Senin, 24 Agustus 2026 | 16:30
OPINI

Perubahan Pendidikan bagi Peserta Didik untuk Menyiapkan Diri di Dunia Kerja: Pembelajaran Berbasis Keterampilan

Perubahan Pendidikan bagi Peserta Didik untuk Menyiapkan Diri di Dunia Kerja: Pembelajaran Berbasis Keterampilan
Dr. Elinda Ruzkasari, S.Pd., M.Pd (Dok Pribadi)

Oleh: Dr. Elinda Rizkasari, S.Pd., M.Pd

ASKARA – Memasuki tahun 2025, terjadi pergeseran dalam dunia pendidikan menuju pembelajaran berbasis keterampilan. Pergeseran ini muncul sebagai respons terhadap fenomena yang telah lama dipahami oleh para orang tua, yaitu anggapan bahwa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan jalur pendidikan bagi siswa yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi.

SMK selama ini dianggap sebagai sekolah yang mempersiapkan siswa agar dapat langsung bekerja setelah lulus. Fenomena "bedol desa" pun terjadi di kalangan lulusan SMP yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, menjadikan SMK sebagai pilihan utama. Padahal, anggapan ini kurang tepat, karena siswa SMK juga memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Sebaliknya, Sekolah Menengah Atas (SMA) sering dianggap sebagai jalur pendidikan yang hanya diperuntukkan bagi siswa yang berencana melanjutkan ke perguruan tinggi. Namun, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa lulusan SMK lebih cepat mendapatkan pekerjaan dibandingkan lulusan SMA. Rata-rata, lulusan SMK hanya membutuhkan waktu 0–2 bulan untuk memperoleh pekerjaan.

Salah satu faktor utama yang menyebabkan perbedaan ini adalah kurikulum SMK yang telah dirancang untuk membekali siswa dengan keterampilan kerja sesuai jurusannya. Fenomena "bedol desa" pun berdampak pada penurunan minat siswa untuk bersekolah di SMA, khususnya bagi mereka yang tidak berencana melanjutkan ke perguruan tinggi.

Upaya Menyelaraskan Pendidikan SMA dengan Dunia Kerja

Untuk mengatasi kesenjangan ini, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada tahun 2024 mulai mengembangkan model pembelajaran berbasis keterampilan di SMA. Tujuannya adalah agar lulusan SMA tetap memiliki daya saing di dunia kerja, terutama bagi mereka yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi.

Namun, implementasi pembelajaran berbasis keterampilan di SMA menghadapi berbagai tantangan. Penyesuaian kurikulum, pelatihan guru, serta sistem penilaian keterampilan yang lebih kompleks menjadi beberapa kendala yang harus diatasi. Selain itu, ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan program ini.

Dunia kerja yang terus berkembang menuntut keterampilan baru, seperti pemikiran kritis, kreativitas, kolaborasi, dan literasi digital. Sejalan dengan itu, banyak negara mulai merancang kurikulum yang lebih menekankan pada pengembangan keterampilan abad ke-21.

Dampak Positif Pembelajaran Berbasis Keterampilan

Tingginya angka pengangguran lulusan SMA dibandingkan lulusan SMK menjadi tantangan yang harus segera diatasi. Penerapan pembelajaran berbasis keterampilan di SMA diharapkan dapat meningkatkan kesiapan siswa dalam menghadapi dunia kerja setelah lulus.

Keunggulan pembelajaran berbasis keterampilan terletak pada fleksibilitasnya, yang memungkinkan penerapan di berbagai bidang dan mata pelajaran. Pendekatan ini tidak hanya membekali siswa dengan keterampilan teknis, tetapi juga mendorong pertumbuhan pribadi dan profesional, meningkatkan rasa percaya diri, kepuasan kerja, serta kemampuan beradaptasi di lingkungan kerja.

Dengan diterapkannya model pembelajaran ini, diharapkan lulusan SMA memiliki kompetensi yang lebih baik dan mampu bersaing dengan lulusan SMK dalam dunia kerja. Hal ini terbukti dengan masih dibukanya formasi CPNS bagi lulusan SMA dan SMK pada tahun 2024. Selain itu, diharapkan tingkat pengangguran lulusan SMA dapat menurun dan waktu tunggu mereka untuk mendapatkan pekerjaan menjadi lebih singkat.

Kesimpulan

Pembelajaran berbasis keterampilan menjadi solusi bagi dunia pendidikan dalam menyiapkan peserta didik menghadapi tantangan dunia kerja. Dengan landasan kompetensi yang kuat, siswa tidak hanya mendapatkan wawasan akademik, tetapi juga keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan.

Lebih dari itu, stigma bahwa lulusan SMA kurang siap bersaing di dunia kerja perlu diminimalisir. Dengan kurikulum yang lebih adaptif dan berbasis keterampilan, lulusan SMA akan memiliki peluang yang lebih besar dalam dunia kerja maupun pendidikan tinggi.

Penulis:
Dr. Elinda Rizkasari, S.Pd., M.Pd
Dosen Prodi PGSD, Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta

Komentar