Kemunculan Kampung Anggur Munjul
Penggerak Perekonomian Warga dengan Varietas Unggul Asal Ukraina
ASKARA - Pandemi Covid-19 yang ikut berdampak terhadap perekonomian Indonesia memunculkan inisiatif dari warga di Kelurahan Munjul, Jakarta Timur, untuk mencari jalan keluar atas permasalahan yang mereka hadapi.
Sebagai solusi dari pembatasan aktivitas di luar ruangan yang diberlakukan oleh pemerintah saat itu, warga yang mendiami wilayah RT 09, Kelurahan Munjul, memulai sebuah gerakan berbasis pertanian dengan membudidayakan tanaman anggur.
Tak disangka, gerakan pemanfaatan lahan kosong di tengah padatnya pemukiman ibukota ini pada akhirnya membuahkan hasil yang manis, semanis varietas anggur andalan yang mereka datangkan dari Ukraina.
"Inisiatif ini dimulai sejak awal pandemi COVID-19, daripada tidak ada kegiatan, dimulailah inisiatif menanam anggur karena tanaman anggur nggak perlu lahan luas, teralis sudah cukup. Anggur juga ternyata tumbuh di tempat yang banyak kena sinar matahari, yang selama ini orang kira tumbuh di tempat dingin," tutur Ketua RT.09 Munjul, Lukman Widodo di sela kampanye rebranding Si Manis Munjul, yang diinisiasi oleh mahasiswa dan dosen LSPR, di Waduk Hambalat Munjul, Cipayung, Jakarta Timur, Minggu pagi (22/6).
Lukman mengaku, awalnya warga setempat mencoba menggunakan bibit anggur lokal untuk dibudidayakan. Namun, anggur jenis ini dirasa masih memiliki kekurangan karena meninggalkan rasa sedikit asam ketika dicoba. Setelah berdiskusi dengan pihak terkait dan melakukan studi banding, akhirnya pilihan jatuh kepada varietas anggur asal Ukraina.
Sejak berdirinya, sudah sebanyak 35 varietas anggur yang coba dibudidayakan di Kampung Anggur Munjul. Namun hingga kini hasil panen belum dijual secara luas karena petani anggur masih menghimpun masukan dari para pengunjung terkait rasa yang paling banyak mendapatkan respon positif.
Untuk menambah nilai jual, pihaknya juga sudah berencana memasarkan bibit dan mengolah produk turunan dari buah anggur saat musim panen tiba, mulai dari produksi manisan hingga jus anggur dalam kemasan seperti yang turut dipamerkan kepada awak media, di lokasi pelaksanaan rebranding Si Manis Munjul.
Lukman berharap keberadaan Kampung Anggur Munjul dapat menjadi sarana edukasi dan menginspirasi generasi muda agar mau ambil bagian di bidang pertanian, meski harus berhadapan dengan keterbatasan lahan di wilayah perkotaan. Apa lagi sarana yang diperlukan cukup dengan pemanfaatan pekarangan rumah, dan masa panen yang tergolong pendek.
"Rata-rata buah bisa dipanen dalam waktu 3 bulan sejak waktu pemangkasan ranting dilakukan," imbuhnya.
Jonathan Ezra Widjaya, mahasiswa LSPR Institute of Communication and Business Jakarta Batch 26 sekaligus Ketua Kampanye Si Manis Munjul menjelaskan kepada askara.co bahwa program rebranding Si Manis Munjul yang digagas pihaknya merupakan sebuah upaya dalam mewujudkan pembangunan masyarakat secara keberlanjutan dan memperkenalkan Kampung Anggur Munjul ke lingkup yang lebih luas.
Melalui serangkaian workshop, para mahasiswa LSPR mengedukasi warga agar produk asal kampung mereka dikenal lebih luas, termasuk dengan memaksimalkan media sosial.
"Kami juga berharap program kerja sama ini dapat dilanjutkan pula oleh adik-adik kelas kami," tutup Jonathan.

Komentar