Kamis, 09 Juli 2026 | 11:26
COMMUNITY

Peh Cun, Tradisi Tionghoa Menghormati Qu Yuan yang Heroik

Peh Cun, Tradisi Tionghoa Menghormati Qu Yuan yang Heroik
Tanggal 31 Mei 2025 Perayaan Peh Cun, tradisi Tionghoa menghormati Qu Yuan yang heroik (Dok Pemkot Singkawang)

ASKARA – Setiap tanggal 5 bulan 5 dalam penanggalan Imlek, masyarakat Tionghoa di berbagai daerah di Indonesia memperingati Peh Cun, sebuah tradisi kuno yang sarat makna sejarah dan spiritualitas. Perayaan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap Qu Yuan, seorang bangsawan sekaligus penyair terkemuka dari zaman Dinasti Chu sekitar tahun 340 SM.

Qu Yuan dikenang sebagai tokoh nasionalis yang sangat mencintai negerinya. Ketika negeri Chu berada di ambang kehancuran karena intrik politik, ia memilih mengasingkan diri dan menulis puisi-puisi patriotik. Legenda menyebut, karena tak sanggup melihat bangsanya hancur, Qu Yuan akhirnya mengakhiri hidupnya dengan terjun ke Sungai Miluo.

Warga yang mencintainya berupaya mencari jasadnya dengan mendayung perahu dan melemparkan bungkusan nasi (yang kini dikenal sebagai bacang) ke sungai agar ikan tidak memakan tubuhnya. Dari situlah tradisi Festival Peh Cun atau Duanwu Jie bermula.

Hingga kini, Peh Cun diperingati dengan berbagai kegiatan budaya seperti lomba perahu naga, pembuatan bacang, serta doa-doa penghormatan kepada leluhur. Di Indonesia, kota-kota seperti Singkawang, Medan, dan Pontianak rutin menggelar perayaan ini sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal.

Tradisi Peh Cun bukan hanya mengenang Qu Yuan, tetapi juga menjadi simbol semangat cinta tanah air, kesetiaan, dan penghormatan terhadap nilai-nilai luhur. Di tengah keberagaman Indonesia, tradisi ini menambah warna dalam harmoni budaya Nusantara.

 

Komentar