adalah bagian penting dari upaya membangun dunia yang baru dan lebih baik.

 

 

Komentar