Sabtu, 04 Juli 2026 | 13:16
COMMUNITY

Harukan Wisuda UMSU, Mahasiswi Kristen Dapat Beasiswa S2 Usai Berpantun di Depan Mendikdasmen

Harukan Wisuda UMSU, Mahasiswi Kristen Dapat Beasiswa S2 Usai Berpantun di Depan Mendikdasmen
Laura Amandasari Sitindaon wisudawati fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara dapatkan S2 dari Mendikdasmen Prof Dr Abdul Mu'ti M Ed. (Dok Askara)

ASKARA - Suasana wisuda Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Periode I 2025 berubah haru sekaligus hangat saat Laura Amandasari Sitindaon, wisudawan beragama Kristen Protestan, menyampaikan pidato penuh makna dan toleransi. Acara berlangsung di Medan, Selasa (8/7/2025), dan turut dihadiri Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof Dr Abdul Mu'ti M Ed, yang juga Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Laura mengakhiri pidatonya dengan pantun jenaka, memohon beasiswa S2 di hadapan rektor dan tamu undangan.

"Dari Klaten ke Argentina, tidak lupa ke kota Kudus. Agar si Kristen ini tidak kemana-mana, adakah S2 beasiswa Pak, sampai lulus?" ucapnya disambut tawa dan tepuk tangan hangat hadirin.

Respons positif pun datang dari Menteri Abdul Mu’ti. Dalam pidatonya, ia menyampaikan dukungan atas permintaan Laura secara simbolik.

"Pesannya saya kira sudah sampai. Insya Allah aspirasinya bisa dipenuhi oleh Pak Rektor. Kalau tidak, saya akan gunakan otoritas saya sebagai Sekum PP Muhammadiyah," ujar Mu’ti yang disambut tepuk tangan.

Tak lama, Rektor UMSU Prof Dr Agussani MAP langsung merespons dengan membalas pantun yang mengonfirmasi bahwa Laura resmi mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi S2 di UMSU.

"Terbang tinggi si burung cendana, terbang berpaut si burung tempua. Laura jangan kemana-mana, Anda telah resmi menjadi mahasiswa S2," ujar Agussani.

Kisah Toleransi di Kampus Muhammadiyah

Laura, lulusan Fakultas Hukum UMSU, dalam pidatonya juga membagikan kisahnya sebagai minoritas Kristen di kampus Islam. Ia bercerita pernah diterima di perguruan tinggi lain dengan beasiswa, namun memilih UMSU demi dekat dengan keluarga di Sumatera.

Saat awal masuk, ayahnya sempat khawatir Laura akan dikucilkan karena latar belakang agamanya. Namun, keraguan itu pupus seiring perjalanan Laura di UMSU.

"Pak, aku nggak dikucilkan. Aku diterima di sini," ucap Laura menirukan jawabannya kepada sang ayah.

Selama kuliah, Laura aktif dalam berbagai kegiatan, termasuk menjadi Sekretaris Komunitas Peradilan Semu, Ketua Delegasi National Moot Court Competition, dan pelatih di Universitas Asahan. Ia juga terlibat dalam program Wakaf Al-Qur’an selama Ramadan 2024, membuktikan keterbukaannya dalam keberagaman.

"Ini bukan sekadar pengalaman lintas iman, tapi pelajaran tentang kebersamaan, toleransi, dan kemanusiaan," ujarnya.

Laura menutup pidato wisudanya dengan pernyataan kuat soal keberagaman yang ia alami di UMSU.

"UMSU mengajarkan saya bahwa rasa hormat, kasih, dan toleransi adalah fondasi peradaban. Sampai detik ini saya wisuda, saya masih sebagai seorang Kristen Protestan di tengah-tengah ramainya wisudawan muslim," katanya dengan suara bergetar.

Penegasan Kampus Inklusif

Momen ini menjadi simbol kuat toleransi dan inklusivitas di perguruan tinggi Muhammadiyah. UMSU menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam dan kebhinekaan bisa berjalan seiring di ruang akademik.

Pidato Laura menjadi viral di media sosial dan mendapat banyak pujian atas keberaniannya dan pesan toleransi yang mendalam. Tayangan lengkap momen haru ini dapat disaksikan melalui kanal YouTube Cerita UMSU.

 

 

Komentar