Ijazahmu Tertinggal di Loteng, Damkar Siap Jadi Dosen Cadangan!
ASKARA - Ijazah adalah secarik kertas sakti. Di negeri kita, kadang ia lebih dihormati daripada akal sehat, lebih dipuja daripada integritas, dan lebih ditakuti daripada deadline cicilan. Namun ketika ijazah hilang, entah tercecer di tumpukan koran lama, terselip di dalam Al-Qur’an yang cuma dibuka saat syarat nikah, atau nyempil di plafon rumah, kita bisa lebih panik daripada saat pulsa habis pas lagi PDKT. Dan lucunya, ujung-ujungnya… minta bantuan damkar!
Ya, damkar. Si pemadam kebakaran. Para pahlawan dengan selang dan semangat, kini ditarik jadi detektif ijazah. Sungguh ironi yang manis-manis getir, antara birokrasi dan akrobat administrasi. Karena di negeri ini, ijazah yang 'ngumpet' bisa lebih sulit dicari daripada pasangan yang setia.
Damkar: dari Padamkan Api Hingga Panjat Loteng
Mari kita mulai dari absurditas realita. Kenapa bisa-bisanya ijazah hilang sampai harus manggil damkar? Karena rupanya, masyarakat kita sudah percaya bahwa satu-satunya pihak yang benar-benar peduli dengan jeritan rakyat… ya cuma damkar. Polisi sibuk razia knalpot, Satpol PP sibuk ngejar pengamen, sementara damkar? Mereka siap dikerahkan untuk hal-hal paling absurd: mengevakuasi kucing, mengambil ponsel dari selokan, sampai… ambil ijazah dari plafon yang dihuni tokek dan debu sejarah.
Anekdotnya begini: suatu hari ada pemuda bernama Darto yang hendak melamar kerja. Tapi syaratnya harus bawa ijazah asli. Dia cari-cari, sampai geser lemari yang udah nempel ke tembok kayak paku bumi, bongkar kasur gulung, bahkan sampai buka dus Indomie yang isinya ternyata skripsi bekas temannya. Gak ketemu juga. Sampai akhirnya ibunya nyeletuk, “Itu kayaknya di atas loteng, bareng koper waktu kamu mudik tahun 2016.” Dan loteng itu, pemirsa, sudah beralih fungsi jadi gudang jenglot, kalajengking, dan mungkin mantan-mantan yang terasing.
Maka dipanggillah damkar. Bukan untuk padamkan api. Tapi untuk menjangkau mimpi. Mimpi dapat kerja dengan syarat: ijazah!
Sebuah Kritik Untuk Dunia yang Terlalu Kaku pada Selembar Kertas
Fenomena ini harusnya membuat kita bertanya: mengapa selembar kertas bernama ijazah bisa jadi alat ukur utama? Apakah karakter seseorang bisa diringkas dari cap basah dan tanda tangan dekan? Apakah semangat kerja, etos tanggung jawab, dan kecintaan pada profesi tak bisa ditimbang dari proses dan karya nyata?
Kita hidup di zaman di mana orang bisa belajar coding dari YouTube, membangun bisnis dari TikTok, bahkan belajar filsafat dari meme. Tapi lowongan kerja tetap minta "Minimal S1, diutamakan S2, bisa Excel, loyal, siap ditekan, dan tidak mudah menangis." Coba bayangkan betapa ironisnya ini. Kita menyembah ijazah, tapi sering melupakan isi kepala.
Mungkin kita terlalu malas menggali kompetensi, jadi kita pakai ijazah sebagai stempel cepat. Padahal banyak yang punya ijazah tapi tak punya kemampuan, seperti punya SIM tapi nabrak tiang bendera waktu mundur. Di sisi lain, banyak juga yang tak punya ijazah, tapi menghidupi orang lain dengan karya nyata. Mereka tak lulus akademik, tapi lulus kehidupan.
Negara Jangan Cuma Bergantung Pada Damkar untuk Semua Masalah Warga
Panggilan-panggilan lucu ke pemadam kebakaran seharusnya jadi alarm bahwa negara belum hadir dengan sistem bantuan publik yang manusiawi dan multifungsi. Damkar memang sigap, tapi tak seharusnya jadi tumpuan untuk segala hal dari “anak tersangkut kursi lipat” sampai “bapak kehilangan SIM di sumur tua”.
Bayangkan, jika tiap keluhan warga ditangani damkar, maka mereka bisa jadi kementerian sendiri: Kementerian Urusan Kebuntuan Rakyat.
Dan jujur saja, para petugas damkar itu manusia. Kadang mereka juga bingung. “Saya latihan turun dari gedung terbakar, tapi sekarang malah naik plafon cari ijazah. Ini saya pemadam atau penerima SK pendidikan alternatif?”
Solusi Konyol yang Mungkin Bisa Dipertimbangkan
1. Layanan Damkar Edukasi
Bentuk satuan tugas khusus Damkar-Edu, fokus menangani ijazah, raport, dan dokumen akademik yang tertinggal di balik tembok kehidupan.
2. Aplikasi ‘IJAZAHku’
Semua ijazah disimpan digital dan bisa diakses lewat cloud. Mau apply kerja tinggal scan retina dan… voila! Tapi hati-hati, nanti kalo mantan ngakses juga, bisa tahu kamu cuma lulus remedial.
3. Reformasi Administrasi
Tekankan bahwa kompetensi dan pengalaman jauh lebih penting daripada sekadar ijazah. Jangan cuma rekrut dari IPK tinggi, tapi juga dari IPK pas-pasan yang punya portofolio melebihi KPI bosnya.
4. Kampanye Nasional: “Ijazahmu, Tanggung Jawabmu!”
Edukasi sejak dini bahwa menyimpan ijazah di lemari es bukanlah tindakan bijak. Apalagi nyelip di plafon. Bukan karena takut bocor, tapi takut jadi bahan candaan se-RT.
Antara Plafon dan Harapan
Jadi, ketika kita membaca tulisan seperti di gambar: “Jalan terakhir untuk bisa menemukan ijazah yang tak terlihat itu adalah meminta bantuan damkar,” jangan cuma tertawa. Tertawa boleh, tapi mari juga berpikir. Ini bukan semata sindiran konyol, tapi cermin retak dari sistem yang terlalu menggantungkan masa depan pada selembar kertas, tanpa melihat isi kepala dan kualitas rasa.
Karena sejatinya, ijazah itu hanya tiket masuk. Tapi pertunjukan hidup adalah soal siapa yang bisa memainkannya dengan sepenuh hati, bukan siapa yang paling banyak koleksi sertifikat.
Kalau kamu masih simpan ijazah di loteng, mulai hari ini: turunlah sebelum damkar datang. Dan jika kamu petugas damkar yang baca ini, terima kasih, Pak. Suatu saat, mungkin Bapak juga yang bantu cari akta kelahiran yang nyangkut di atas pohon mangga.

Komentar