Rabu, 17 Juni 2026 | 18:19
COMMUNITY

Genosida, Damai Palsu, dan Teater Trump

Genosida, Damai Palsu, dan Teater Trump
Ilustrasi

ASKARA - Ketika Trump bersandiwara di panggung damai, rudal Amerika menghujani Teheran. Ucapan manisnya hanya asap tipis yang menyembunyikan bara kekejaman. Dunia menyaksikan aktor-aktor lama berpura-pura jujur di panggung lama yang sama: genosida oleh Israel, disponsori diam-diam oleh Amerika. Siapa sebenarnya yang lebih berbahaya: penyerang atau pendana senyapnya?

“Amerika sama bersalahnya dengan Israel dalam melakukan genosida,” ujar Mahathir Mohamad tanpa tedeng aling-aling. Dan ia benar. Jika Israel adalah tangan yang memukul, maka Amerika adalah otak di balik kepalan itu. Genosida bukan sekadar tindakan membunuh secara masif tetapi juga tentang sistematisasi kekuasaan yang membiarkan, membenarkan, bahkan membiayai pembantaian. Dan dalam hal ini, Washington telah lama lulus dengan predikat sangat memuakkan.

Netanyahu disebut “binatang” oleh Mahathir. Terlalu sopan, barangkali. Karena binatang membunuh untuk bertahan hidup, sementara Netanyahu membunuh demi kekuasaan, hasrat tanah, dan supremasi palsu. Tapi sang binatang itu tidak sendiri. Di belakangnya, berdiri kokoh sebuah imperium tua bernama Amerika Serikat pura-pura menjadi wasit, padahal ikut menendang dari balik semak.

Dan di tengah semua ini, Trump muncul, seperti biasa, dengan kostum pahlawan. Di depan kamera, ia berucap: “Kami berharap tidak akan ada lagi kebencian.” Retoris. Melelahkan. Karena di waktu yang sama, pesawat tempur Amerika meledakkan Timur Teheran. Saat satu tangan mengangkat simbol damai, tangan lainnya menyalakan api neraka. Sejak kapan mereka jujur?

Mantan Presiden yang dulu dikenal sebagai bintang reality show itu tampaknya masih sangat mencintai panggung. Ia berseru di Truth Social: “SELAMAT KEPADA SEMUA ORANG!” seolah baru saja memenangkan undian amal. Padahal, yang sedang terjadi adalah kematian dan kehancuran yang terus bertambah. Kata “damai” di mulut Trump tidak lebih dari properti dalam teater delusi Amerika.

Irene Montero, anggota parlemen Spanyol, bahkan menyebut Amerika dan “Israhell” (begitu ia menyebutnya) sebagai ancaman terbesar umat manusia. Tak banyak yang berani bicara sefrontal itu, tetapi semakin lama, kebenaran itu menjadi terlalu besar untuk disembunyikan. Jika selama ini dunia mempercayai narasi Barat sebagai kebenaran mutlak, maka hari ini, semakin banyak orang membuka mata: ternyata yang mereka anggap polisi dunia, sejatinya adalah preman berkedok pelindung.

“Terima kasih Iran, sudah mengingatkan saya. Saatnya dunia berdamai,” ucap Trump dengan wajah datar. Tapi dunia tahu, ucapan itu hanyalah bagian dari skrip. Iran menyerang, tapi memberi peringatan dini dan itulah yang “disyukuri” Amerika. Tapi jika memang tidak ada korban dan kerusakan, mengapa perlu ada penyerangan balasan semalam ke Teheran? Apa gunanya diplomasi jika rudal tetap diluncurkan?

Amerika tidak pernah jujur. Mereka berbicara tentang hak asasi, tetapi memenjarakan suara-suara minoritas di negerinya sendiri. Mereka menuding negara lain sebagai teroris, padahal bom-bom mereka telah menewaskan ratusan ribu warga sipil di Irak, Afghanistan, Libya, dan kini... Iran dalam daftar berikutnya?

Ironi terbesar dalam tragedi ini adalah ketika para pelaku ingin tampil seolah korban. Trump ingin tampil sebagai juru damai, padahal ia bagian dari sumber kekacauan. Israel ingin dikasihani karena roket Hamas, tapi lupa bahwa mereka membunuh ribuan anak Palestina setiap tahun. Dunia diminta menangis untuk satu, tapi diminta menutup mata untuk seribu lainnya.

Sementara itu, media internasional terlalu sibuk dengan pencitraan. Mereka menyiarkan pidato Trump tanpa menggali kontras antara ucapan dan tindakan. Mereka memberi ruang untuk narasi damai sambil mengabaikan bunyi dentuman semalam di langit Timur Tengah. Inilah kegagalan media global: terlalu sering menjadi corong propaganda daripada penjaga nalar publik.

Amerika dan Israel bukan sekadar dua negara, mereka kini menjadi simbol dari sistem global yang membiarkan kekejaman asal ada kepentingan. Dunia tidak butuh sandiwara perdamaian; dunia butuh kejujuran. Dunia tidak perlu lagi konferensi damai yang disponsori pelaku kejahatan perang. Dunia butuh pertanggungjawaban.

Dan kepada mereka yang masih percaya bahwa Trump atau siapa pun dari Gedung Putih benar-benar peduli dengan perdamaian, mungkin sudah waktunya bercermin. Tidak semua yang memakai jas putih itu malaikat. Kadang, iblis pun suka tampil elegan.

Trump bilang, “Kami akan mendorong Israel untuk melakukan hal yang sama.” Sama dengan siapa? Dengan Iran yang membalas tapi memberi peringatan? Atau dengan Amerika yang menyerang tanpa malu-malu dan mengaku tidak ada korban? Ini bukan ajakan damai. Ini ejekan tersembunyi.

Netanyahu seharusnya diadili. Tapi sebelum sampai ke sana, mungkin kita perlu lebih dulu membongkar siapa yang menyediakan panggung, lighting, dan mikrofon. Karena dunia terlalu lama ditipu oleh panggung yang gemerlap tanpa sadar, darah yang mengalir di bawahnya mulai membanjiri nalar kita sendiri.

Sudah saatnya publik dunia bangkit dari hipnosis retorika Barat. Cukuplah sandiwara ini jadi pelajaran terakhir. Karena genosida yang dibungkus kata damai adalah bentuk kebohongan paling kejam dalam sejarah manusia modern. Dan aktor-aktor utamanya, masih terus naik panggung, sambil tersenyum. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar